Konten dari Pengguna

Nongkrong dan Tumbuh Bersama, Ini Konsep Pertemanan yang Mengubah Hidup

Dzikri Nur Fadlan

Dzikri Nur Fadlan

Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan Psikologi di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dzikri Nur Fadlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Noorulabdeen Ahmad on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Noorulabdeen Ahmad on Unsplash

Pernah nggak sih, kamu merasa lelah setelah seharian kumpul bareng teman? Atau mungkin, saat kamu sedang butuh dukungan untuk jadi lebih baik, teman-temanmu malah menarikmu ke arah sebaliknya. Di zaman serba terkoneksi ini, anehnya kita justru sering merasa lebih kesepian. Kita punya ratusan teman di media sosial, tapi sulit menemukan satu orang yang benar-benar bisa kita sebut "sahabat sejati".

Jika kamu merasakan hal itu, mungkin ini saatnya kamu kenalan dengan sebuah konsep indah dari tradisi Islam yang bernama Suhbah.

Mungkin terdengar asing, tapi Suhbah adalah jawaban atas kegelisahan kita tentang pertemanan yang dangkal. Ini bukan sekadar tentang punya "geng" untuk nongkrong atau teman untuk berbagi tawa. Suhbah adalah konsep persahabatan yang lebih dalam, sebuah ikatan yang tujuannya adalah untuk tumbuh bersama bukan hanya di dunia, tapi juga untuk kebaikan di akhirat.

Photo by Muhammad Adil on Unsplash

Apa Bedanya Suhbah dengan Pertemanan Biasa?

Jika pertemanan biasa seringkali terbentuk karena kesamaan hobi atau selera musik, Suhbah dibangun di atas fondasi yang jauh lebih kokoh: kesamaan tujuan hidup. Tujuannya adalah untuk saling ridha di jalan Allah. Inilah yang membuat Suhbah begitu istimewa.

Ada tiga pilar utama yang membedakan Suhbah dari pertemanan biasa:

1. Cerminan Diri

Sahabatmu adalah cerminan dirimu. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman dekat." [HR. Abu Daud, Tirmizi, dan Ahmad] - [Sunan Abu Daud - 4833].

Dalam Suhbah yang sehat, sahabatmu akan menjadi cerminan yang jujur. Ia tidak hanya memantulkan kebaikanmu sehingga kamu bersyukur, tetapi juga berani menunjukkan kekuranganmu dengan cara yang lembut agar kamu bisa berbenah. Mereka tidak akan membiarkanmu larut dalam kesalahan, tapi juga tidak akan menghakimimu. Mereka ada untuk membantumu melihat dirimu dengan lebih jernih.

2. Tumbuh Bersama

Coba tanyakan pada dirimu, apa tujuan utama dari lingkaran pertemananmu saat ini? Apakah sekadar untuk bersenang-senang? Atau untuk saling mendukung karir?

Dalam Suhbah, tujuannya lebih tinggi dari itu semua. Tujuannya adalah untuk saling mengingatkan tentang kebaikan, saling menguatkan saat iman sedang turun, dan saling menarik menuju surga. Inilah mengapa pertemanan seperti ini bisa mengubah hidup. Saat kamu punya teman yang ketika adzan berkumandang ia berkata, "Yuk, salat dulu," itu jauh lebih berharga daripada seribu teman yang hanya berkata, "Yuk, nongkong lagi lah."

3. Kualitas di Atas Kuantitas

Di era yang terobsesi dengan jumlah followers dan likes, Suhbah mengajarkan kita hal sebaliknya. Imam Al-Ghazali, seorang ulama besar, memberikan kriteria yang sangat jelas dalam memilih teman. Singkatnya, carilah teman yang cerdas, berakhlak baik, dan membuatmu senantiasa dapat mengingat Allah swt.

Ini berarti, memiliki satu atau dua sahabat yang memenuhi kriteria Suhbah jauh lebih baik daripada memiliki ratusan teman yang hanya menambah beban pikiran dan menjauhkanmu dari tujuan hidupmu. Suhbah adalah tentang kedalaman hubungan, bukan keluasan jaringan.

Photo by Taliwang Mengaji on Unsplash

Lalu, Bagaimana Cara Membangun Suhbah?

Mungkin sekarang kamu berpikir, "Di mana saya dapat menemukan teman seperti itu?" Jawabannya mungkin tidak terduga: mulailah dari dirimu sendiri.

Jadilah pribadi yang kamu inginkan ada dalam diri sahabatmu. Jika kamu ingin teman yang rajin ibadah, mulailah perbaiki ibadahmu. Jika kamu ingin teman yang jujur dan baik hati, mulailah praktikkan kejujuran dan kebaikan itu setiap hari.

Kemudian, carilah lingkungan yang mendukung. Datangilah majelis ilmu, ikuti komunitas yang punya kegiatan positif, atau bergabunglah dalam aksi sosial. Di tempat-tempat seperti inilah, kamu akan menemukan orang-orang yang memiliki frekuensi dan tujuan hidup yang sama.

Pada akhirnya, Suhbah adalah sebuah anugerah. Ia adalah investasi terbaik untuk kesehatan mental dan spiritual kita. Pertemanan sejati bukanlah tentang menemukan orang yang sempurna, tetapi tentang menemukan orang yang tidak sempurna, yang bersedia berjalan bersamamu menuju rida Allah swt.