Teluh: Kamu Harus Mati (Part 7)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Konten dari Pengguna
30 September 2021 19:43
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Teluh: Kamu Harus Mati (Part 7) (284179)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ilmu hitam, dok: pixabay
Ustaz Maliq terlihat kaku bila harus berkomunikasi berdua dengan Wanita, sesaat setelah selesai tidak banyak wejengan yang diberikannya. Dia hanya berkata
ADVERTISEMENT
"Tolong dibersihkan, dia akan baik baik saja," seraya pergi meningalkan kami.
Langsung kupangil suster yang berjaga malam itu, dengan meminta bantuannya, kuganti baju dan sprei yang penuh dengan Muntahan darah Mas Wanto.
Ada pertnyaan dari suster itu akan apa yang terjadi, aku tidak dapat berkata apa-apa selain mencoba meyakinkannya bahwa semua baik adanya.
Singkat cerita keesokan harinya Mas Wanto sudah dapat berbicara bahkan secara ajaib dia sudah bisa duduk sendiri, walau kondisinya masih sangat lemah.
Ustaz Maliq pun kembali datang pada saat itu, beliau datang dengan membawakan kami oleh-oleh batang daun kelor. Tak banyak yang kuketahui, karena Ustaz Maliq meminta aku dan ibu untuk meninggalkan mereka berdua, obrolan itu hanya 4 mata dan berlangsung singkat.
ADVERTISEMENT
Namun, aku tak perduli apa yang dibahas mereka, melihat Mas Wanto sudah mulai sembuh, lebih dari cukup untuk diriku.
Setelah 8 hari lamanya menginap di sana, Mas Wanto akhirnya diperbolehkan pulang. Harapan semua sudah berakhir ternyata hanya ada di angan.
Kepulangan kami pada saat itu nyatanya menjadi babak terakir di mana akulah yang akan menjadi pesakitannya. Berawal dari keisenganku akan isi yang ada di Hp Mas Wanto.
Tabir kegelapan itu perlahan memberikan jawaban atas segala kekonyolan yang terjadi. Wanita yang dikatakanya gila itu merupakan Wanita yang sampai sekarang masih menyandang status sebagai Istri Sah Mas Wanto.
Dan yang lebih menyakitkan hatiku lagi, sewaktu Ustaz Maliq berkunjung untuk melakukan pembersihan di rumah itu. Teluh utama berada di kamar tertutup itu, di mana di dalam kamar itu berisi foto, pakaian dan lain sebagainya dari wanita yang akhirnya kuketahui bernama Wijayanti.
ADVERTISEMENT
Tubuhku lebih merinding melihat foto-foto kemesraan mereka, dibanding pembakaran jimat yang didapat Ustaz Maliq dari dalam kamar itu.
Aku menangis memikirkan bagaimana bisa pria yang sebenarnya sudah tau akan hal aneh itu tapi membiarkan aku dan anakku dalam bahaya.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/nyata74042956]
Apakah dia masih mencintai Wanita itu? Hingga dia membiarkan wanita itu menyakiti kami. Belum lagi aku juga merasa hina dengan diriku sendiri.
Aku memang Janda, tapi aku bukan pelakor. Haram bagiku menerima dirinya bila sedari awal kuketahui dia masih memiliki istri.
Detik itu juga Kukemas barang ku, walau mulut manisnya tak henti memohon maaf, namun hatiku seperti terkunci, enggan terbujuk oleh omongan busuknya. Malam itu aku pulang dengan hati yang sangat hancur.
Teluh: Kamu Harus Mati (Part 7) (284180)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kemarahan, dok: pixabay
Kepulangan ke kerumah untuk kali kedua tanpa ditemani Mas Wanto, sudah pasti membuatku menjadi buah bibir warga di sana, banyak kabar burung kudengar perihal desas desus cerita miring yang mengarah tajam kepadaku.
ADVERTISEMENT
Sudah pasti sebagai manusia biasa, ada batasan dalam kesabaranku, kabar miring yang semula tidak kugubris, sudah tidak dapat tuk kutolerir.
Bagaimana tidak, Aku yang berniat belanja ke salah 1 warung, harus mendengar pedasnya omongan tentang diriku, mereka tidak lagi berbicara di belakang, tanpa ada rasa tidak enak terhadapku, salah 1 wanita yang ada di sana sebut saja Bu Eni memantik pertikaian berdarah itu.
Dia menanyakan langsung perihal kabar sampah mengenai rumah Tanggaku, tapi dengan nada bicara yang bisa dikatakan memvonis, bukan menanya.
"Kamu di cerai Rin!!!?" sementara wanita lain yang ada di sana bukannya bersimpati atas kelakuan bu Eni, mereka malah kompak menghakimiku saat itu.
"Iya, sudah beberapa hari, Mana suami mu, benaran cerai?" kata wanita lain yang ada di sana.
ADVERTISEMENT
Kuurungkan niatku belanja di sana, aku berbalik arah dan pergi meninggalkan mereka, Tapi Bu Eni malah membuat aku semakin jengkel.
"Yee.. Malah pergi bukannya dijawab," serunya kembali.
Saat itu pula otakku seperti penuh dengan darah, terasa mendidih, Aku seperti kehilangan Kontrol.
Aku berjalan ke arahnya, kutatap wajahnya yang sangat mengesalkan itu, wanita lain seperti sudah menyadari kemarahanku, dan berusaha menenangkan diriku.
"Ibu mau tau soal apa?" teriakku tepat di depan matanya.
Kali ini dia terlihat gugup, namun masih saja wanita sampah ini mengatakan hal yang sama. Belum sampai dia berhenti berbicara, Tanganku spontan meraih botol beling, dan menghantamkan tepat di kepalanya.
Ibu Eni ambruk, darah bercucur hebat dari kepalanya, entah Setan apa yang merogoh jiwa, saat itu aku merasa bahwa jiwaku telah Mati, walau tubuh ini masih hidup. Melihat dia terkapar meringis kesakitan bukannya membuat aku sadar, malah sekali lagi kuhantam kan beling itu padanya.
ADVERTISEMENT
Alhasil buah petaka dari peristiwa itu bukan hanya menjadi beban diriku semata, keadaan sempat heboh saat warga berbondong datang ke rumah, meminta klarifikasi kepada keluargaku.
Beruntung aku masih memiliki pria yang selalu ada dan menjagaku sepenuh hati, Bapak dan adikku. Iya hanya mereka berdua yang benar tulus membela, malah bapak sempat mengacungkan parang ketika ada beberapa warga yang memprofokasi agar masalah ini diproses ke kantor polisi.
Teluh: Kamu Harus Mati (Part 7) (284181)
zoom-in-whitePerbesar
Mendekam di penjara, dok: pixabay
Singkat cerita, aku akhirnya harus mendekam beberapa hari di balik dinginnya jeruji besi, dan saat itu juga ada celah untuk Mas Wanto kembali meluluhkan hatiku.
Mas Wanto datang bak pahlawan, dia menjamin diriku, dia juga yang bernegosiasi ke rumah Bu Eni agar mencabut laporannya, dan yang paling penting, kehadirannya seolah menyelamatkan wajah keluargaku serta membantah omongan miring yang beredar selama ini.
ADVERTISEMENT
Bapak hanya bisa mengelus dada mendengar kejujuran dari mulutku, meski kecewa dengan kelakuan Mas Wanto, namun tetap dia memberikan maaf.
Dengan syarat Mas Wanto harus segera mengurus surat cerainya, selain itu aku juga belum diperbolehkan pulang ke Jakarta bersama Mas Wanto sebelum semua terselesaikan. Mas Wanto menyanggupi permintaan bapak, dan berjanji secepat mungkin merealisasikan permintaan bapak.
Bersambung...
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020