Entertainment
·
21 September 2020 19:04

Perjalanan Maut (Part 1)

Konten ini diproduksi oleh Dukun Millennial
Perjalanan Maut (Part 1) (5352)
Ilustrasi perjalanan, dok: pixabay
Kali ini Mbah dapet izin publikasikan sebuah cerita horor yang apik dari seorang penulis kompeten. Cerita yang memadukan unsur horor dengan pilihan diksi yang bagus Mbah rasa cerita ini wajib dibaca para Sobat Dukun.
ADVERTISEMENT
[Januari 2007]
Kala itu langit mendung dan hujanpun tak dapat dihindari. Seorang gadis belia berteduh di halte sambil menunggu bus datang. Sepi, tak ada seorangpun di sana selain dia dan nyanyian para katak yang senantiasa menemani kesendiriannya.
Jam menunjukkan pukul 18:00 WIB, sudah seharusnya dia berada di rumah, namun karena suatu hal, hari itu dia terlambat pulang.
Tumben baru pulang,” suara yang familiar menyambutnya dengan akrab saat dia menaiki bus yang baru saja berhenti di depan halte.
“Iyah pak, tadi di sekolah ada tugas tambahan,” jawabnya dengan tersenyum lebar.
“Yo wis, cepat naik, biar bisa sampai rumah cepet. Udah magrib ini,”
Selang beberapa menit,
Tumben bener bus-nya kosong pak. Biasanya jam segini banyak karyawan yang pulang,"
ADVERTISEMENT
Tak ada jawaban dari pak sopir yang dikenalnya sebagai pak Sapto. Tetangga dekat rumah Aini, nama gadis itu. Mungkin dia tidak dengar karena memang Aini duduk di barisan ke tiga setelah sopir.
Kantuk tak dapat dihindari dan diapun terlelap tidur dalam dinginnya udara selepas hujan. Pesan masuk dengan nada yang lumayan keras membangunkan tidurnya.
“Kamu di mana?, jam segini masih belum pulang?,” ternyata pesan masuk dari ibunya.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/bulanpurnama0]
“Masih di jalan bu, bentar lagi sampe,” (pesan gagal terkirim)
“Ah, lupa isi pulsa,"
Aini terkejut melihat layar ponselnya menunjukkan pukul 11 malam, padahal jelas-jelas dia menaiki bus tersebut selepas magrib jadi bagaimana mungkin perjalanan yang biasa ia tempuh paling lama satu jam, malah menghabiskan hampir 5 jam.
ADVERTISEMENT
Masih dalam keadaan bingung, Aini yang setengah sadar, tersentak saat menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya, seorang gadis SMA seumuran dengannya sedang tertidur lelap.
Belum sempat dia mencerna apa yang terjadi, Aini semakin terkejut saat dilihatnya bus terisi penuh dengan penumpang yang tak satupun ia kenali.
“Loh apa ini?, kok tiba-tiba penuh busnya?. Ini beneran apa mimpi sih?,” Aini tak henti-hentinya berbicara sendiri sambil mencoba menenangkan diri.
Perjalanan Maut (Part 1) (5353)
Ilustrasi penumpang bis, dok: pixabay
Aini semakin panik saat dia lihat di luar jendela, daerah yang sama sekali tak ia kenali, rute bus yang belum pernah dia lihat sebelumnya dan di saat matanya masih memandang luar jendela, ada pantulan bayangan gadis itu di jendela yang tak sengaja Aini lihat perlahan terbangun dari tidurnya.
ADVERTISEMENT
Aini tidak berani menoleh, dia hanya melihat gerak-gerik gadis itu lewat jendela. Gadis itu tersenyum, semakin membuat Aini tak kuasa menahan airmata.
Ayat kursi yang selalu ibunya ajarkan ketika menghadapi situasi di luar nalar, tak dapat Aini lafalkan, dia terlalu panik, tak ada suara yang mampu Aini keluarkan selain tangisan.
Aini menunduk, menangis, dan berharap semua ini hanya mimpi. Sampai pundaknya terasa dingin, gadis itu menyentuh pundaknya, berharap Aini untuk menoleh padanya, namun Aini tetap tertunduk.
“Kak tidur lagi,” suara lirih itu terdengar samar-samar.
Aini kaget, jangankan menoleh, melihat pantulan bayangan gadis itu dari jendela saja Aini tak mampu.
“Tidur kak, jangan bersuara,” suaranya masih samar-samar namun Aini bisa mendengarnya dengan jelas.
ADVERTISEMENT
Rasa penasaran benar-benar mengalahkan ketakutannya, “Mungkin maksud dia baik,” pikir Aini saat itu. Sampai akhirnya dia berani melihat bayangan gadis itu dari jendela, dan alangkah terkejutnya Aini saat yang dia lihat adalah gadis dengan kepala yang hampir terpenggal lengkap dengan darah yang masih tersembur dan ironisnya gadis itu masih tetap tersenyum.
Aini spontan berteriak sekencang-kencangnya, dia tak peduli apa yang dikatakan gadis itu, dia hanya berharap apa pun itu, semoga segera berhenti.
Februari 2007
“Gimana Bud, udah ada kabar?,” Budi hanya menggelengkan kepala saat temannya Yusuf menanyakan tentang salah satu teman mereka yang hilang sebulan yang lalu, Aini.
“Harusnya aku anter dia pulang, udah sore banget itu, tapi dia keukeuh mau naik bus,” Budi menyesal saat tahu kalau Aini menghilang sepulang mereka mengerjakan tugas bersama saat itu.
ADVERTISEMENT
“Yah gak gitu juga Bud, lagian kita mana tau bakal ada musibah kaya gini. Terus waktu itu kan hujan, wajar aja dia pilih naik bus daripada basah kuyup naik motor kamu,” Yusuf mencoba menenangkan.
“Tapi kok aneh yah Bud, kalau Aini diculik, pasti penculiknya udah hubungin orang tuanya dan minta tebusan, tapi sampai saat ini belum ada kabar apapun, bahkan polisi saja belum nemuin petunjuk apa-apa,” Budi hanya diam.
“Apa mungkin Aini diculik mahluk halus?,” Yusuf masih saja menebak dengan pikiran liarnya.
“Hush, kamu ngomong apa sih Cup, jangan sembarangan deh,” bantah Budi.
“Yah habisnya, kalau Aini meninggal juga gak mungkin, karena sampai saat ini belum ada mayat yang ditem...,"
ADVERTISEMENT
belum sempat Yusuf menyelesaikan ucapannya, Budi langsung bergerutu dan memukul kepalanya dengan buku tebal sambil berlalu meninggalkan dia sendiri di kelas.
“Apa aku kasih tau dia ajah yah?,” ucap Yusuf pelan sambil melihat Budi pergi.
Budi, yang sedari dulu memendam perasaan pada Aini, sungguh terpukul dengan kejadian ini. Dia merasa sangat bersalah karena Aini tidak mungkin mengalami hal seperti ini jika saja dia meminta Aini menunggu hingga hujan reda dan bisa mengantarkannya pulang.
Budi, seorang pemuda pendiam yang sulit bergaul. Saat pertama kali dia datang ke kota itu dan masuk sekolah sebagai murid pindahan, hanya Aini lah yang begitu berbaik hati berteman dengannya. Kini, dia hanya bisa berdoa jika temannya itu bisa kembali pulang dalam keadaan selamat.
ADVERTISEMENT
Jam istirahat pun tiba.
“Cup!!!,” teriak seorang gadis muda berparas cantik yang langsung membuat Yusuf tersenyum.
Aiiihh Nona manis, ada apa?,” goda Yusuf seakan sudah menjadi hal biasa bagi gadis itu.
“Pulang sekolah temenin aku yah, ada setan yang harus kamu usir,”
“Eh, ringan sekali cocotmu itu!, dikira usir setan kayak usir kecoa,”
“Dah lah, aku tunggu, awas ajah kalo gak datang,”
“Untung cantik kau Lay,” ucap Yusuf berteriak sambil memandang gadis itu berlari meninggalkannya.
Sepulang sekolah.
Yusuf datang ke rumah Layla seakan sudah tahu apa yang diinginkan gadis itu darinya. Dan benar saja, Layla sudah bersiap di depan rumahnya dengan membawa tas besar.
Ayok!!,” ajak Layla.
“Lah ke mana?, bukannya ke rumahmu?,”
ADVERTISEMENT
“Ke tempat nenekku, ngga jauh kok,”
“Lah, terus kenapa bawa tas gede bener?,” Yusuf heran dengan tas besar yang dibawa Layla.
“Hehe, nanti kamu juga tahu,”
Setibanya di tempat tujuan mereka, bukanlah rumah asri yang ada dibayangan Yusuf, melainkan gedung kosong yang sudah lama ditinggalkan, terlihat rumput ilalang yang tumbuh mengitari gedung tersebut.
“Lay, perlu aku tegesin yah, aku gak bisa usir setan, aku cuma bisa liat aja, itu juga kalo kepepet, selebihnya aku ga tau apa-apa,” Yusuf terlihat begitu tertekan yang dijawab candaan oleh Layla.
“Hahaha, santai ajah Cup, aku cuma becanda, ga ada setan-setanan kok. Aku mau antarkan makanan buat nenekku, biasanya bapakku yang antar, tapi dia lagi sakit sekarang,”
ADVERTISEMENT
Nenekmu tinggal di sini?,” Yusuf heran.
“Nggak lah, gila aja nenekku tinggal di gedung kosong, dia tinggal di belakang sama adikknya, jadi kalau mau masuk, harus lewatin gedung ini dulu,”
“Ini gedung bekas apa Lay?,” tanya Yusuf saat mereka berjalan pelan melewati gedung itu.
Bersambung...