Teluh: Kamu Harus Mati (Part 6)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Konten dari Pengguna
29 September 2021 19:22
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi ilmu hitam, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ilmu hitam, dok: pixabay
ADVERTISEMENT
Sejenak aku memijatin Mas Wanto, sembari membacakan doa dan tak berselang lama mataku pun sudah tidak dapat menahan rasa kantuk, belum lagi rasa nyeri masih terasa di leherku, ada bekas biru memar menjadi saksi perlakuan jahanam yang tadi sore kualami.
ADVERTISEMENT
Karena tidak enak dengan ibu, kuurungkan niat untuk tidur di ranjang kosong yang ada, ku gelar tikar di samping beliau dan turut serta tidur di situ.
Bayangan sosok kejadian sore hari kembali hadir saat aku mulai merebahkan badan, bak dogeng pengantar tidur, aku bergedik saat mengingat bagaimana pocong itu menampakan diri, belum lagi sosok biadab yang berusaha membunuhku.
Kuingat juga saat aku berlari di lorong Rumah sakit ini, Aku merasa mereka mengikutiku, seperti ada mata yang terus mengikuti setiap gerak-gerikku, dan dalam fatamorgana itu juga, mataku mulai tertutup terasa lelah akan semua ini.
"Tok.. Tok..Tok...!" samar suara ketukan pintu, membangunkanku dari tidur.
"Tok.. Tok..Tok..!" ketukan itu kembali berbunyi, kubuka mata, dari tidur singkat yang baru kujalani. Aku tidak langsung berdiri ke arah pintu, rasa kantuk yang teramat sangat membuat aku masih duduk sembari mengumpulkan nyawa untuk beranjak ke arah suara.
ADVERTISEMENT
Baru juga aku mau berdiri, ibu mertua menangkap cepat tanganku, dia menatapku dengan serius.
"Ibu juga dengar," katanya, sembari menarik dan meyakinkan aku agar kembali dalam posisi tidur.
"Lebih baik kita biarkan suara itu," pungkasnya lagi
Cukup lama aku terdiam, bingung akan perkataan ibu, sebelum aku menyadari, bawasannya sesuatu yang konyol ketika ada orang yang berkunjung di tengah malam. Sekalipun itu petugas medis, tentunya dia akan masuk cukup dengan 1-2 x ketukan.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/nyata74042956]
Suara langkah pelan berjalan ke arah kami, diiringi tarikan nafas satu.. satu.. seperti orang yang teramat sesak. Mataku sedikit menoleh kesumber suara, samar bayang sosok itu sudah berdiri di tengah posisiku dan ranjang Mas Wanto.
ADVERTISEMENT
Bayangnya terlihat besar menutupi tubuh kami yang berada di lantai, dari dinding kulihat bentuk wujudnya yang tak lazim, kakinya lurus menyatu dengan bagian badan layaknya manusia.
Seketika jemari ibu terasa kencang memegang tanganku, seperti memberitau dia lebih memahami sosok apa yang bertamu malam itu, tanganya basah dan sangat dingin.
Pagi tiba, dan kami terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman, belum juga aku sempat menghirup udara pagi. Ibu sudah menyodorkan berjuta pertanyaan pada ku.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?" tanyanya.
Singkat cerita, aku menjelaskan segala kejadian mistis yang menimpa rumah tangga kami, kumulai dari keganjilan yang ada di rumah itu, sakitnya Lena dan Ustad Maliq.
Benar.. Kenapa aku sangat lupa.
ADVERTISEMENT
"Ustad Maliq buk," kataku spontan yang membuat wajah beliau semakin heran.
Kubongkar tas yang kubawa, tak kuhiraukan pertanyaan Ibu yang masih terlihat bingung, tanganku sibuk mencari Hp Mas Wanto, kucharger Hp itu, jemariku langsung menekan tombol On.
Ilustrasi menelpon, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menelpon, dok: pixabay
Saat itu juga aku mencari nama Ust Maliq di kontak Hp Mas Wanto, ku telepon beliau dan memohon kesediannya agar dapat berkunjung melihat keadaan Mas Wanto.
Semenjak kejadian biadab yang kami alami, jujur, ku tidak yakin penyakit Mas Wanto alamiah terjadi, aku berpikir dia terkena teluh.
Allhamdullilah, Ustadz Maliq sudi untuk menjenguk Mas Wanto dan dia berjanji akan sesegera mungkin berkunjung, selang urusanku dengan Ustadz Maliq selesai, Aku kembali melanjutkan cerita kepada ibu dan menjelaskan segalanya, termasuk kepulangan kami ke kampung halaman ku.
ADVERTISEMENT
Ibu hanya bisa menggelengkan kepala, seolah sedikit ragu dengan apa yang kujelaskan. Malah dia mewanti agar kami tidak percaya dengan dukun dan sebagainya.
"Berserah ya pada Allah, jangan sampai kalian salah, malah kalian yang nanti jadi pelaku kesesatan," katanya
Menjelang sore, ibu berpamit pulang, selain memang dia belum mengganti baju sedari kemarin, Ibu mertua juga harus membuat dan mengantarkan jamu pesanan.
Berdagang jamu merupakan mata pencarian beliau semenjak ditinggal oleh suami tercinta, dengan cara itu juga dia membesarkan Mas Wanto seorang diri.
Disisi lain, belum ada tanda kehadiran Ustadz Maliq akan datang, sempat kukirimkan foto keadaan Mas Wanto, berharap keibaannya, namun hingga Magrib tidak ada balasan lanjutan yang kuterima.
Aku berwudhu, bergegas menunaikan kewajiban pada sang Maha Pencipta, khusyuk kuberdoa memohom ampun dan pertolongan pada-Nya.
ADVERTISEMENT
Seketika itu juga Allah mengirim pertolongan, tak lama dari sujudku usai, Ustadz Maliq tiba di sana. Tak banyak dia berbicara padaku, hanya sekedar salam, dan dia meminta izin untuk melihat Mas Wanto.
Ilustrasi berdoa, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berdoa, dok: pixabay
Ustadz Maliq berdoa, membacakan ayat ayat suci, dia mengusap kaki Mas Wanto, tangannya seolah menangkap sesuatu. Mas Wanto mengerang hebat, tubuhnya menggelinjang, bergerak seperti memberontak, darah seger termuntah dari mulutnya.
"Astagfirullah, Ini sudah sangat keterlaluan, tujuan nya memang ingin menghabisi kalian," kata Ustadz Maliq melihat bagaimana tubuh Mas Wanto merespon pengobatan yang dilakukannya.
Ustadz Maliq melanjutkan pengobatannya, diambilnya botol kecil yang ada di sakunya, botol itu berisi minyak, dituangkan minyak itu sembari mulutnya masih terus berdoa.
Perlahan dia mengusap tubuh Mas Wanto dari Ujung kaki hingga kepala Mas Wanto.
ADVERTISEMENT
Lagi-lagi hal di luar nalar terpaksa kulihat, tubuh Mas Wanto mengeluarkan asap, setiap tangan Ustadz Maliq mulai memijat tubuhnya. Baju Putih Ust Maliq tampak ternoda dengan sedikit darah yang menetes dari telapak tanganya.Bantal yang digunakan Mas Wanto pun tidak lagi berwarna putih.
Mulutnya terus memuntahkan darah, darah merah kehitaman yang sangat amis dan busuk. dan baru kusadari tangan Ustadz Maliq seperti mengangkat benda benda tajam, yang membuat telapak tangannya berdarah.
Setiap Paku dan Jarum yang berhasil ditarik Ustadz Maliq keluar dari tubuh Mas Wanto, Maka Mas Wanto pasti memuntahkan cairan hitam.
Hampir 20 menit Ustadz Maliq melakukannya, sebelum akhirnya dia berhenti. Cukup untuk hari ini, dia tidak akan sanggup bila semua diselesaikan. Diambilmya kain putih, diletaknya paku dan jarum itu, mungkin lebih dari 20 pasang benda itu ditanam pada tubuhnya.
ADVERTISEMENT
Bersambung...
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020