Entertainment
·
23 November 2020 20:43

Demit Politik (Part 2)

Konten ini diproduksi oleh Dukun Millenial
Demit Politik (Part 2) (586525)
Ilustrasi hantu, dok: pixabay
Sosok tersebut berusaha meraih badanku sambil diiringi senyumnya yang mengerikan itu seolah ingin memberikan suatu pesan kepadaku dan abangku.
ADVERTISEMENT
Tiba-tiba ketika tangannya akan memegang pundakku, sosok tersebut kembali mundur seolah melihat yang ia takuti. Tidak lama kemudian dari lantai satu menuju lantai dua terdengar suara seseorang seperti berlari.
"Jangan dekat-dekat kamu dengan anakku!" teriak seorang bapak paru baya yang ternyata itu adalah ayahku.
"Ahhh kau lagi dasar kau mengganggu saja," ucap sosok itu.
Ayahku langsung menarik pundak kedua anaknya itu dari belakang dan mengajak kami berdua pulang. Sosok tersebut seolah tak terima dan pergi perlahan dan wuuuuush saja ia terbang entah ke mana.
"Na, bangun na solat Subuh hey," ucap seseorang membangunkan tidurku.
Suara ayah membangunkanku, ternyata kejadian itu hanya mimpi tapi anehnya sangat seperti nyata sekali. Aku tidak berpikir aneh-aneh saat itu dan lanjut bangun dari kasurku dilanjutkan dengan menunaikan kewajiban di pagi hari.
ADVERTISEMENT
"Aduh," ucapku seperti menginjak sesuatu barang yang lembek dan anyep basah entah apa itu.
Kulihat ke bawah dan telapak kakiku, tak ada apa pun terus kulanjutkan berjalan ke kamar mandi. Pagi itu ibu sudah selesai dengan solatnya dan sedang membaca Al-quran.
Pagi itu hari Jumat, aku lalui dengan santai karena memang Jumat kerjaanku tidak terlalu padat. Aku bersama Ayah dan Ibu sarapan bersama karena pagi itu ada si Mbok yang keliling jualan lontong.
Sambil menyantap makanan, kami bertiga juga sambil ngobrol santai membahas tentang kehidupan saja, kadang ibu juga menyelipkan pesan bahwa kita sebagai manusia harus menjunjung tinggi kesopanan dan etika karena ibu yakin kedua hal itu akan selalu berguna di semua lokasi.
ADVERTISEMENT
Selesai sarapan tersebut aku langsung bergegas mengeluarkan motorku lalu dipanaskan mesinnya, sambil menunggu kendaraan siap, aku menyapu kembali lantai bekas motor itu lewat.
Kulanjutkan agendaku pagi itu dengan mandi dan setelah siap aku pamit kepada kedua orang tua ku itu yang masih duduk di teras depan dan melanjutkan topik obrolan lainnya.
Jam 8:30 aku bertolak ke kantorku lancar aman dan selamat sampai tujuan pada jam 9:10 an lah. Seperti yang kubilang, jumat tidak terlalu padat alhasil aku hanya setor muka saja di kantor.
Hari itu aku lalui kerjaanku dengan biasa saja normal tanpa ada halangan apa pun. Jam 1 siang setelah Jumatan aku buka hp dan mencoba mengirim pesan kepada bang Yaya supaya memastikan saja apakah agenda malam ini akan jadi atau tidak.
ADVERTISEMENT
"Jadi bang malem ini?," tanyaku singkat.
"Jadi Na, jam 9 an aja yah," jawab Yaya.
"Oke bang siap," timpalku.
Singkat cerita waktu berjalan begitu saja tanpa ada kendala apa pun. Setelah aku tahu jadwal agenda tempurku malam ini jam 9 malam, aku persiapkan semuanya secara matang mulai dari pembersihan badan dan istirahat yang cukup.
Sehabis solat Magrib aku berangkat dari kantor untuk menuju radio tempat siaran kawanku, Akmal. Sudah biasa memang aku datang ke radio tersebut hanya untuk sekadar menemaninya siaran.
Kusiapkan semua perlengkapan mulai jaket, sarung dan ikat kepala. Kunyalakan motorku supaya dia siap diajak berkelana malam ini, waktu menunjukkan pukul 18:45, dan cusss aku meluncur ke tempat Akmal.
ADVERTISEMENT
"Halo brader, lemes amat lu gak kayak biasanya," ucap sapaku sambil menepuk pundak Akmal.
"Iya nih bro gua kurang istirahat keknya," ucapnya.
"Istirahat lah gawe mulu kaya enggak, kesehatan itu utama Mal," timpalku sambil menuju ruangan smooking area.
"Yaudahlah jangan banyak bacot lu ahh, nih ngopi dulu sambil sebat bentar lagi gua on air," jawab canda Akmal.
Demit Politik (Part 2) (586526)
Ilustrasi siaran, dok: pixabay
Sambil menunggu Akmal siaran, aku biasanya nongkrong di dapurnya sambil sebat dan ngopi. Saat sambil menikmati sebatang rokok dan segelas kopi susu, tiba-tiba hp ku bergetar tanda ada pesan masuk.
"Dimana Na?," pesan Yaya pada pukul 21:05.
"Di tempat Akmal bang, nemenin dia siaran sambil santai, gimana nih gue udah boleh merapat belom ke rumah bos lu?,"
ADVERTISEMENT
"Oh gitu, ntar aja jam setengah sepuluhan yah, beliau masih rapat dulu," ucap Yaya.
Ini membuatku bisa lebih leluasa merokok dan lanjut ngopinya, Akmal masih sibuk dengan siarannya. Biar kujelaskan sedikit agar lebih memahami, jadi aku akan melakukan kegiatan mediasi di rumah bosnya Yaya yang sedang ikut kontestasi di sebuah kota, sebelumnya aku pernah juga dipanggil untuk bermediasi, dan ini adalah kegiatan kali ketiga yang kurasa juga memiliki kejadian yang sangat luar biasa efeknya kepada tubuhku.
Jam 9:28 malam aku berangkat dari kantor Akmal yang memang tak jauh dari lokasi tujuanku yakni rumah bosnya Yaya.
"Mal, gua cabut dulu yah dipanggil bang Yaya nih gua," pamitku kepada Akmal.
"Lah gua kira lu mau balik bareng gua, emang ada apaan Na?,"
ADVERTISEMENT
"Kagak ada apa-apa,"
"Halah paling juga setan-setanan lagi kan lu?," celetuk Akmal.
"Heheh, iya Mal, katanya sih mau mediasi lagi," jawabku.
"Yaudah hati-hati bray jangan gegabah lah ngeri," tutup Akmal.
Aku berangkat ke lokasi medan perang yang lumayan agak jauh, yaaa sekitar 15 menit dari radio. Aku mengendarai motorku dengan santai dan penuh kehati-hatian, maklum belum lama ini aku sempat mengalami kecelakaan ketika malam hari jadi agak trauma gitu.
Saat aku sudah sampai di depan rumah bosnya Yaya (pak Bos) aku langsung mengabari Yaya,
"Bang gue udah di depan rumah,"
"Oke gue bukain gerbangnya," jawab Yaya.
Rumah pak bos ini bukan main luasnya, jika dilihat dan diukur mungkin bisa muat untuk 2 sampai 4 lapangan futsal, besar sekali. Juga tidak sembarangan orang bisa masuk ke rumah ini, aku bisa masuk lewat Yaya karena Yaya ini orang kepercayaan pak bos dan menjadi juru foto pribadinya.
ADVERTISEMENT
Tidak lama setelah kumenunggu, kulihat Yaya keluar dari gerbang besar tersebut dan membukakan gerbang khusus jalur motor. Orang kaya memang, gerbang saja sampai dispesifikasi untuk jalur kendaraan yang berbeda. Yaya dengan sigap membuka gerbang motor seolah seperti rumahnya sendiri lalu setelah terbuka aku mulai memasukan motorku.
"Kalo udah dimasukin ntar keluar lagi yaa kita sebat dulu di depan," ucap Yaya yang meminta ditemani merokok sejenak, karena memang di dalam rumah bos tidak leluasa merokok.
Kuparkirkan motorku berbaris rapi dengan motor lainnya sekitar 5-6 lah kalo tak salah mungkin itu timses di bos yang bawa motor. Setelah parkir, aku keluar gerbang balik menuju depan rumah yang sudah ada Yaya menungguku sambil menyalakan sebatang rokok mentolnya.
Demit Politik (Part 2) (586527)
Ilustrasi motor, dok: pixabay
"Sehat Na?, gue kira kemaren tuh lu lagi di sini,"
ADVERTISEMENT
"Sehat bang, iye bang kemaren tuh lagi pengin balik aja kangen emak gue hahaha," jawabku.
Yaya hanya manggut-manggut saja seolah sudah paham soal keseharianku,
"Kita santai dulu di sini, si Aa (bosnya) lagi rapat dulu sama tamunya," kata Yaya sambil terus merokok.
"Oke bang kalem santai malam ini keknya bakal panjang," celetukku ntah kenapa.
Bersambung...