Entertainment
·
14 Januari 2021 18:48

Dendam: Bercak Darah (Part 14)

Konten ini diproduksi oleh Dukun Millenial
Dendam: Bercak Darah (Part 14) (129324)
Ilustrasi dendam, dok: pixabay
Setelah itu kemudian aku bicara kepada nek Raras untuk pamit, dan Nek Raras minta untuk dibukakan gorden kamarnya dan menyuruh aku jangan mematikan lampu kamarnya. Bapak masih saja berdiri dan menatap kosong ke arah nek Raras yang terbaring di ranjang tempat tidurnya.
ADVERTISEMENT
Segera aku keluar dan bapak yang menutupkan pintu.
“Kasihan, banyangkan sudah dengan waktu yang cukup lama nek Raras terbaring dengan sakitnya itu, sesekali bangun hanya duduk menatap jendela itu juga harus dibantu sama bi Inah,” ucap pak Joni, sambil berjalan menuruni tangga denganku.
Aku tidak menjawab hanya mengangukan kepala saja, karena perasaan yang sama untuk sebuah kepedulian yang sudah aku lihat, benar-benar selama ini rasa penasaran itu perlahan terjawab oleh keadaan.
“Ini keluarga dari nek Raras, ini ayahnya ini ibunya nek Raras, anak satu-satunya Nek Raras itu dan kemudian ini kakeknya De sita dari Ibu Sekar istri saya yang meninggal muda Pur,” ucap pak Joni.
“Masih ada seperti keturunan Belanda yah De sita juga pak, apalagi ibu juga mirip dengan Nek Raras,” ucapku sambil memeperhatikan foto yang sebelumnya sudah aku lihat, ketika mau mengantarkan makanan ke kamar nek Raras.
ADVERTISEMENT
“Iya jelas Pur, bapaknya nek Raras itu Belanda keturanan seperti itu, dan soal cerita yang semalam saya ceritakan di jaman inilah Ayu meninggal ketika sedang berkerja untuk nek Raras yang sebelumnya berkerja untuk bapak dan Ibunya nek Raras yang ini,” ucap pak Joni menunjukan ke arah foto yang sebelumnya memang menarik perhatianku.
“Jadi Ayu itu dari muda kerja dengan bapak dan ibunya nek Raras, kemudian setelah meninggal dua-duanya karena tidak wajar, kemudian Ayu kerja dengan Nek Raras bareng dengan Ibunya bi Inah sebagai tukang cuci sementara Ayu tukang memasak dan ibunya bi Inah lah saksi bagaimana perlakuan tidak wajar kepada Ayu, apalagi suaminya nek Raras yang sama kejamnya, itu yang terakhir bapak dengar,” ucap pak Joni sambil menjelaskan menunjuk satu persatu orang yang pak Joni bicarakan.
ADVERTISEMENT
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/qwertyping]
Aku hanya menganggukan kepala, tanda mengerti. Dan memang bukan waktu yang sebentar apalagi jika saksi yang bapak dapat adalah ibunya bi Inah yang sudah sama meninggal, benang merahnya sangat kusut, pikirku sambil berpikir.
Dan tidak tahu kenapa memang benar-benar membuat aku sedih, walau hanya cerita yang belum sama sekali jelas “apa ada kaitanya dengan sakitnya nenek,” masih saja pikiran anehku berkata seperti itu dan itu jelas tidak boleh karena berperasangka buruk kepada nek Raras, walau gangguan dan sosok wanita yang sama sudah aku lihat. Dan omongan dari Abah soal Dendam.
“Kenapa kamu jadi melamun Pur, sudah bilang saja sama bi Inah jangan buatkan makan untuk saya, nanti saja saya makan di luar sambil mau berjumpa dengan kawan.
ADVERTISEMENT
Kamu siapkan mobil yang biasa saya gunakan di sini, kasian mobil itu jarang dipakai. Eh itu bekas darah yang kamu bersihkan dari luka Nenek?,” tanya pak Joni, terlihat heran yang memang tisu-tisu yang akan kubuang berada di atas bekas baki yang sudah aku lapisi lagi dengan tisu bersih.
“Iya pak baik, iya pak bekas darah dari luka nenek,” ucapku sama heranya dengan pak Joni.
Tidak ada jawaban apapun lagi dari bapak, hanya menggelangkan kepala berkali-kali. Kemudian aku ke berjalan ke arah dapur melewati ruang tengah rumah dengan masih sama kekagumanku terhadap rumah ini.
Aku melihat bi Inah sudah bangun dan duduk di meja makan, hanya melamun dengan tatapan kosong. “bi aku baru saja selesai,” ucapku langsung duduk di hadapan bi Inah.
ADVERTISEMENT
Tanpa ada jawaban sama sekali dari bi Inah dan aku juga masih saja diam, bingung dengan sikap bi Inah dan lebih bingungnya lagi dengan lamunan bi Inah yang seperti ini.
“Bibi kenapa jadi melamun begitu,” tanyaku.
“Semalam bibi mimpi dijambak sama nek Raras kemudian bagian muka bibi di gores sama gunting dan bibi menangis sejadi-jadinya,” ucap bi Inah sambil menatap kosong.
“Lalu bi,” tanyaku karena sepertinya bi Inah akan berbicara hal lainnya.
“Lalu entah kenapa Ibu bibi almarhum yang menyelamatkan bibi, kemudian sisanya aneh, bibi jadi ingat sama almarhum ibu bibi Pur,” ucap bi Inah langsung melihat ke arahku.
“Sudahlah bi, ibu bi inah mungkin minta didoakan saja sama bibi,” ucapku menenangkan suasana.
ADVERTISEMENT
“Iya Pur, sepertinya begitu... itu darah dari bekas luka Nek Raras?, banyak sekali baru kali ini bahkan bibi melihatnya,” ucap bi Inah kaget melihat ke arah tisu-tisu yang sudah menumpuk.
Lalu aku menjelaskan, membersihkan lukanya berkali-kali, tidak tahu kenapa dari yang asalnya sudah bersih kemudian tiba-tiba ada lagi, terus menerus begitu saja. Dan aku bilang juga jangan masak karena bapak mau makan di luar kepada bi Inah.
Tidak lama aku buang bekas tisu-tisu yang penuh dengan darah itu ke tong sampah depan rumah, sekalian membuka garasi mobil. Aku masih heran, masa iya ini adalah darah paling banyak yang pernah bi Inah lihat, sementara dia mengurus nenek sudah dengan waktu yang tidak sebentar.
Dendam: Bercak Darah (Part 14) (129325)
Ilustrasi darah, dok: pixabay
Segera aku siapkan mobil yang akan digunakan bapak hari ini, posisi mobil dalam garasi memang bagian ujung, di belakang mobil terdapat kursi yang sebelumnya sudah membuat aku ketakutan dengan segala kejadian aneh yang sudah aku alami.
ADVERTISEMENT
“Bagaimanapun kursi ini, mungkin beberapa benda yang pernah jadi saksi,” ucapku.
Sepagi ini tidak pernah sama suasananya jika dibandingkan dengan malam sangat berdeda. Setelah selesai menyiapkan mobil dengan segalanya, aku kembali beristirahat dan mulai melihat bi Inah melakukan aktivitasnya, walau sangat jelas badanya masih lemas sekali.
“Bi nanti bapak pergi, kita ke dokter berobat aku yang antar,” ucapku sambil mendekat pada bi Inah.
“Tidak usah Pur, nanti nenek sendiri, tidak apa-apa siangan dikit juga bibi sembuh,” ucap bi Inah kemudian duduk di meja makan.
“Yasudah kalau masih belum membaik aku belikan saja obat yah bi,” ucapku perlahan.
Tiba-tiba muka bi Inah semakin pucat, tidak tahu kenapa, tatapanya masih saja kosong seperti memikirkan sesuatu.
ADVERTISEMENT
“Sudah tahukan sekarang kondisi nek Raras seperti apa Pur?,” tanya bi Inah.
“Iya bi tahu, kasihan sekali nek Raras harus mengalami sakit seperti itu,” jawabku.
“Entah kenapa bibi masih kepikiran soal mimpi itu, tidak seperti biasanya,” ucap bi Inah dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba aku teringat mimpi yang sama dengan bi Inah di awal kedatangku ke rumah ini, yang awalnya aku anggap mimpi itu hal yang biasa, kemudian Abah dan sekarang bi Inah.
“Apa gara-gara mimpi itu bibi jadi sakit seperti ini juga yah pur,” tanya bi Inah.
“Enggaklah bi, memang bibi kecapean aja kali, butuh istirahat bi sudah jangan mikir kemana-mana yah bi yang tenang bibinya,” ucapku menangkan bi Inah.
ADVERTISEMENT
Bagaimana bisa aku menyuruh bi Inah supaya tenang jangan mikir kemana-mana malah sekarang aku yang berpikir kemana-mana soal mimpi-mimpi itu. Tidak lama bi Inah berdiri.
“Iya Pur, kayanya bibi perlu istirahat saja ini yah, bibi ke kamar lagi dulu aja yah, kalau mau makan kamu buat sendiri yah,” ucap bi Inah kemudian berjalan menuju kamar.
Kemudian aku memasak untuk makan aku sendiri, tidak lama bapak menyapku menanyakan soal mobil, bapak berangkat lebih awal katanya ada keperluan mendadak terlebih dahulu, dan bapak juga berpesan kalau malam ini bakalan pulang dengan ibu.
“Bilang ke bi Inah jangan paksakan kalau sakit, nanti bapak sama ibu makan di luar saja tidak apa-apa yah,” ucap bapak.
ADVERTISEMENT
Kemudian aku tinggalkan masakanku, untuk mengeluarkan mobil bapak terlebih dahulu, sampai di garasi dengan bapak, aku melihat bapak menatap hal yang sama kepada kursi yang terdapat di pojokan garasi itu.
“Sudah tahu soal kursi itu Pur?,” ucap pak Joni yang masih mematung melihat ke arah kursi itu.
Dendam: Bercak Darah (Part 14) (129326)
Ilustrasi kursi horpr, dok: pixabay
“Belum pak kenapa memangnya?,” jawabku.
Memang aku tidak benar-benar tahu soal kursi itu, hanya kata bi Inah dulunya itu di kamar nek Raras, hanya sampai itu ketauanku soal kursi itu.
“Dulunya, kursi itu dari rumah nek Raras kemudian pindah ke sini dibawa, itu kesayangan kursi ibunya nek Raras dulu kemudian jadi kursi yang sering digunakan nek Raras sebelum sakit, tapi...” ucap pak Joni kemudian berhenti.
ADVERTISEMENT
“Tapi kenapa pak?,” tanyaku semakin penasaran.
“Setelah sakitnya menginjak 6 bulan di rumah ini, nek Raras sering teriak-teriak sambil menunjuk kursi itu kemudian dipindahkanlah dan disimpan di sini, saya selalu yakin ada hal lain soal segalanya tentang nek Raras, tapi kuasa tetap ada di istri saya itu ibunya, bukan ibu saya Pur, selalu jadi pertengkaran hebat saya dan istri saya ketika membahas soal nek Raras,” ucap pak Joni.
Bersambung...