News
·
17 Oktober 2020 23:24

Ketika Kaka Merindukan Yaya

Konten ini diproduksi oleh Eki Metaforma
Ketika Kaka Merindukan Yaya (83418)
Eki Thadan
Bapak bangsa Indonesia, Bung Karno, memiliki jargon: JAS MERAH. Jangan sampai melupakan sejarah. Suatu bangsa tanpa sejarah awal, takkan menjadi bangsa yang besar. Banyak contoh bangsa besar yang menjadi besar karena tak mengingkari sejarah masa lalunya.
ADVERTISEMENT
Belajar sejarah Indonesia, tak melulu harus dari buku sejarah nasional, dari buku PSPB (pendidikan sejarah perjuangan bangsa), atau dari tuturan pelaku sejarah. Dari cerita berjudul "Ketika Yaya merindu Kaka" yang ditulis Mas Eki Thadan dalam buku antologi "Sejuta Kenangan dari Yogyakarta", kita bisa memperoleh informasi sejarah Indonesia meskipun hanya sekejap lewat. Lihat apa yang Mas Eki tuliskan dalam ceritanya: "Saat itu, tentara Jepang yang dipimpin Jenderal Imamura mendarat di Banten pada 1 Maret 1942. Pasukan Jepang dengan cepat menyerbu pusat-pusat kekuatan tentara Belanda di Jawa, tetapi tidak menyerang kota Batavia karena Belanda mempersiapkan kota Batavia sebagai kota terbuka yang berarti bahwa kota itu tidak akan dipertahankan oleh pihak Belanda" (halaman 46).
ADVERTISEMENT
Apabila dulu, di sekolah, kita belajar sejarah, maka penjelasan ini diperoleh dari guru juga buku Namun, melalui cerita kenangan Yogya, kita pun bisa mengerti bahwa pada medio 1942 Jepang menyerbu Belanda. Sepenggal sejarah tanah air bisa diperoleh ketika membaca kisah Yaya dan Kaka yang mengalir. Selain penggalan sejarah yang dinarasikan penulisnya, kita juga akan mengetahui budaya Yogya yang telah mengurat lama sejak dahulu, seperti sekaten yang dilakukan dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Orang Yogya menyebut muludan (mauludan).
Bagi masyarakat di luar Yogya, larangan memakai baju berwarna hijau saat berada di Pantai Parangtritis, tentu menimbulkan tanda tanya. Melalui Yaya, kita jadi tahu kenapa larangan itu terjadi. Konon, warna hijau itu adalah warna kesukaan Ratu Kidul, penguasa lautan selatan. Akan lebih menarik lagi apabila Yaya menjelaskan siapa Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul. Mengapa keberadaannya sangat lekat dengan tradisi jawa khususnya kraton kesultanan Yogyakakarta.
ADVERTISEMENT
Gara-gara merindu, kita bisa belajar (mengetahui) sejarah nasional sekaligus mengetahui sekilas tentang Yogya. Namun, kalau membaca sejak halaman 44 hingga halaman 54, sepertinya yang memendam rindu Kaka. Bagaimana kalau judulnya diganti "Ketika Kaka Merindukan Yaya". @ Adhita Didiet Prawatyo
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white