kumparan
27 Okt 2018 5:47 WIB

Politisi Berintelektual 'Setengah Matang'

Illustrasi (Credit: Ollyy/Shutterstock)
Menjelang Pilpres 2019, banyak tayangan debat sirkus kata-kata yang bermunculan di media TV nasional. Ada yang menampilkan politisi muda yang baru mencari lapak di politik sampai politisi berusia senja yang masih betah untuk bersuara.
ADVERTISEMENT
Kemunculan politisi-politisi muda yang diharapkan menjadi regenerasi di perpolitikan Indonesia, sepertinya masih jauh dari yang diharapkan. Meskipun mereka nyaring bersuara, tapi seakan-akan sedikit memaksa untuk didengarkan.
Begitu pun dengan politisi yang sudah lama malang melintang di berbagai kontestasi politik. Mereka juga tidak jauh berbeda. Asal lantang bersuara dengan nada tinggi biar terdengar meyakinkan meskipun jauh dari ukuran scientific, tidak menjadi persoalan.
Ukuran kualitas keilmuan, argumentasi, data, dan kepantasan seakan-akan menjadi faktor yang tidak begitu penting.
Toh, kebanyakan masyarakat tidak mungkin mau mengecek secara detail kebenaran dari ucapan mereka. Yang penting argumen dan jargon tersebut mudah dipahami, serta cepat tersimpan di alam bawah sadar, dan mudah meraih simpati. Dengan begitu sudah cukup meyakinkan untuk dijadikan sebagai bahan jualan politik.
ADVERTISEMENT
Miris melihat kualitas dari debat-debat tersebut, hanya bermain di seputar retorika, gimmick, intonasi, dan ngotot-ngototan. Masyarakat seakan-akan disuguhkan dengan permainan emosi yang sama sekali tidak membutuhkan nalar untuk mencernanya. Sehingga yang muncul dari kolom-kolom komentar ketika debat berlangsung hanya seputar makian ke masing-masing kubu.

Ukuran kualitas keilmuan, argumentasi, data, dan kepantasan seakan-akan menjadi faktor yang tidak begitu penting.

- -

Secara sengaja, mereka telah terbentuk menjadi suporter yang naif and emosional. Itu bukanlah hal yang aneh, mereka hanyalah cerminan dari tontonan argumentasi politik yang tidak berkualitas.
Hampir di semua debat politik, baik itu pemilihan kepala daerah, gubernur, sampai pada pemilihan presiden bermain di level yang sama. Masyarakat tidak disuguhkan dengan ide dan program yang inovatif. Masyarakat juga tidak diajak untuk berpikir cerdas, rasional, dan melihat ke depan.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, politisi-politisi tersebut banyak yang melabeli dirinya dengan pangkat intelektual yang tinggi (doktor, dokter, ekonom, tenaga ahli x-y, dsb). Belum lagi embel-embel lulusan luar negeri, biar lebih menyakinkan. Kebanyakan dari mereka menjadikan data yang tidak valid (hoaks) menjadi rujukan dari argumentasi tersebut.
Sebenarnya kalau mau ditelisik lebih jauh, banyakan dari politisi tersebut besar di organisasi kemahasiswaan (BEM) yang kemudian masuk di organisasi kemasyarakatan yang lain. Banyak di antara mereka kemudian dilirik oleh partai politik karena dianggap mampu untuk memengaruhi orang banyak.
Jadi terjadi simbiosis mutualisme antara partai politik dan individu yang memang mencari inang untuk mengembangkan karir politiknya. Toh memang terbukti, politik bisa secara instan membawa popularitas, jabatan, kemewahan, dan fasilitas yang tidak mungkin didapat secara cepat melalui jalur profesional.
ADVERTISEMENT
Dengan sistem rekrutmen kader politik yang instan serta tujuan pembentukan partai politik yang memang didesain untuk memperoleh kekuasaan demi kelancaran usaha para pemilik partai, maka bukan sesuatu yang aneh bila kualitas politik yang pertontonkan sekarang ini, masih jauh dari hakikat demokrasi yang berkualitas.
Bahkan untuk tataran politik sekarang ini bisa dikatakan sebagai politik yang berjubah kepalsuan dan kebohongan. Dalam tinjuan akademis inilah yang kenal dengan teori post-truth politics.
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Ralph Keyes dalam tulisannya, "The Post-Truth Era" di tahun 2004. Dalam teori ini suatu fiksi bisa dimanipulasi seolah-olah menjadi fakta dan tujuan utamanya adalah untuk memanipulasi opini para pemilih.
Dan ini benar-benar terjadi di kalangan politisi kita. Secara pribadi saya sendiri mengalaminya ketika gempa Palu baru saja terjadi dan salah satu teman saya yang kebetulan ‘seorang politisi’ mendapatkan informasi dari rekan sesama partai dengan label ‘ahli kimia’ menyatakan kepada saya bahwa gempa di Palu dan Aceh adalah hasil bom Amerika.
ADVERTISEMENT
Tujuan dari bom tersebut agar salah satu kandidat presiden mendapatkan aliran dana yang tidak terdeteksi untuk modal kampanye. Yang menarik buat saya adalah alasan dia mempercayai argumentasi tersebut karena dikemukakan oleh seorang politisi dengan lulusan pendidikan (Master) disalah satu universitas sangat terkemuka di Indonesia. Sehingga ia memastikan sudah pasti informasi dari rekannya tersebut adalah valid.
Ini berarti ada kecenderungan orang dengan mudah mempercayai sesuatu tanpa menalarnya terlebih dahulu. Ini akan sangat berbahaya apalagi kalau argumentasi yang penuh kebohongan tersebut terpapar ke masyarakat luas. Argumentasi tersebut secara sengaja diciptakan untuk membentuk emosionalitas tanpa logika, dengan demikian mereka bisa mendapatkan pendukung yang benar-benar loyal bahkan buta secara emosi.
Banyaknya tontonan argumentasi yang tidak berkualitas menunjukkan rendahnya kualitas politisi di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan