• 3

Melacak Jejak 'Telolet' Dalam Sejarah Klakson

Melacak Jejak 'Telolet' Dalam Sejarah Klakson



Om Telolet Om

Ilustrasi trending topic 'Om Telolet Om' (Foto: )

Klakson diperkenalkan di Inggris pada awal tahun 1800-an.
Dahulu, bentuk klakson hanyalah serupa terompet tiup dan dipergunakan terbatas untuk kereta uap. Seiring berjalannya waktu, klakson dengan bentuk baru--berupa terompet elektromagnetik--mulai dibuat untuk pertama kali oleh Miller Reese Hutchison, sosok juga kerabat dari Thomas Alva Edison.
Pada tahun 1908, klakson temuan Hutchison mulai diterapkan di mobil. Pertama kali klakson ini dipasang pada mobil pribadi yang arus listriknya berasal dari baterai sel kering berkekuatan 6 volt. Barulah pada tahun 1911 arus listrik untuk membunyikan klakson menggunakan baterai yang bisa diisi ulang. Hingga kini, klakson menjadi piranti wajib yang dimiliki setiap kendaraan.
Di Indonesia, kewajiban memiliki klakson ini tertera dalam Pasal 70 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan Bermotor dan Pengemudi.
Dalam aturan tersebut, klakson dikategorikan sebagai komponan pendukung yang merupakan bagian dari kontruksi kendaraan bermotor, sama seperti kaca spion, bumper, penghapus kaca (wiper), sabuk pengaman, atau alat pengukur kecepatan untuk kendaraan yang memiliki kemampuan kecepatan 40km/jam atau lebih pada jalan datar.
Sementara itu, ketentuan menggunakan klakson secara umum diatur dalam pasal 71 PP No.43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan.
Dalam ayat 1 dikatakan isyarat peringatan dengan bunyi yang berupa klakson dapat digunakan apabila: (1) Diperlukan untuk keselamatan lalu lintas, (2) Melewati kendaraan lain yang ada di depan. Hanya untuk kepentingan itu saja klakson relevan digunakan.
Dalam ayat 2 pasal di atas juga ditentukan larangan menggunakan klakson, yakni: (1) Pada tempat - tempat tertentu yang dinyatakan dengan rambu - rambu, (2) Apabila isyarat bunyi tersebut mengeluarkan suara yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis dan layak jalan kendaraan bermotor.
Lantas bagaimana kiteria “suara yang tidak sesuai itu”? Apakah seperti bunyi 'telolet'? Sayang sekali, tidak ada penjelasannya.

Sejarah klakson

Infografis sejarah klakson (Foto: )

Pasal 74 PP No.44 Tahun 1993 hanya menyebutkan bahwa klakson harus dapat mengeluarkan bunyi yang dapat didengar hingga jarak 60 meter. Melalui aturan ini, seruan Kementerian Perhubungan untuk melarang klakson “telolet” mestinya bisa diperdebatkan lebih lanjut.
Belakangan ini, fenomena klakson “telolet” tengah mewabah. Berdasarkan dari banyak sumber, fenomena ini diawali dari kebiasaan anak-anak kecil yang biasa menyoraki bus antar propinsi di jalur sekitar Jawa Tengah. Mulai tambah heboh setelah akun Bus Community Indonesia menampilkan tautan di laman Facebook-nya.
Pada Rabu (21/12/2016), pembahasan “Om Telolet Om” mendadak mengglobal ketika belakangan para disk jockey dan musisi kelas dunia (seperti DJ Snake, Yellowclaw, Martin Garrix, The Chainsmokers) tanpa sebab yang jelas, ikut bercuit di akun Twitter-nya masing-masing. “Om Telolet Om” pun viral dan sempat menjadi trending topic nomor sembilan dunia.
Jadi, sudahkah Anda 'telolet' hari ini?

HiburanHukum

500

Baca Lainnya