Bisnis
·
15 September 2021 21:31

Optimisme Bank Syariah di Masa Pandemi COVID-19

Konten ini diproduksi oleh Edo Segara Gustanto
Optimisme Bank Syariah di Masa Pandemi COVID-19 (112883)
searchPerbesar
Sumber gambar: Kumparan.com
Oleh: Edo Segara Gustanto*
COVID-19 melanda negara kita sejak awal Maret 2020. Tak terasa, pandemi di Indonesia berjalan hampir dua tahun. Bagi beberapa pelaku usaha, ini juga masa-masa yang sangat sulit. Bahkan ada beberapa sektor usaha terpaksa gulung tikar alias bangkrut. Lalu bagaimana dengan bank syariah?
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah penelitian yang ditulis oleh Ihsan Effendi dan Prawidya Hariani pada akhir Desember 2020 yang berjudul, "Dampak COVID-19 Terhadap Bank Syariah." Penelitian tersebut bertujuan untuk melihat ketahanan bank syariah selama pandemi, khususnya bank umum syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).
Beberapa indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return on Assets (ROA), Non Performing Finance, (NPF) dan Financing to Deposit Ratio (FDR). Penelitian ini meliputi seluruh Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah yang ada pada laporan Bank Indonesia/OJK pada tahun 2019-2020.
Kesimpulan dalam penelitian tersebut adalah, yang pertama, dalam kondisi krisis yang diakibatkan pandemi COVID-19. ROA bank umum syariah dan unit usaha syariah mengalami penurunan secara signifikan. Namun posisi ROA bank syariah masih positif dan masih jauh dari masalah yang mengkhawatirkan.
ADVERTISEMENT
Kedua, NPF Bank Umum Syariah sama sekali tidak terganggu sedangkan NPF Unit Usaha Syariah mengalami kenaikan yang cukup signifikan namun keduanya masih dalam batas aman dimana NPF-nya masih di bawah 5%. Dengan demikian dari sisi NPF menunjukkan bank syariah masih tahan banting terhadap gelombang COVID-19.
Ketiga, dilihat dari FDR bank syariah bisa dikategorikan bank syariah sangat stabil. Tidak ada perubahan yang signifikan selama pandemi COVID-19. Dengan FDR yang baik ini bank syariah masih sangat kuat dalam hal pembiayaan dan simpanan. Kestabilan FDR ini merupakan salah satu indikator bank syariah belum mengalami masalah dalam krisis ini.
Melihat fakta dari tiga indikator tersebut, bisa dikatakan bank syariah selama pandemi COVID-19 masih sangat stabil. Bagi para praktisi, hal ini bisa memberi optimisme yang lebih di masa pandemi COVID-19 ini.
ADVERTISEMENT
BSI Dapat Durian Runtuh
Dalam sebuah berita media yang bisa kita buka di dunia maya menyebutkan bahkan Bank Syariah Indonesia (BSI) justru dianggap mendapat durian runtuh. Pada 2020 BSI mendapat konversi besar-besaran dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp2 triliun, ini didapatkan dari adanya kebijakan projek ekonomi Provinsi Aceh.
Sampai di awal 2021, BSI sudah berhasil konversi sekitar Rp12 triliun dari GPK Bank Konvensional Aceh. Ditambah dengan bergabungnya tiga bank syariah yaitu BNI Syariah, BRI Syariah, dan Mandiri Syariah membuat BSI memiliki aset sekitar Rp400 triliun atau dalam perbankan melonjak berada di posisi ke-7 secara nasional.
Meski begitu, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Hery Gunardi dalam sebuah kesempatan, mengatakan penduduk muslim yang menjadi nasabah bank syariah per November 2020 baru 30,27 juta. Artinya, potensi pasar Bank Syariah yang belum tergarap masih sebesar 149 juta orang.
ADVERTISEMENT
Strategi Bank Syariah di Masa Pandemi COVID-19
Ada lima strategi yang bisa dilakukan bank syariah agar bisa bertahan di masa pandemi ini, yakni:
(1). Mitigasi Risiko. Untuk mitigasi risiko, bank syariah perlu melakukan restrukturisasi pembiayaan dikarenakan pandemi covid-19 berdampak pada sektor rill. Hal ini dipastikan menggangu kemampuan bayar debitur. Bank perlu melakukan pemetaan, mana debitur yang layak diberikan restrukturisasi dan mana yang tidak.
Melakukan pemetaan terhadap debitur perlu dilakukan oleh pihak bank pasalnya, pemberian restrukturisasi akan menekan pendapatan bank, dan apabila bank melakukan kesalahan, mereka dihadapkan dengan risiko likuiditas yang berpotensi mengetat karena pemberian restrukturisasi.
(2). Memacu pertumbuhan. Strategi kedua yang dilakukan oleh bank syariah untuk tetap memacu pertumbuhan adalah dengan memilih sektor-sektor usaha yang masih akan berkembang, contohnya salah satu ciri khas dari bank syariah adalah, bisa gadai emas, meski dampaknya persaingan saat ini cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
(3). Digitalisasi layanan perbankan. Proses digitalisasi sebenarnya telah dilakukan sebelum pandemi ini terjadi, namun saat ini menjadi momentum untuk menguji apakah digital banking milik bank akan dimanfaatkan nasabah atau tidak. Pada saat masa-masa seperti ini suatu perubahan harus dilakukan agar pandemi ini cepat berakhir.
(4). Pendampingan terhadap UMKM. Bank syariah harus melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM dengan membantu mendigitalisasi segmen usaha ini agar bisa tetap berjalan. Bentuk pendampingan dapat dilakukan melalui Corporate Social Responsibility (CSR).
(5). Melakukan Inovasi. Bank syariah harus melakukan berbagai macam inovasi, apalagi kita sudah memasuki fase new normal, yang dimana kita tidak bisa melakukan kegiatan seperti biasanya. Sama halnya bank tidak dapat menggunakan cara lama dalam menjalankan bisnis termasuk memberikan layanan kepada nasabah.
ADVERTISEMENT
Salah satu yang harus menjadi fokus perbankan syariah adalah melakukan inovasi model bisnis produk tertentu. Di mana inovasi perlu dikembangkan namun dengan tetap mengedukasi masyarakat mengenai elemen risiko sehingga label syariah akan identik dengan label kepercayaan dan keamanan. Sebagai penutup, semoga bank syariah tetap bisa berjaya di masa pandemi ini, aamiin.[]
(*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Ilmu Al-Qur'an An-Nur Yogyakarta.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white