• 6

Bagaimana Yesus Menilai Sepak Bola Hari Ini?

Bagaimana Yesus Menilai Sepak Bola Hari Ini?



Neymar

Selebrasi Neymar saat Barcelona juara Liga Champions (Foto: )

Yesus baru berusia 33 tahun (Lukas 3:23) ketika Dia mati disalib tentara Pontius Pilatus di Bukit Golgotta, berabad silam.
Tubuh-Nya, sebagaimana potret diri Yesus yang jamak tersebar, masih terlihat baik meski ringkih dan penuh luka sabetan pecut. Dia bahkan masih mampu memanggul salib raksasa sejauh puluhan kilometer dengan darah yang meleleh dari kepala yang sobek.
Tapi daya tahan tubuh Yesus mestinya jangan segera dikaitkan dengan sesuatu yang transendental.
Bung dan Nona harus ingat: Dia adalah seorang tukang kayu (Mark 6:3). Dan tak ada tukang kayu yang bekerja di bawah pendingin ruangan dengan jari-jari yang sibuk memijit papan ketik.
Kerja seorang tukang kayu, mula-mula, adalah soal kesanggupan otot dan urat untuk bertahan berhari-hari membabat, merangkai, memahat, suatu materi keras dengan alat yang juga berat. Dalam hal ini, kita harus mafhum betapa atletisisme Yesus memang tidak sembarangan.
Maka adalah suatu kewajaran jika pada tahun 1989, sekelompok jamaat Kristiani di Amerika Serikat mengadakan sebuah kelas kebugaran. Bagi mereka, antara iman dan tubuh adalah satu dimensi. Tak ada yang dapat memisahkan, dan justru harus dikuatkan.
Kini kelas kebugaran tersebut menjadi fitness centre yang telah tersebar di beberapa negeri bagian Paman Sam. Namanya: Body and Soul. Jargonnya: Where Faith and Fitness Meet.

Jesus Christ

Crucifixion of Jesus Christ (Foto: Ujjwal Kumar)
Dengan atau tanpa atletisismenya, Yesus memang selalu akan menjadi inspirasi hidup. Di atas lapangan hijau, sosok-Nya pun kerap diarak para pengolah si kulit bulat ketika merayakan gol atau kemenangan.
Kaka, misalnya, yang dikenal sebagai salah satu pesepakbola paling religius, selalu menengadahkan kedua telunjuknya ke langit tiap mencetak gol sebagai simbol terima kasih kepada Yesus.
Pada musim 2006/2007, ketika AC Milan memenangkan Liga Champions setelah mengalahkan Liverpool 2-1, Sang Virtuoso dari Gama itu merayakannya sambil bersimpuh dengan mengenakan kaos tanpa lengan bertuliskan: “I Belong To Jesus”.
Selebrasi yang nyaris sama juga bisa Anda lihat tiap Carlos Bacca mencetak gol. Uniknya, baik Kaka dan Bacca adalah sama-sama pemain AC Milan.
Neymar, untuk menyebut contoh lain, juga melakukannya ketika memenangkan Liga Champions bersama Barcelona musim 2015/2016. Pasca peluit panjang dibunyikan, Neymar bersorak sorai sambil mengenakan ikat kepala berwarna putih bertuliskan “100% Jesus”.

Kaka

Selebrasi Kaka (Foto: Kai Praffenbach)
Yesus mungkin bergidik melihat kearifan para pesepak bola religius itu. Tetapi, bukan tak mungkin Dia justru merasa geli. Sebab dalam tiap selebrasi kudus tersebut, sesungguhnya tanpa disadari Kaka dan Neymar tengah menunjukkan dua wajah sepak bola yang bertentangan: sebagai industri yang kemaruk fulus, sekaligus panggung untuk mempertontonkan keimanan.
(Barangkali Anda lupa: harga transfer Kaka dari AC Milan ke Real Madrid sebesar 57 juta poundsterling atau sekitar 1,6 triliun rupiah. Sementara Neymar didatangkan Barcelona dari Santos dengan harga 19,3 juta euro. “Kecil” memang, tetapi harga jualnya mencapai 250 juta dollar. Nyaris 10x lebih besar dari harga transfer Kaka)
Ketika sepak bola mulai menjadi industri multibiliun yang menghegemoni seluruh bumi, olahraga tersebut memang lebih sering menghadirkan ironi ketimbang inspirasi. Sepak bola menjadi sesuatu yang kelewat rutin, banal, tanpa keagungan.
Dahulu, melalui sepak bola-lah kenapa kemudian para serdadu Jerman dan Inggris bisa sejenak menaruh senjata, meminggirkan permusuhan, lalu bersama merayakan Natal bersama di Western Front yang kelak dikenal sebagai peristiwa "Christmas Truce". Kini, sepak bola lebih sering membuat tajir pemain level rendahan macam Nicklas Bendtner atau Memphis Depay.
Tentu saja, menjustifikasi sepak bola semata hanya sebagai mesin pencetak uang sungguhlah tak adil. Sebagai sebuah habitus yang mudah memunculkan sikap an enormous multiplier atau ”kecurigaan dan kebencian antarpuak”, sepak bola, entah mengapa masih tetap dan akan selalu menggairahkan.
Hingga detik ini, misalnya, pertarungan antara Pep Guardiola, Antonio Conte, Jurgen Klopp, Jose Mourinho, dan Arsene Wenger masih tetap mendebarkan untuk ditunggu hingga tuntas. Kebangkitan AC Milan belakangan ini menjadi sesuatu yang diam-diam disukai para pecinta Serie A, sebab akhirnya Juventus punya lawan sepadan. Tapi lupakan sudah La Liga karena liga tersebut, sampai dunia selesai dan Makibao menjadi Presiden Korea Utara, sepertinya memang hanya soal Real Madrid dan Barcelona.
Hari ini, 25 Desember 2016, Natal dirayakan umat Kristiani di seluruh dunia. Tiap tempat tentu memiliki kebiasaan dalam tiap perayaan Natalnya masing-masing. Khusus di Inggris, mereka menggelar laga Boxing Day untuk memeriahkan hari suci tersebut. Dan tim yang bertanding tahun ini adalah Chelsea vs Bournemouth.
Saya membayangkan, jika Yesus hidup di era sekarang, Dia mungkin akan mengajak Christopher Hitchens dan Richard Dawkins untuk menonton langsung laga tersebut di Stamford Bridge. Sambil menyemil kacang rebus atau berbagi roti daging, ketiganya asyik bercengkrama seperti tiga karib yang sulit akur.
Tentang taktik Guardiola yang menjemukan, tentang Marxisme yang kian ngepop atau glorifikasi fasisme pasca Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika, tentang bagaimana jadinya penampakan David Luiz jika rambutnya di-smoothing atau tentang mengapa orang Italia seperti Antonio Conte selalu ekspresif.
Apa saja, ya, apa saja.
Setelah laga kelar, ketika orang-orang mulai meninggalkan stadion, bangku-bangku mulai kosong serta yel-yel para Headhunters berpindah ke jalanan, Yesus kemudian berbisik kepada kedua orang tadi. Kira-kira begini bisikannya:
“Hitchens, ada baiknya kamu terbitkan buku baru untuk merevisi bukumu yang terdahulu. Beri judul: God Is Not Great: Football Poisons Everything.
Dan kamu, Dawkins, segeralah ralat ejekanmu kepada-Ku. Kau ingat, kan, dulu kau berkata apa? ‘Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.’
Tidak, permintaan ini bukan karena Aku marah dan akan memanggang kalian di Neraka. Kalian sudah lihat sendiri, bukan? Bukan agama atau Tuhan yang membuat gila, tapi sepak bola.
Oke, begitu saja. Silakan dipikir dulu pendapat-Ku ini, santai saja. Sekarang Aku mau pergi ke Allepo. Oh iya, selamat Natal, saudara-saudara-Ku semua.

Yesus Kristus

Yesus terbang ke langit (Foto: John Singleton Copley)
Bella Ciao!

SelebrasiHiburanYesus

500

Baca Lainnya