kumparan
search-gray
Entertainment1 Agustus 2020 20:28

Susuk (Bagian 9)

Konten kiriman user
Susuk (Bagian 9) (139802)
Ilustrasi ilmu hitam, dok: pixabay
Siang itu kuhabiskan dengan rebahan dan merenung, ada apa sebenarnya, ada kejadian apa yang membuat mereka semua berkumpul, ingin rasanya kulanjutkan tidurku tapi ternyata sebuah pesan masuk ke gawaiku.
ADVERTISEMENT
Ditambah dengan foto tiket pesawatku yang akan terbang 3 jam kemudian. Emang gak ada yang waras sepertinya, dikira dari sini ke bandara deket.
Lihat saja, aku akan meminta ganti rugi ke mereka semua. Kemudian aku pun mandi, berganti baju, membawa perintilan seperlunya dan tidak lupa sandal jepit andalan "jepit swa**ow"
Akhirnya sampai di Jakarta. Ini emang ya mereka semua, nyuruh orang pulang tapi gak ada yang jemput. Kadang aku heran dengan pola pikir mereka semua. Bukannya aku terlalu manja, cuma kadang mereka terlalu berlebihan dalam menanggapi suatu masalah seperti sekarang ini.
Seharusnya ini simpel, tapi entah kenapa mereka sengaja merumitkan hal ini. Aku sengaja tak membaca chat mereka, karena aku tahu ada kejadian apa hanya saja aku ingin menikmati sedikit fasilitas.
ADVERTISEMENT
Selain itu, aku memang rindu pulang, rindu suasana rumah, rindu suasana Jakarta, rindu semuanya dan aku ingin menjauh sesaat dari teror kuyang.
Konon kabarnya, kalau kita nyebrang pulau mereka tidak bisa mengejar kita.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/greymocil]
Tak lama akupun sampai di rumah, aku sengaja lewat pintu samping, biar mereka semua tidak menyadari kedatanganku. Satu per satu aku perhatikan wajah mereka yang tegang lalu kemudian aku pun masuk, dan menaruh paper bag di meja.
"Nih pengkang, belom pernah nyoba kan kalian?," kataku.
Makanan khas satu ini menurut aku sih enak ya, apalagi kalau beli dari pusat aslinya, dulu aku beli ini antrinya luar biasa, nggak tahu deh kalau sekarang.
ADVERTISEMENT
Yang jelas teksturnya kaya lemper bakar tapi isiannya ebi dan enak bangeet kalau dicocol sambelnya.
Susuk (Bagian 9) (139803)
Ilustrasi Pengkang, dok: Twitter/greymocil
"Lu bener² ya Yik, kita lagi mikir, lu malah makan" kata Budi
"Makan dulu baru mikir, lagian terkadang kalian itu terlalu membesarkan masalah, hal simpel, kalo sama kalian, gak bakalan jadi simpel," kataku sambil menikmati pengkangku.
"Yik, jawab jujur, lu tau gak kalo Shinta hamil?," tanya mas Wisnu.
"Tau, anaknya cowok, mirip Brata," kataku.
"Kok lu gak cerita sih Yik," kata Nath sambil meraih pengkang di meja.
"Karena emang bukan kapasitas gue buat cerita" jawabku.
"Kok lu tega Yik," kata pak Brata.
"Kalau gue cerita, gue yang kenapa-napa, emangnya kalo gue mati kalian semua mau tanggungjawab?, kagak kan?. Udah siap jawab ke bapak gue?, Nyampein kalo anaknya mati karena beginian," jawabku dengan nada tinggi.
ADVERTISEMENT
"Ya kan kita gak tau Yik," kata Nath.
"Makanya kalo nggak tau itu mending diem, bukan nyalahin orang, kalian pikir gue ini bukan manusia?. Nyelametin Shinta sama anaknya sama aja gue bunuh diri, karena gue jadi gantinya, sampe sini kalian semua paham?," emosiku.
"Sekali lagi kalian nuduh gue, gue ambilin kalian pisau satu - satu, bunuh gue aja sekalian, jadi bokap nyokap gue tau mesti ziarah kemana," kataku.
Jujur aku masih emosi dengan mereka, untuk apa mereka memintaku pulang jika hanya ingin menyalahkanku. Tak lama, akupun pergi ke teras, menenangkan pikiran sekaligus menyalakan rokokku.
Andai mereka tau resikonya, andai Nath udah balik, andai mas Wisnu gak bucin sama Shinta, andai pak Brata gak celap-celup sembarangan. Tapi aku hanya bisa berandai-andai, aku lelah selalu dalam posisi terpojok dan disalahkan jika dalam kondisi seperti ini.
ADVERTISEMENT
Shinta itu memang dia yang tidak mau ditolong, dia yang memilih jalannya. Mereka kira aku tidak mewanti-wantinya. Sudah berkali-kali aku mencoba, tetapi hasilnya dia tetap pada pilihannya.
Kemudian Budi menghampiriku, aku tau diantara mereka, hanya Budi yang tidak akan diam saja ketika aku menjauh, Budi akan selalu berusaha menenangkanku, sampai aku sendiri yang memutuskan untuk menyudahi perannya.
Selalu seperti itu
"Yik, gue tau lu cape, gue juga tau gak seharusnya kita ngepush lu, tapi kita gak punya pilihan," kata Budi sembari menyodorkan secangkir coklat dingin kesukaanku.
"Gue cuma mau tenang Bud, kasih gue waktu istirahat aja mereka nggak bisa, 30 menit aja," pintaku
Kamipun terdiam, sibuk dalam lamunan masing-masing
Hingga tak lama kemudian, pak Brata menghampiri kami
ADVERTISEMENT
"Maaf Yik, maafin gue karena gue tadi udah ngepush lu, gue bingung Yik," katanya.
Bersambung...
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white