Entertainment
·
30 Juli 2021 20:26
·
waktu baca 5 menit

Pabrik Tahu Keluarga: Menggali Informasi (Part 9)

Konten ini diproduksi oleh Dukun Millenial
Pabrik Tahu Keluarga: Menggali Informasi (Part 9) (354428)
searchPerbesar
Ilustrasi bangunan rusak, dok: pixabay
Beberapa pegawai dan Bibi yang membungkus tahu sudah pada pulang, yang terakhir bi Tarmi masih saja membereskan barang-barang lainya, aku bangkit yang niatnya untuk mendekat ke pohon jati kedua dari arah gerbang dan kobakan pembuangan, niat itu aku urungkan karena kejadian di tempat kayu sudah membuat aku sangat takut. Segera aku berjalan ke arah bi Tarmi.
ADVERTISEMENT
“Belum pulang bi?” tanyaku.
“Belum den, bibi biasanya nebeng ikut ke mang Abi kalau pulang,” jawab bi Tarmi singkat.
“Oh iya, aman tapi bi buat pengiriman hari ini?” sambungku.
“Aman den, ini catatanya, biasanya bibi kasih ke bapak atau ke mang Ujang karena sekarang aden yang di sini, yaudah bibi kasih ke aden aja,” jawab bi Tarmi.
“Iya bi makasih, bibi silahkan istirahat bi,”
“Den…apa bibi salah liat? Tadi aden kenapa diam di luar dekat motor lama sekali?” tanya bi Tarmi.
“Di luar? Bibi liat aku di luar sana bukan?” jawabku sambil menunjuk ke arah halaman parkiran.
“Iya den, di sana sekali dekat motor aden, tapi bibi panggil-panggil gak nengok sama sekali,” sahut bi Tarmi.
ADVERTISEMENT
Kejadianya sama dengan Rini awal mula datang sebelum mangrib ke pabrik ini di hari pertama kepulanganku, bahkan Rini melihat mang Ujang ada dua.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/qwertyping]
Hal-hal seperti ini walau termasuk sudah lebih dua kali aku alami gangguan dari penghuni lain di pabrik ini tidak membuat aku semakin tenang, masih saja ketakutan dan tidak tenang ada dalam diriku.
Dari sini aku melihat, mang Toha, mang Deden, Jajang, Bagus dan Agus sedang membereskan satu persatu ke dalam motor inventaris, untuk nantinya mengirim juga sekitar dua jam lagi dan beberapa pegawai lainya yang sudah beres satu persatu pamit padaku, karena memang aku sedang memeperhatikan aktivitas mereka.
Aku sekarang benar-benar mencoba memahami tempat ini, walaupun aku bagian dari keluarga pemilik pabrik, tatap saja sama bagi mereka penghuni yang tak kasat mata itu, aku adalah baru.
ADVERTISEMENT
Memang untuk memahami dengan penghuni di sini aku sadar, logika saja dan pemikiran tidak serta merta cukup. Andai saja aku tidak memiliki niatan baik pada usaha keluargaku ini, aku akan memilih menghabiskan liburan kali ini, dengan berpergian, tentunya.
Aku berjalan balik untuk membangunkan mang Abi ke teras belakang, ternyata mang Abi sudah bangun, dan pamit padaku untuk segera siap-siap dan aku iyahkan, karena jam sudah hampir pukul 02:00 dini hari, sekarang.
Pabrik Tahu Keluarga: Menggali Informasi (Part 9) (354429)
searchPerbesar
Ilustrasi malam berkabut, dok: pixabay
Aku menyalakan rokok, sambil berjalan mendekati apa yang dikatakan Rini, menuju pohon jati ke dua sebelah kobakaan, dekat dengan tanaman-tanaman milik Ibu ini.
Tidak bohong jam segini dengan suasana seperti ini, cepat sekali membuat bulu pundaku merinding, suasanya tidak bisa aku gambarkan. Aku hanya berjalan berkeliling, dan berhenti di kobakan besar pembuangan ini, kobakan ini berjalan menuju sungai besar utama.
ADVERTISEMENT
“Apa memang jaman dulu kakek sudah merencankan tempat ini sedemikian rupa,” anehnya suasana di sini makin tidak masuk akal, tiap angin yang datang, cukup membuat aku semakin tidak mau lama-lama diam di sini.
“Kepluk!” ada yang melempar sesuatu ke tengah kobakan pembuangan ini, segera aku balikan badan, tidak ada siapa-siapa, aku putusakan berjalan menuju mereka, yang sedang memuat tahu.
Lagi-lagi ada yang meniup dua telingaku, ini membuat aku harus mengambil langkah cepat, karena ketakutan. Melewati teras kembali, kucing yang pernah aku tanyakan ke mang Abi ada lagi, sedang melihat aku dengan tajam. hal apa lagi ini!!!
Jujur ini membuat aku lelah, lelah sekali malam ini, malam pertama ini, dan aku sadar ini karna ulahku sendiri.
ADVERTISEMENT
Satu persatu motor berangkat, menuju pasar dan pelangan, tidak lama mang Abi dan bi Tarmi pamit untuk berangkat, beberapa pekerja lainya juga sama pamit pulang, termasuk mang Toha yang rumahnya dekat sini.
Setelah semua catatan beres semua aku rekap jumlah dll nya, aku duduk sendiri di depan halaman pabrik, sekitar pukul 03:30 menuju pagi.
“Den mending aden pulang kasian sudah terlihat ngantuk sekali,” ucap mang Deden.
“Sebentar lagi mang,” jawabku.
Pabrik Tahu Keluarga: Menggali Informasi (Part 9) (354430)
searchPerbesar
Ilustrasi bekerja malam, dok: pixabay
“Mang, sejak kapan amang kerja dengan bapak?” lanjutku bertanya.
“Sudah lama sekali, hanya beda 4 tahun dengan mang Ujang, kenapa gitu den?” jawab mang Deden
“Tidak apa-apa hanya saja, sampai segininya yah pabrik ini, amang nginap di sini?” tanyaku.
“Iya bagian jadwal piket hari ini amang menginap,” ucap mang Deden
ADVERTISEMENT
“Apa tidak takut mang?”
“Hahaha amang sudah biasa dengan gangguan penghuni lain di sini, tapi yah gimana den andai bisa bersih di sini lebih enak hehe,” sahut mang Deden menjelaskan.
Setuju dengan apa yang dikatakan mang Deden andai bisa bersih, jauh dari gangguan penghuni lain, itu salah satu keinginanku.
Tapi keinginan besarku lain ingin jelas tau betul sejarah tempat ini, kemudian kenpa sudah berlangsung lama sekali, pasti aku yakini ada suatu misteri yang turun-temurun, aku yakin sekali.
Menuju pagi, sudah jam 03:40 aku sudah tidak bisa menahan ngantuk yang semakin datang, lelah dengan segala kejadian yang baru saja terjadi. Mang Deden pamit segera menuju kamar yang tersedia di samping pabrik berdekatan dengan mushola di samping parkiran pabrik.
ADVERTISEMENT
Akupun segera berbegas melangkah, tiba-tiba ada suara seperti benda jatuh di dalam “gubrak…” sangat keras, aku hentikan langkah dan melihat ke dalam tidak ada benda yang bergeser atau jatuh dari ketinggian, kemudian aku melangkah menuju keluar, benar-benar jelas ada suara tertawa perempuan didalam sangat jelas, karena sudah lelah, aku abaikan dengan rasa takut yang kemudian datang kembali.
Bersambung...
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020