Opini & Cerita17 September 2020 18:49

Darah Daging II (Part 17)

Konten kiriman user
Darah Daging II (Part 17) (59266)
Ilustrasi anak kecil menyeramkan, dok: pixabay
“Mah, kakang, Deni sama Kevin yang berangkat duluan, tunggu kabar ke bi Isoh nanti kakang kabarin yah. Bu, buat nenek tenang dulu yah. Bibi kalau ada apa-apa nanti aku suruh Kardi ke sini,” ucap ayah dengan tegas.
ADVERTISEMENT
Setelah menunggu tidak lama, teman ayah tiba dengan menggunakan mobil, segera aku, Ayah dan mang Deni menuju rumah sakit kota, sekitar setengah jam lebih perjalanan.
Sampai di rumah sakit, langsung bergegas ke ruangan UGD. Sudah ada Yudi, istri mang Darma, Lisa dan Dewi anak-anak mang Darma.
Ayah tidak henti-hentinya menenangkan istri mang Darma, sementara aku menenangkan Lisa dan Dewi. Mang Deni dan teman ayah hanya duduk dan seolah tidak percaya kecelakaan yang menimpah Darma.
Dari raut muka mang Yudi, jelas terlihat ketidakenakanya kepada ayah menyapapun tidak, tapi dasar memang ayah sangat bijaksana yang menyapa mang Yudi duluan.
“Pertemuan yang tidak seharusnya, ayah dan adik-adiknya harus berjumpa dalam kondisi seperti ini, tapi ini aku yakin tidak lepas dari rencana sang pencipta dengan segala kuasanya,” ucapku dalam hati.
ADVERTISEMENT
Mang Yudi menjelaskan, Darma baru saja pulang dari luar kota bertemu dengan rekan bisnisnya, mungkin kurang istirahat, di salah satu jalan hutan sebelum masuk kota, sepertinya mang Darma mengantuk dan hilang kendali, terjadilah kecelakaan dekat belokan tajam itu.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/qwertyping]
Aku hanya memperhatikan dengan baik apa yang diceritakan Yudi, karena Yudi orang pertama yang di telepon oleh istri Darma setelah mendapatkan informasi dari pihak berwajib yang tiba di lokasi kecelakaan.
Segera ayah menemui Dokter yang menangani mang Darma, ayah mengurus segalanya. Setelah keluarga boleh dipersilahkan melihat keadaan mang Darma, aku dan ayah yang pertama. Benar-benar aku tidak tega, kondisi muka nya hampir banyak luka entah kenapa bisa seperti itu.
ADVERTISEMENT
Bahkan dokterpun menyayangkan, bagian kepala mang Darma yang harus seperti itu, setelah pembersihan luka dan lain-lain, mang Darma dipindakan ke ruangan inap. Aku di sini melihat sosok ayah yang menjadi kakak sebenarnya mengesampingkan apa yang telah diperbuat oleh mereka.
Hampir jam 20:00 malam ini selsai mengurusi semuanya. Terlihat sekali ayah bertangung jawab kepada orang yang benar-benar ingin ayah menderita, ada pengecualian mungkin karena adik, walau aku adalah anak yang masih belum bisa sebijaksana itu.
Darah Daging II (Part 17) (59267)
Ilustrasi mobil hancur, dok: pixabay
“Den kita ke kantor pihak berwajib, mengurusi mobil Darma, biarkan di sini ada Yudi ini,” ucap ayah sambil pamit kepada Istri dan anak-anak Darma.
“Baik Kang, aku belum kasih kabar apapun kepada orang di rumah,” jawab mang Deni.
ADVERTISEMENT
“Kasih kabar sekarang, buat mereka tenang jangan kalimat yang membuat mereka khawatir yah Den,”
Aku melihat mang Deni mengabari bi Isoh, memberikan kabar sesuai apa yang disuruh Ayah. Mang Deni terlihat berbicara dengan serius.
Setelah selsai telepon, segera aku, Ayah, mang Deni dan teman Ayah menuju kantor pihak berwajib di mana mobil mang Darma berada untuk mengurusi segala hal.
“Den kondisi Darma seperti itu, bukanya apa-apa Kakang merasa berdosa selama kakang sudah di rumah nenek, tidak pernah datang ke rumahnya, bahkan memberi kabarpun tidak. Mamah soalnya pernah bilang, kondisinya belum memungkinkan setelah kejadian kemarin itu,” ucap Ayah yang duduk di depan, samping kemudi mobil.
“Tidak apa-apa kang, mau gimana lagi benar apa kata nenek, lagian itu bukan sepenuhnya salah kakang, tapi apa kata dokter kang barusan?,” tanya mang Deni.
ADVERTISEMENT
Aku hanya memperhatikan dan mendengarkan apa yang mang Deni dan Ayah obrolan saja, sambil mengingat kondisi luka dan keadaan mang Darma yang memang benar-benar parah.
“Kata dokter, mudah-mudahan malam ini juga Darma bisa melewati masa kritisnya, bagian kepala belakang dan Dada bagian yang parahnya den, secara medis hanya itu yang dijelaskan, makanya nanti sekalian mengurus segala hal di kantor pihak berwajib kakang mau minta penjelasanya,” jawab Ayah dengan serius.
Darah Daging II (Part 17) (59268)
Ilustrasi dirawat, dok: pixabay
Sekitar 15 menit perjalanan dari Rumah Sakit menuju Kantor pihak berwajib, setelah tiba Ayah, mang Darma dan Teman ayah masuk ke dalam, aku hanya diam menunggu di luar. Lumayan lama ayah tiba-tiba memanggilku, dan mengajak ke samping kantor.
“Kasian kamu sendiri Vin, ayo ikut saja, ayah mau lihat kondisi mobilnya.” ucap Ayah.
ADVERTISEMENT
Segera aku mengikuti langkah ayah dan satu petugas dari pihak berwajib. Setelah melihat kondisi bagian depanya yang memang sangat dan benar-benar hancur, sembari tidak hentinya petugas itu menjelaskan dengan sangat logis.
Tiba-tiba aku kaget dan teringat lagi kondisi mobilnya hampir sama dengan apa yang pernah aku lihat sebelumnya, hari di mana aku merasakan sakit kepala sore itu, setelah kedatangan Darma dan Yudi ke rumah nenek untuk mengambil berkas-berkas tanah yang sudah lama mereka inginkan.
Bahkan aku ingat kembali ke kejadian mimpi pertama waktu perjalan ke rumah nenek dengan Darma dalam mimpi itu kejadianya sama tabrakan.
Dan tidak tau kenapa, bisa secara kebetulan lokasi tabrakan mang Darma sama dengan dalam mimpiku sekitaran hutan, walau aku tidak membernarkan lokasinya sama.
ADVERTISEMENT
Heh Vin kenapa jadi melamun?,” tanya Ayah.
“Hah gimana yah, kaget aku?,” ucapku.
“Kamu malah melamun, ayo kita pulang,” ucap Ayah.
Aku mengikuti langkah ayah dan petugas itu berjalan
“Yah sebentar,” ucapku yang masih belum jauh dari mobil mang Darma itu berada.
“Kenapa lagi Vin?,” tanya Ayah.
“Sore di mana mang Darma dan Yudi datang aku kan sakit kepala,” ucapku dengan memandang ke arah mobil Darma.
“Iyah Deni cerita sama ayah, lalu?,” tanya Ayah.
“Lalu, aku melihat mang Darma datang dengan sosok nenek dan Yudi dengan sosok anak kecil, aku tidak tau kenapa melihat mobil mang Darma yang terparkir dengab mobil Yudi kondisinya sama hancurnya dengan sekarang. Walau tidak sama-sama amat, lalu sebelum aku berangkat dari rumah aku di perjalanan mimpi kecalakaan dengan mang Darma, lokasinya hampir sama hutan seperti itu sama seperti penjelasan petugas barusan yah,” ucapku menjelaskan dengan pelan.
ADVERTISEMENT
“Iyah pak Kiai sudah cerita sama ayah dan ayah percaya hal itu, tapikan Vin kejadianya itu sudah lama, Ayah tidak menyalahkan mimpi kamu dan tidak membenarkan bisa saja itu hanya kebetulan yah sudah, jangan dipikirkan jadinya kamu ketakutan seperti itu,” ucap Ayah menenangkan.
Bersambung...
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white