Entertainment
·
18 Oktober 2020 19:14

Rusin (Part 6)

Konten ini diproduksi oleh Dukun Millennial
Rusin (Part 6) (14579)
Ilustrasi hantu, dok: pixabay
"Masih kurang?,"ucap satunya.
Mungkin mereka sekitar tujuh orang, sedangkan aku sendirian.
ADVERTISEMENT
"Krusek...," suara seperti kantung plastik diremas membuat kami semua terkejut tandanya ada seseorang yang pasti sedang bersembunyi di sekitar sini, mereka mulai waswas.
Mereka semua pasti takut bila ada yang melihat atau bahkan melaporkan kelakuan busuk mereka ini.
"Cari!, cepat!,"perintah Okta.
Iya Okta adalah orang yang paling membenciku, aku pun tak pernah tahu penyebabnya, tapi nampaknya ia tak suka melihatku disukai banyak orang.
Mereka semua berpencar mencari orang yang diam-diam mengintip kegiatan mereka sedari tadi itu. Hingga akhirnya...
"Ketemu!," teriak salah satu dari mereka sambil menyeret tangan seseorang yang kelihatannya seangkatan denganku
"Botakin aja rambutnya," usul seorang teman Okta.
"Kamu tau ini apa?, pengin ngerasain gak?,"ucap Okta sambil menyodorkan gunting ke pipi anak itu.
ADVERTISEMENT
Dia hanya menangis ketakutan, ia mencoba berontak namun apa daya seluruh badannya dipegangi oleh teman teman Okta.
"Ngapain kamu ikut ikutan urusanku?, tak kasih kenang-kenangan ya. Kalo kamu sampe berani beraninya lapor ke dosen ya bakalan ngerasain hadiah yang lebih enak lagi dariku," ancam Okta tanpa perasaan manusiawi sama sekali, ia tersenyum sinis sambil menarik jilbab anak itu sampai terlepas.
Kelihatannya mereka lupa bahwa aku masih di sini dan lebih fokus ke anak itu. Hampir saja ia mengguntingnya, aku yang sudah merasa muak dan tidak tega segera meraih apa pun yang ada di dekatku.
"Bruakkk,"
Ember tepat mengenai kepala Okta. Ya, aku melemparkannya dengan sangat kencang hingga dia jatuh ke tanah.
ADVERTISEMENT
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/itsqiana]
Hidungnya berdarah, teman-temannya pun panik. Kondisi itu kumanfaatkan untuk menyelamatkan Septi. Kutarik tangannya dari genggaman anak anak yang terfokus pada Okta, kami pun segera berlari menjauh dari para wanita gila itu.
Di kamar mandi aku menunggu Septi yang masih saja menangis, dia ketakutan dan tak berani keluar karena jilbab yang dikenakannya tadi dilepas paksa oleh Okta.
Ya, namanya Septi. Dia seumuran denganku, bukan seorang yang mencolok apalagi menarik perhatian. Makanya tidak banyak yang mengenalnya di sini.
"Udah diem, abis ini ayo balik. Pake jaketku," ujarku padanya.
Kami pun pulang naik ojek menuju ke rumah Bapak.
"Loh Jun," ucapnya ternganga.
"Ssst diem aja, ayo," jawabku singkat.
ADVERTISEMENT
Kami segera masuk ke kamarku, untunglah hari ini Mamah sedang tidak ada di rumah jadi aku tak perlu malu pada kawanku. Tak perlu khawatir akan ada seseorang yang meneriakiku anak perempuan jalang.
"Kamu anak orang kaya ya?, lok gaada yang tau?," tanyanya.
"Bukan hartaku," jawabku singkat lagi.
Kami ada di sini sedari sore hingga jam 9 malam, namun aneh tak ada seorang pun yang pulang ke rumah. Meski memang Mbak Novi sudah berkeluarga, namun biasanya ia akan pulang kemari dua kali seminggu.
Rusin (Part 6) (14580)
Ilustrasi perempuan di kamar, dok: pixabay
Begitu pula dengan Bapak, ia ke mana? biasanya ia hanya akan ke kantor sesekali saja karena fisiknya sudah tak memungkinkan lagi.
"Jun, Bapakmu pamit," celetuk Septi tiba-tiba saja.
ADVERTISEMENT
Aku memalingkan wajah ke arahnya, alisku berkerut heran dengan maksud ucapan Septi barusan.
"Di jendela luar, Bapakmu pamit," jelasnya kembali.
Aku langsung menuju ke jendela seperti yang dimaksud oleh Septi, namun aneh tak ada siapa pun di sini.
"Kring kring kring," bunyi telepon rumah dari ruang tamu terdengar hingga kamarku. Aku bergegas keluar dan mengangkatnya, terdengar suara wanita sedang berusaha untuk bicara.
"Nduk, Jun," suaranya tersengal sengal karena menahan tangis.
"Mbak Novi?, mbak kenapa mbak?," tanyaku mulai panik mendengar kakak perempuanku itu menangis.
"Bapak udah meninggal dek, sekarang kamu ke sini ya dijemput, " ucap Mbak Novi yang terdengar jelas sedang diliputi kesedihan.
Runtuh, kekuatanku kali ini benar benar runtuh. Aku tak punya siapa pun lagi di dunia ini. Akhirnya kali itu aku tahu bahwa Septi memiliki kelebihan istimewa, dan dari sinilah kami mulai berteman dekat.
ADVERTISEMENT
Aku segera bersiap dan mengajak Septi yang kini membisu dan hanya bisa menangis bersamaku. Kami berdua dijemput oleh sopir pribadi kakak perempuanku itu menuju rumah sakit tempat Bapak mengembuskan napas terakhirnya.
Aku memang sudah lama mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan ini, aku tahu pasti suatu saat Bapak akan meninggalkanku. Namun, masih tak kusangka akan secepat ini, ia bahkan belum melihatku menjadi sarjana nanti.
Tujuh hari sepeninggal Bapak, Mamah mengusirku dari rumah. Dan ya, aku pun telah memperkirakan ini semua jadi aku sudah sepenuhnya pasrah.
Mbak Novi mengajakku untuk tinggal bersamanya, namun kutolak karena aku tidak ingin merepotkan siapa pun lagi. Akupun bahkan tak meminta hak atas warisan Bapak sedikitpun.
Untunglah selama ini Bapak telah meninggalkan tabungan yang cukup untukku hidup sampai beberapa tahun ke depan, aku juga masih punya rumah milik Ibu dulu.
ADVERTISEMENT
"Jblakkk," suara pintu mobil kututup.
Aku berjalan memasuki sebuah rumah yang kini kondisinya telah berubah sepenuhnya. Karena memang aku telah lama tak pernah kembali ke daerah sini.
"Assalamualaikum Paklik.. Bulik.. Mei, " panggilku yang kini telah berada di depan pintu.
Rusin (Part 6) (14581)
Ilustrasi pintu, dok: pixabay
"Waalaikumsalam, siapa?," sahut seseorang dari dalam menjawab salamku.
Ibu Mei berjalan ke arahku, nampaknya ia lupa dengan wajahku
"Siapa ya?, temennya Mei mbak?," tanyanya kembali.
Aku hanya tersenyum dan segera meraih tubuh Ibu Mei, aku memeluknya dengan sangat bahagia. Ia terkejut karena aku tiba-tiba memeluknya.
"Ini Juni Bulik," ucapku yang masih memeluknya erat.
Ia nampak terdiam beberapa saat lalu segera membalas pelukanku
"Ya Allah Juni… "
"Bulik pangkling nduk" ujarnya yang kini menangis terharu.
ADVERTISEMENT
Aku melepas peluknya dan meraih serta mencium tangannya, tak terasa akupun ikut menangis rindu dan tersenyum lega
"Mei sini nak," teriaknya kencang sekali memanggil Mei yang kelihatannya ada di belakang.
Mei datang dengan wajah kusut, ketika matanya menatapku ia mematung dan membungkam mulutnya terkejut. Aku segera masuk dan memberi salam pada sahabatku itu.
Bersambung...