kumparan
4 Jan 2019 2:21 WIB

Minimnya Publikasi Populer dan Ilmiah tentang Indonesia

Rak buku di Hatchards London (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Liburan akhir tahun kemarin saya gunakan untuk mengunjungi tiga toko buku terbesar dan termewah di London, termasuk 'The Waterstone di Piccadilly Circus', 'Hatchards Piccadilly', dan 'Foyles'. Seperti biasa saya selalu menuju bagian science fiction, ekonomi, dan politik karena memang sesuai dengan bidang saya.
ADVERTISEMENT
Sayangnya dari tiga toko buku tersebut hanya di 'Foyles' yang menjual kurang dari 10 buku tentang Indonesia. Kalaupun ada buku tentang Indonesia dan Bali di 'The Waterstone di Piccadilly Circus' dan 'Hatchards Piccadilly' itu juga buku petunjuk pariwisata oleh Lonely Planet.
Hal serupa juga terjadi di berbagai perpustakaan universitas-universitas di Inggris, di mana buku yang membahas tentang Indonesia sangat sedikit.
Ini sangat miris untuk bangsa yang selalu merasa kaya akan sumber daya alam, budaya, dan sejarah, tetapi sangat minim di publikasi populer dan ilmiah. Di Asia Tenggara, Singapura, Vietnam, Thailand, dan Malaysia masih mengungguli publikasi ilmiah dan populer.
Sedangkan untuk kajian Asia secara menyeluruh, Jepang, China dan Korea Selatan masih mendominasi publikasi internasional. Bahkan China merupakan satu-satunya negara dengan publikasi ilmiah di dunia, mengalahkan Amerika Serikat. Ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan karena budaya literasi di China sudah melekat sejak abad 551-479 sebelum Masehi.
ADVERTISEMENT
Budaya ini dikenal dengan confucianism yang berkembang di Dinasti Zhou. Coba Anda melihat film China klasik, mereka selalu menggambarkan bagaimana seorang pelajar adalah profesi yang sangat mulia. Tingkat martabat seseorang bahkan dinilai dari kecakapan literasi dan luas ilmu pengetahuannya.
Beberapa buku tentang Indonesia (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Ini tentu jauh berbeda dibandingkan dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Untuk bangsa dengan populasi terbesar ke empat di dunia dan salah satu negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia, Indonesia seharusnya menjadi pusat peradaban dunia. Tetapi sayang sekali, Bali bahkan lebih terkenal dari Indonesia.
Permasalahan ini tidak lepas dari peran serta negara yang gagal membangun budaya akademis yang bebas dari pengaruh politik. Anggaran pendidikan sebesar Rp 444,131 triliun tidak cukup mampu membangun budaya menulis untuk para peneliti dan dosen.
ADVERTISEMENT
Pembangunan pendidikan di Indonesia masih sangat dititikberatkan pada pembangunan pendidikan dasar dari SD hingga SMA, sehingga pembangunan universitas berkualitas sepertinya diabaikan. Gaji dosen saja lebih rendah dari gaji guru pendidikan menengah ke bawah, sedangkan seorang dosen dituntut untuk melakukan penelitian, pengabdian masyarakat, dan mengajar.
Selain itu, seorang dosen juga dituntut untuk setidaknya berpendidikan Strata 2 (Master), sedangkan untuk guru hanya butuh Strata 1. Tuntutan kinerja yang besar tidak sepadan dengan gaji yang diterima membuat banyak dosen yang sebenarnya cukup berkualitas beralih mencari proyek di luar universitas bahkan banyak yang mencari nafkah di bidang politik.
Kalau sudah begini, jangan berharap akan ada publikasi yang ilmiah dan objektif karena tulisan dan pendapat mereka sudah terdistorsi oleh kepentingan politik. Coba Anda lihat bagaimana argumentasi para akademisi yang terseret pada kepentingan politik, mereka sudah asal bicara tanpa didukung data empiris dan teori yang kuat, bahkan pendapat mereka pun bisa mengikuti kemauan yang membayar.
ADVERTISEMENT
Ini jugalah yang menyebabkan mutu pendidikan di universitas hampir sama dengan pendidikan anak SMA. Bahkan sebagian dari mahasiswa mungkin merasa pendidikan universitas hanyalah pengulangan materi sewaktu di SMA. Sangat jarang kita mendengar karya ilmiah anak bangsa yang terkenal di dunia internasional.
Toko buku terbesar di London (Foto: Mike Massaro)
Selain itu, budaya think local and act local masih sangat kental. Seolah-olah kita hanya sibuk berkompetisi dengan orang yang duduk di sebelah kita. Padahal dunia sudah tidak dibatasi oleh sekat-sekat informasi, sehingga kita sudah tidak berkompetisi secara lokal tetapi sudah di level global.
Pola pemikiran inward looking ini harus diubah, kalau tidak kualitas publikasi anak bangsa tidak akan mampu diterima di dunia Internasional.
ADVERTISEMENT
Pemerintah juga harusnya menitikberatkan pada pembangunan kualitas manusia dan tidak hanya membangun infrastruktur fisik. Kualitas sumber daya manusia sangat penting untuk membangun peradaban, kalau ini diabaikan kita akan terjebak menjadi bangsa yang hanya percaya pada informasi yang tidak berkualitas dan hoaks.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan