• 4

USER STORY

Anna Karenina, di Desember yang Feminin

Anna Karenina, di Desember yang Feminin


Anna Karenina di panggung epik Alexstep Ratmansky. Foto: roh.org.uk
Keluarga bahagia mirip satu dengan lainnya, keluarga tak bahagia tidak bahagia dengan jalannya sendiri-sendiri~ Leo Tolstoy, Anna Karenina I (2007)
Kotaku, Padang, sedang giatnya mendiskusikan segala isu yang berhubungan dengan perempuan. Di Shelter Utara, sedang digelar pemutaran film secara maraton. Sementara kota tetangga, Padang Panjang, Dapur Kultur menggelar pula diskusi selama beberapa hari. Temanku, Nancy Hendry from Mande Kultur, turut ambil bagian dalam kegiatan itu. Dia membawakan materi soal perempuan dan kesehatan mental.
Secara umum, simpul kegiatan di dua lokasi berbeda ini mungkin saja (belum aku konfirmasi ke panitia) merupakan bagian dari Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence). Suatu upaya dari mereka yang masih menyisakan kewarasan untuk menekankan satu hal: segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, sudah saatnya dihentikan.
Aku kenal beberapa pegiatnya, maupun narasumber (kegiatan di Dapur Kultur). Masih wajah lama, kok. Selain beberapa NGO yang memang fokus tentang perempuan, jumlah personal yang merasa isu tersebut penting untuk dibicarakan di Desember yang lembab ini, masihlah bisa dihitung dengan jari.
Bukankah ironi, kawanku, persoalan yang sudah menjadi buah bibir di dunia internasional justru dianggap angin lalu di kotaku. Tentu kegiatan ini juga tak menarik bagi media setempat. “Ah, berita kering. Tak ada ‘pacaknya’.”
Di kota yang masyarakatnya selalu dikondisikan oleh wacana kebelet masuk surga, isu perempuan soal sepele. Ini soal kecil, kecil saja, yang tak perlu digembor di sana sini. Barangkali akan keluar tanduk teman-teman Feminis mendengar kalimatku barusan.
Aku malang betul tak dapat mengikuti semua kegiatan itu. Rabu dan Kamis, aku mengikuti kelas bahasa Inggris. Dengan sendirinya tak bisa ikut nonton di Shelter. “Uda Bajok (pegiat Shelter Utara), aku minta salinan film yang diputar di Shelter, ya,” begitu caraku menebus kesalahan.
Bagaimana dengan Padang Panjang? Selain doa supaya kegiatan itu aman lancar, tak ada lagi yang bisa dilakukan diri ini. Sebab, dari tempatku, Padang Panjang berjarak 80-90 km. Butuh kenekatan yang luar biasa untuk sampai ke sana.
Lagi pula, aku sedang terkena sindrom indekos. Berjarak dari kos-kosan, membuat badanku meriang, demam, dan sakit kepala. Alasannya simpel, indekos adalah myspace, sementara tak ada apa pun di dunia luar sana selain air mata (kok melo gini, sih). Dalam suara lirih, aku benarkan sikap yang telah lebih dulu dipilih oleh Eri Mefri, pegiat kebudayaan, “Akan aku bangun peradaban kusendiri.”

Il maschio e la femmina. Foto: wikipedia.org
Di Desember yang feminin, untuk tetap berada satu barisan dengan teman-teman yang sedang bergiat, aku memfokuskan bacaan pada hal yang sebangun dengan tema. Sekedar keisengan saja oleh orang yang tengah berada dalam kelemahan iman dan taqwa. Pilihan jatuh pada Leo Tolstoy, Anna Karenina.
Anna karenina I (2007), sudah memasuki halaman empatratus. “Sebentar lagi tamat,” pikirku. Mbak Anggi, salahseorang editor Kumparan, menulis tentang Anna Karenina dan menghubungkannya dengan tragedi yang menimpa akun facebook Dinihari-yang mengakhiri hidup di lintasan keretaapi.
Mbak Anggi memulai narasinya dengan riskan: selalu ada Anna Karenina dalam hidup ini, demikian katanya. Aku mendebat Anggi, dengan hanya fokus pada akhir cerita, di mana Anna, juga Dinihari, meregang nyawa di rel kereta. Tidak disebutkan, dalam konteks apa kegiatan itu dilakukan. Kalaupun ada, bahasanya masih sulit kumengerti, yakni depresi.
Bagi yang membaca Anna Karenina, depresi tersebut bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ia adalah akibat dari dinginnya pernikahan dengan suaminya, Aleksei Aleksandrovich. Delapan tahun yang membuat Anna percaya bahwa hidupnya memang tak harus bergelora.
Apa lacur, ketika datang ke Petersburg, menjadi juru damai pernikahan kakak lelakinya (Oblonskii) yang sedang “cakak besar”, Anna bertemu Vronskii, seorang gipsi yang dalam cerita selanjutnya membuat berantakan rumah tangganya. Tragedi Anna dimulai di kereta (bertemu Vronskii) dan berakhir di lintasan rel. Suatu tragedi kemanusiaan yang dengan ciamik dikarang oleh Tolstoy, si pria berjanggut lebat.
Memang, membaca Anna tidak bisa sepenuhnya beririsan dengan tema kekerasan terhadap perempuan. Anna Karenina selamanya soal sikap, mentalitas. Soal kepatutan dan ketidakpatutan yang keduanya bagian belaka diri manusia. Sebagian orang memilih ingkar dari itu, tapi Anna malah menyongsongnya: selamat datang “kepundan”.
Saya memilih membaca novel 500an halaman itu lebih dikarenakan jenuh-untuk tak menyebutnya muak-terhadap artikel propaganda yang ditulis teman-teman di lini maya. Menyadarkan pihak-pihak yang laknat terhadap perempuan tidak harus sekonyol itu.
Perjalanan panjang untuk membuat manusia menjadi beradab tidak boleh diandaikan sektoral. Ia harus menjadi kekhawatiran umum. Kamu tidak bisa mereduksi perempuan menjadi isu kelompokmu, atau kroni-kronimu (kalau untuk kepentingan proyek, ya monggo). Bahwa kemudian ada orang yang tidak peduli, bukan berarti mereka juga luput dari persoalan.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. Foto: dailytelegraph.com
Lelaki yang menghajar dan memukuli pacarnya tidak tersangka an sich. Dalam kacamata akademik, lelaki itu juga korban, korban dari luputnya pengetahuan akan kemanusiaan. Kalaupun tahu, boleh jadi ia menganggap pengetahuan itu sebagai berita koran belaka. Atau malah korban dari suatu pergaulan hidup yang hanya menempatkan perempuan sebagai tempat crot. Mungkin itu yang kausebut patriarki.
Urusan perempuan adalah urusan laki-laki, dan begitu juga sebaliknya. Jika diawali dari permusuhan dan menempatkan perempuan vis a vis dengan laki-laki, maka timpanglah kemanusiaan kita. Kemanusiaan hanya akan menjadi satu, mankind is one, ketika perempuan dan laki-laki menjadi unsur dari tali jiwa, yang kemudian menjadi simpul dari seluruh lini pergaulan hidup (coba baca lagi Sarinah, Soekarno).
Sekarang, maumu apa? Membenahi simpulnya, sistem pergaulan hidupnya, atawa hanya ingin mensarkas-sarkaskan, mencemeeh, atau menghujat orang-orang yang tertuduh telah melakukan kekerasan terhadap perempuan?
Semua kekerasan harus dilawan, aku sepakat poin itu. Dunia akan sangat tidak happy jika disertai keinginan untuk saling melenyapkan.
Tapi, how? Barangkali di tahap “how “ itulah semua silang pendapat berada. Aku memilih jalan yang melelahkan. Pelan-pelan ngobrol dengan mereka yang tak tersentuh samasekali oleh pidato para Feminis.
Jika ia lelaki, selalu kutanya, apa arti pacar bagimu? Begitu juga dengan teman perempuan. Aku bilang, selain tubuh, apa lagi yang kauandalkan untuk berhubungan dengan orang lain? Ketika kita gagal mengeksploitasi pikiran, maka tubuh adalah satu-satunya yang tersisa dalam berhubungan. Dapat diterka, hubungan semacam itu biologis semata sifatnya.
Untuk yang memiliki orientasi seksual unik, aku tekankan bahwa ia sangat mungkin berpeluang untuk terus mengasah kemanusiaannya. Pada temanku yang gay, selain selangkangan cowok, apa lagi hal yang menjadi minatmu, kawanku? Apa tidak mungkin kamu membangun relasi yang sehat dengan dunia? Apa tidak mungkin kamu menseriusi akademikmu dan meyakinkan masyarakatmu untuk melihatmu sebagai pelajar yang baik? Lihat Ong Hok Ham, masyarakat lebih mengenalnya sebagai sejarawan ketimbang menyinyiri orientasi seksualnya.
Sementara bagi temanku yang lesbi, aku tidak berkata apa-apa. Sebab, sejauh ini memang belum ada kesempatan untuk berkenalan.
Poinnya, berpidato dihadapan orang-orang yang tiap hari mengikuti isu terkini tentang perempuan, tidak akan membantu banyak. Sementara pihak lain yang sering disindir tidak tersentuh pengetahuan. Kukira, di situlah kerja keras kita semua mesti dimulai.
Maafkan aku, pembaca yang baik. Tulisan ini gagal untuk berada dalam satu lokus sudut pandang. Selain itu, butuh minat dan ketabahan untuk membaca tulisan yang melebihi seribu kata, dan ditulis pula oleh orang yang bukan siapa-siapa, Patriarkis lagi. Hahaha Tabik. (*)


Anna KareninaPerempuanPersonal

presentation
500

Baca Lainnya