Konten dari Pengguna

Sinergi Climate Budget Tagging dengan Instrumen Hijau untuk Pendanaan Iklim

Diva Alyssa
Mahasiswa di Politeknik Keuangan Negara STAN
20 Agustus 2025 13:31 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sinergi Climate Budget Tagging dengan Instrumen Hijau untuk Pendanaan Iklim
Climate Budget Tagging (CBT) jadi strategi fiskal hijau Indonesia. Sinergi dengan green bond & teknologi digital dorong pendanaan iklim lebih transparan, inovatif, dan berkelanjutan.
Diva Alyssa
Tulisan dari Diva Alyssa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Menjaga Bumi dengan CBT (By admin)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Menjaga Bumi dengan CBT (By admin)
ADVERTISEMENT
Perubahan iklim merupakan sebuah perubahan kondisi suhu dan cuaca di Bumi dalam jangka panjang. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada suhu, cuaca ataupun sistem biologis, namun juga berdampak kondisi sosial masyarakat (Rafly et al., 2023). Karena dampak dari perubahan iklim ini, maka diperlukan upaya untuk bisa memitigasi perubahan tersebut. Berdasarkan (Maulidiyah & Akhmadi, 2024) diketahui bahwa terdapat 195 negara yang menyepakati dan berkomitmen dalam menghadapi perubahan iklim melalui reduksi emisi gas, termasuk negara Indonesia. Salah satu komitmen pemerintah dalam penanganan perubahan iklim adalah dengan Climate Budget Tagging (CBT). Climate Budget Tagging merupakan salah satu upaya dukungan dari Kementerian Keuangan dalam memitigasi dan adaptasi perubahan iklim, yaitu dengan proses penandaan dalam anggaran pemerintah.
ADVERTISEMENT
Dilansir dari mediakeuangan.kemenkeu.go yang ditulis oleh (Saptati, 2024) dijelaskan bahwa terdapat delapan jenis tema dalam tagging tematik APBN dan dua diantaranya adalah tagging anggaran mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Dijelaskan lebih lanjut bahwa anggaran mitigasi perubahan iklim digunakan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan stabilisasi sosial, sedangkan anggaran adaptasi perubahan iklim untuk mengurangi kerugian akibat perubahan iklim. Dalam hal ini CBT memberikan manfaat bagi pemerintah. Dengan CBT, pemerintah dapat mengidentifikasi, melacak, dan melaporkan alokasi belanja yang relevan dengan iklim secara lebih transparan dan akuntabel. Namun, tantangan fiskal yang semakin kompleks mendorong perlunya sinergi CBT dengan sumber pembiayaan kreatif, diantaranya menurut (UNDP, 2023) adalah green bond, green sukuk, dan blue bond yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
ADVERTISEMENT
Namun, penerapan CBT menghadapi kendala fiskal, sehingga perlu ditopang oleh instrumen pembiayaan kreatif. Dalam pendanaan perubahan iklim yang sangat besar, APBN tidak dapat menanggung sendirian. Oleh karena itu, diperlukan kombinasi pembiayaan lainnya. Kolaborasi antara CBT dan green bond/sukuk dan blue bond dapat menciptakan peluang sinergi yang kuat. Hal ini sesuai dengan laporan Kementerian Keuangan Indonesia yang dipresentasikan dalam forum Coalition of Finance Ministers for Climate Action yang disajikan oleh (Rulliadi, 2019) yang menunjukkan bahwa proses CBT ini membantu pemerintah memulai instrumen keuangan inovatif seperti Green Bond dan Green Sukuk. CBT dapat membantu mengidentifikasi kegiatan yang perlu dibiayai sesuai dengan kriteria keberlanjutan dan iklim yang ketat, sehingga dapat memastikan bahwa kegiatan tersebut memang layak untuk dibiayai dengan instrumen hijau. Kemudian, dengan penerbitan green bond/sukuk dan blue bond dapat membantu kegiatan tersebut agar berjalan dengan optimal, karena salah satu permasalahan dalam penerapan CBT terletak pada aspek fiskal. Dengan CBT ini, kegiatan-kegiatan yang dibiayai dengan penerbitan green bond/sukuk dan blue bond dapat meningkatkan kredibilitas laporan iklim pemerintah, memperluas basis investor, dan mendorong transparansi penggunaan dana.
ADVERTISEMENT
Selain kendala fiskal, hal penting yang juga menjadi tantangan dalam penerapan Climate Budget Tagging adalah kapasitas sumber daya manusia di tingkat pusat maupun daerah. Aparatur perlu memiliki pemahaman yang memadai terkait klasifikasi belanja mitigasi dan adaptasi, indikator dampak iklim, hingga tata cara menautkan CBT dengan skema pembiayaan kreatif. Kurangnya kapasitas SDM ini bukan hanya isu dalam CBT, tetapi juga terlihat pada instrumen pembiayaan lain. Misalnya, penelitian oleh (Abdi Patu & Akhmadi, 2021) menemukan bahwa dalam penyiapan proyek KPBU Kereta Api Makassar–Parepare, PJPK menghadapi kendala berupa minimnya pemahaman terhadap konsep KPBU. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tantangan serupa sangat mungkin terjadi pada penerapan CBT di daerah, apabila tidak disertai dengan upaya peningkatan kapasitas aparatur. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas SDM merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan CBT. Strategi penguatan Climate Budget Tagging adalah fokus pada output dan dukungan teknologi digital yang dapat diakses dengan mudah oleh SDM terkait. Oleh karena itu, pemahaman terkait CBT perlu diperluas dan diperkuat. Dalam memperkuat pemahaman dan kapasitas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dapat digunakan dengan perancangan aplikasi digital untuk e-learning.
ADVERTISEMENT
Di era yang serba canggih ini, digital menjadi inovasi yang dapat membantu dan memahami sebuah pembelajaran. Dengan aplikasi e-learning ini dapat memudahkan aparatur pemerintah dalam mengakses pengetahuan terutama terkait CBT dimanapun. Aplikasi pembelajaran daring yang dirancang khusus untuk CBT dapat membekali aparatur pemerintah dengan pengetahuan tentang kriteria kegiatan hijau, indikator dampak iklim, dan bagaimana merancang proyek yang bankable secara lingkungan maupun keuangan. Modul-modul seperti klasifikasi kegiatan mitigasi/adaptasi, kerangka kerja logis output-outcome, hingga simulasi pengajuan pembiayaan kreatif akan mempercepat kesiapan lembaga publik dalam mengakses sumber pembiayaan tersebut.
Selain pembelajaran berbasis digital, diperlukan juga sebuah one platform yang mengintegrasikan perencanaan dan penganggaran berbasis iklim secara lintas kelembagaan. Melalui integrasi ini, pemerintah dapat memastikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya sesuai dengan RPJMN dan NDC tetapi juga layak untuk dibiayai dengan menggunakan instrumen hijau. Kemudian, dengan adanya one platform ini, pengawasan akan lebih mudah dilakukan karena seluruh informasi dapat diakses dalam satu platform terpadu.
ADVERTISEMENT
Setelah pemahaman dari aparatur pemerintah baik di kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah sudah terbentuk terkait CBT ini dan kemudian integrasi one platform sudah berjalan, langkah selanjutnya adalah menautkan sistem ini dengan mekanisme pembiayaan kreatif. Dengan dukungan sistem tagging berbasis output, pemerintah pusat dan daerah dapat mengajukan pembiayaan inovatif untuk proyek hijau, tidak hanya melalui penerbitan obligasi negara (green sukuk/bond dan blue bond), tetapi juga melalui kerja sama dengan mitra pembangunan, skema Result-Based Lending (RBL), maupun blended finance dengan investor swasta. Kemudian, kegiatan-kegiatan yang telah memenuhi kriteria untuk dibiayai dengan instrumen hijau dan biru dapat ditampilkan secara publik dalam one platform tersebut, sehingga investor baik swasta maupun internasional dapat mengaksesnya. Transparansi ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan terhadap kegiatan yang direncanakan.
ADVERTISEMENT
Climate Budget Tagging menjadi langkah strategis bagi Indonesia dalam memastikan bahwa kebijakan fiskal selaras dengan agenda mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Meski menghadapi kendala fiskal dan keterbatasan kapasitas SDM, sinergi CBT dengan instrumen pembiayaan kreatif seperti green sukuk, green bond, dan blue bond membuka peluang mobilisasi pendanaan yang lebih luas dan transparan. Dukungan teknologi digital melalui e-learning dan integrasi one platform lintas lembaga semakin memperkuat kesiapan aparatur dalam mengelola anggaran iklim secara efektif. Dengan penguatan ini, CBT tidak hanya berperan sebagai alat administratif, tetapi juga sebagai fondasi penting untuk mewujudkan pembangunan nasional yang hijau, berketahanan, dan berkelanjutan.