Entertainment
·
21 April 2021 19:43

Kerja Malam: Sopir Taksi (Part 3)

Konten ini diproduksi oleh Dukun Millenial
Kerja Malam: Sopir Taksi (Part 3) (344992)
Ilustrasi kerja malam, dok: pixabay
Kami pun kembali bekerja dalam suasana was-was dan kengerian yang dirasa. Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 4 pagi, kami pun menyudahi pekerjaan dan bersiap untuk pulang.
ADVERTISEMENT
Seharian saya habiskan dengan tidur dan istirahat. Sore menjelang para pekerja lain nampak merasa was-was dengan insiden semalam, mereka yang takut meminta kepada pak Mus untuk mengambil jatah bekerja pada siang hari.
Akhirnya pak Mus mengumpulkan kami semua untuk briefing seputar pekerjaan. Briefing dibuka dengan kabar baik dari kondisi Able yang sudah membaik, mungkin hanya beberapa hari lagi Able bisa kembali bekerja.
Pak Mus juga tidak memaksakan keinginan kata pekerjanya, maka dibuatlah 2 shift jam kerja untuk kami. Shift siang dan malam dan saya memilih untuk mengambil shift malam karena memang tidak tahan jika terlalu lama terkena panas matahari.
Anggota pun dipecah dalam beberapa tim, saya bersama Roni sepakat mengambil shift malam. Setelah lepas jam 9 malam saya bergegas untuk absen di kantor dan mencari makanan serta beberapa makanan ringan untuk dibawa nantinya dalam pekerjaan.
ADVERTISEMENT
Rasa takut dan was-was tentu ada namun jika mengambil shift siang pasti itu lebih mengerikan selain panas tentu karena arus dalam jalan tol yang sedang padat-padatnya. Saya bersama pekerja yang lain mulai bersiap berangkat ke tempat kemarin yang kami datangi karena memang masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/demozyen]
Lampu sudah di nyalakan, rambu sudah terpasang, api pembakaran sudah sesuai ketentuan, cat sepanjang 5 Kilo Meter tugas yang harus kami selesaikan malam ini.
Susana memang masih ramai karena tol ini adalah jalan tol paling padat di Indonesia, yap bisa dibilang begitu karena jalan ini merupakan penghubung menuju gemerlap ibu kota.
Malam ini agak bergeser lumayan jauh dari tempat kemarin namun masih dalam suasana yang sama, gelap dan hanya hutan di pinggiran jalan namun semua nampak normal tak ada hal yang aneh dirasa.
ADVERTISEMENT
Saya sekarang hanya berdua bersama Roni, Roni yang pendiam memang menjadi kendala ketika saya ingin berbincang santai denganya. Sekedar memecah ketegangan yang dirasa sedari tadi. Saya berada di barisan depan pada saat itu karena memang saya mempercepat pekerjaan namun tentu dengan hasil yang maksimal.
Tak banyak membuang waktu, ketika sedang berfokus bekerja terlihat dari arah belakang mobil taksi menabrak rambu-rambu pekerja. Semua yang di belakang berlari ke arah depan menghindari laju mobil yang seperti hilang kendali, bahkan ada yang sampai menghindar ke arah jalan sebelah.
Setelah menabrak beberapa rambu mobil taksi salah satu maskapai terkenal tersebut pun berhenti. Mas Anton yang memang berada dekat dengan mobil segera menghampiri sang sopir.
ADVERTISEMENT
Kaca digedor dengan perasaan marah tentunya karena memang membahayakan kami semua, sang supir membuka kaca samping kemudinya, sang supir yang berusia paru baya terlihat gemetar bahkan untuk berbicara pun tergagap.
Kerja Malam: Sopir Taksi (Part 3) (344993)
Ilustrasi taksi, dok: pixabay
Pak Mus juga segera menghampiri sang sopir menyodorkan minuman supaya pak supir lebih tenang perasaanya. Setelah lebih tenang pak sopir pun bercerita sewaktu dia mengendalikan mobilnya terlihat kain putih turun ke bawah dari kejahuan dan menghalangi laju mobilnya.
Pak sopir pun membanting setir ke kanan sehingga menghantam rambu-rambu yang kami pasang. Saya yang mendengar hal tersebut segera mengajak Roni menjauh menghisap sebatang rokok sekedar untuk menjernihkan pikiran atas apa yang sudah terjadi.
Sementara para pekerja lain membetulkan rambu ke posisi semula, kami semua sejenak beristirahat untuk sekedar beristirahat dan menenangkan tubuh dan fikiran. Entah kenapa waktu terasa sangat lama, kami pun memulai pekerjaan tepat jam 12 malam.
ADVERTISEMENT
Kini arus kendaraan nampak sedikit lengang, saya beedoa dalam hati meminta perlindungan kepada-NYA tuhan pemilik semua. Sekarang saya hanya fokus sambil sesekali mengajak Roni berbicara.
Hanya tinggal bebrapa ratus meter lagi pekerjaan saya selesai karena dirasa masih lama waktu untuk mengakhiri bekerja pada malam ini saya pun memutuskan untuk beristirahat di bawah jembatan.
Saya mengajak Roni untuk sekedar memakan bekal yang kami bawa, sedang tengah asik makan saya mencium bau sangit seperti kabel yang terbakar, ahh sial apa lagi ini.
Tak hanya saya, Roni pun mencium bau tersebut, saya mencari sumber dari mana bau ini berasal hingga saya mematung terdiam untuk sekejap karena melihat orang tengah merangkak di bawah beton jembatan.
Kerja Malam: Sopir Taksi (Part 3) (344994)
Ilustrasi jembatan, dok: pixabay
Sosoknya begitu kurus dengan rambut panjangnya, saya pun memalingkan pandangan segera mengajak Roni untuk meninggalkan area ini.
ADVERTISEMENT
"Ron pindah ajah yu," pintaku padanya.
Roni yang tak mengetahui akan sosoknya sedikit mengelak karena sedang asik menikmati makanannya.
"Lah ada apa sih, lagi enak makan ini,"
"Udah ayo pindah saja," saya sedikit memaksa.
Nampaknya Dengan berat hati Roni pun menuruti dan segera pindah dari area bawah jembatan yang melintang di atas jalan tol ini. Dirasa sudah jauh dari area jembatan kami pun kembali melanjutkan makan, bodo amat dengan hal tadi, urusan perut sudah tidak bisa di tawar lagi.
Setelah selesai makan dan menghabiskan sebatang rokok kami pun melanjutkan pekerjaan hingga saat yang di nanti tiba. Terlihat mobil kami sudah memajukan langkahnya pertanda pekerjaan kami sudah usai dengan sedikit cepat dari hari biasanya.
ADVERTISEMENT
Kami pulang pukul 03 malam, saya istirahat dulu karena memang besok harus bekerja, Matur kesuwun, perjalanan pulang dilalui tanpa kendala. Setibanya di kantor saya langsung absen dan segera pulang ke rumah kontrakan.
Bersambung...