kumparan
search-gray
Entertainment2 Agustus 2020 20:52

Laut Kematian (Bagian 3)

Konten kiriman user
Laut Kematian (Bagian 3) (215884)
Ilustrasi laut kematian, dok: pixabay
Kereta gaib itu melintas dan mengawang di atas laut tepat di depan perahu om gue yang melintas dari kanan ke kiri perahunya. Setelah gerbong penarik, atau kepala kereta, di belakangnya bukan gerbong penumpang melainkan wahana komedi putar yang ada kuda-kudaan nya. Om gue bilang lampunya banyak banget, dan gak ada keliatan wujud manusia satu pun, tapi kosong begitu aja.
ADVERTISEMENT
Kejadian melintasnya kereta gaib itu juga cepet banget, tidak sampai 1 menit langsung lenyap seketika, namun suara klaksonnya masih terdengar jelas.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/janganditanya__]
Setelah benar-benar semuanya hilang, hal yang tak kalah menyeramkan terjadi, saat itu ada suara yang memanggil om gue, dengan suara yang teriak-teriak, dan pas om gue ceritain ini seluruh orang yang ada di kedai kopi pangkalan semuanya terdiam, gue sendiri merinding banget waktu itu, gue juga ngeliat wajah pucat alm om gue ini saat menceritakannya.
Karna ketakutan, om gue buru-buru angkat kail nya, nelayan di kampung mama gue mancing ikan itu gak pake joran, tapi cuma pake gulungan yang terbuat dari kayu. Setelah menggulung kail om gue lekas menghidupkan mesinya.
ADVERTISEMENT
Saat om gue ngengkol mesin nya itu dia harus menghadap ke belakang, dan ternyata saat om gue menghadap ke belakang om gue ini melihat posisi perahu dan dirinya sudah ada di tepian pantai, kira-kira 100 meter dari pantai.
Di sini om gue shock banget, dia sampe terdiam karna logikanya dengan jaraknya yang jauh dari tepian harus nya dia butuh tenaga mesin dengan kecepatan 80km/jam dan waktu kurang lebih 2-3 jam untuk sampai kedaratan.
Laut Kematian (Bagian 3) (215885)
Ilustrasi kapal nelayan, dok: pixabay
Karena dalam keadaan takut om gue menghidupkan mesin dan berjalan menuju pulang, dan om gue jalanin kapal nya dengan pelan sambil melewati tepian pantai, alhasil dia pulang gak bawa apa-apa.
Nah saat dia cerita di kedai kopi pangkalan, ada salah satu pengepul ikan yg lain yang bilang, katanya kalau ada masalah di rumah jangan mengumpat di alam apalagi di laut, kadang ada makhluk yang dengar dan gak suka, dan orang itu bilang ke om gue
ADVERTISEMENT
"kalo kamu ada masalah di rumah, terus hati kamu berat untuk pergi ke suatu tempat yang kamu tuju, mending gak usah di lanjutin, karena pasti ada aja yang terjadi,"
Selesai om gue bercerita, 3 tahun berlalu, dan gue juga banyak mengalami kejadian janggal yang gue alami tentang pantai, dan laut, tibalah satu hari di mana kejadian yang menyayat hati keluarga tante dan keluarga besar gue.
Di hari itu om gue gak tau kenapa dia selalu diam, dan gak seperti biasanya, om gue ini boleh dibilang gemar bercerita, atau kalo bahasa kampung gue, gila berciloteh.
Alm om gue ini gak ada masalah apa-apa di rumah, gak sedang ribut juga sama tante, tapi yang gue liat auranya itu beda banget, di siang itu dia sibuk banget menyiapkan kail dan umpan buat melaut malam, tapi hari itu dia seperti menggebu-gebu ingin cepat-cepat pergi melaut.
ADVERTISEMENT
Nah di hari itu om gue gak seperti biasanya dia gak tidur selepas maghrib, melainkan minta gue nganterin dia ke perahunya buat pergi melaut, sesampai nya di perahu gue bantuin buat manasin mesin perahunya, terus naruh es di fiber ikanya, dan lagi-lagi di sini perasaan gue benar-benar gak enak melihat tingkahnya, karena sesemangat apapun dia ga bakal pergi melaut secepat ini.
Jam setengah 8 gue bantuin dia dorong perahunya ke air, setelah berangkat dengan perahunya, gue gak langsung pulang, tapi gue melihat arah dia ini pergi dengan tanda lampu switch nya kedap-kedip.
Laut Kematian (Bagian 3) (215886)
Ilustrasi nelayan, dok: pixabay
Setelah dilihat kedipan lampunya hilang, gue bergegas pulang dengan perasaan yang gak enak, pas mau tidur gue sempet nanya sama anak om gue.
ADVERTISEMENT
"Bang om hari ini kok cepat ya pergi ke laut nya, dan dari siang dia diam aja," tanya gue.
"Oh mungkin biar dapat ikan yang banyak, kayanya biasa aja bapak aku," jawab abang gue ini.
Aku pikir ada yang janggal di rumah om gue ini, karena satu rumah gak ada yang sadar sama gelagat om gue hari itu. Besok nya seperti biasa pulang sekolah gue nungguin om pulang di pangkalan.
Jam 2 gue udah mangkal di kedai kopi biasa tempat dimana gue nungguin nelayan-nelayan pulang, sampai jam 5 sore gue menunggu dari semua nelayan yang balik, cuma om gue yang belum balik, gue sampai bertanya-tanya sama nelayan lainya apa mereka melihat om gue atau enggak.
ADVERTISEMENT
Ada beberapa orang yang melihatnya di pagi hari dan om gue masih mancing ikan, ada juga yang beranggapan kalau om gue bakal nginap di laut dan balik nya besok, tapi pikiran gue kacau banget hari itu, karena kemarinnya gue lihat dia beda banget.
Jam 6 gue pulang niat hati mau sholat magrib, dan gue berencana akan kembali menunggu om gue di pangkalan setelah sholat, dari pangkalan gue gas motor gue arah pulang ke rumah, sesampai nya di rumah....
Bersambung...
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white