kumparan
24 Februari 2019 2:44

Youtuber, Bukan Saja Viral Sesaat, Tetapi Menancap Lebih Lama

Budiman Hakim menguraikan ‘Kekuatan Story Telling’ di depan 250 anak=anak milenial. (foto: eki thadan)
Adanya Youtube yang diluncurkan tahun 2005 telah mengubah tatanan dunia entertainment dan melahirkan selebritis baru yang disebutnya youtuber. Dari youtube banyak anak-anak milenial yang gandrung pengen jadi content creator, soalnya video yang diunggah, kalau sudah banyak yang menonton, memberi like atau subscribe bakal mendulang dollar.
ADVERTISEMENT
Makanya begitu, kumparan mengadakan workshop Diskusyen yang diselenggarakan kerjasama dengan YouTube, pada Sabtu (23/2/2019) di Teater Salihara, Pasar Minggu, bertema “Ada Viral di Antara Kita” dihadiri sekitar 250 peserta, yang terdiri dari kaum milenial, umumnya sudah berkiprah, ada yang baru pengen belajar dan sekedar pengen tahu tentang perkembangan dunia digital yang makin berubah cepat.
Ada juga generasi baby boomer yang lahir tahun 1960-an pengen tau, menurutnya nggak boleh hanyut oleh tsunami jejaring internet yang memfasilitasi adanya dunia digital dengan melahirkan banyak start up, e-commerce, aplikasi kemudahan yang praktis, transparan, efisien, efektif, singkat, cepat, tepat, berpacu dengan waktu dalam hitungan detik. Secara real time, terus berubah, berganti menjadi sesuatu yang baru, sistem, proses, mekanisme yang lebih sempurna.
ADVERTISEMENT
Youtube adalah salah satu dari berbagai media aplikasi dalam menyampaikan pesan dalam bentuk audio visual, selayaknya televisi atau film. Kedua media visual itu, di tahun 90-an hingga 2010 banyak pemirsanya, sekarang sudah ditinggalkan oleh generasi milenial, mereka beralih melihat tayangan itu melalui Hp dalam genggaman, dimana pun, kapan pun bisa menonton melalui Youtube.
Acara yang dimulai pk 10.30 hingga 18.00 menghadirkan lima pembicara, diantaranya; Dita Nadine, Head of Video Content kumparan memaparkan ‘Enam cara membuat konten viral’. Budiman Hakim, Creative Advisor MACS909 menguraikan ‘Kekuatan Story Telling’. Creative Director dan Certified Hypnotherapist, Asep Herna ngomongin ‘Hypnotic Copywriting’. Agung Hapsah bercerita tentang ‘Jurus Jitu Jadi YouTuber’ . Dimas Djayadiningrat, sutradara film iklan berbagi pengalaman soal bikin konten yang ‘Ngehe’.
ADVERTISEMENT
Kelima pembicara dalam workshop dari Kumparan x YouTube yang merupakan wadah bagi mereka yang mau belajar bagaimana menjadi content creator berlangsung cukup seru dan cair, bahkan bergaya bahasa milenial banget, bagaimana kata gue, kampret, kecebong, ngehe (ngeheque), anjing pun diomongin dengan canda tawa, tidak berkesan kasar dan tak berkonotasi menyimpang dari adab dan bertata krama berbahasa yang baik dan benar. Ini hanya komunikasi yang wajar dipakai oleh generasi milenial yang hadir.
“Sorry ya biar enak komunikasi, gue nggak pake menggunakan saya ya” begitu kata Dita Nadine, Head of Video Content kumparan saat mengawali paparannya.
Bahasa yang disampaikan oleh kaum milenial yang ikut worksop content creator harus memakai bahasa yang mudah dipahami oleh audien sebagai target marketnya. Video yang bakal dibuat bukan sekedar asal banyak like atau bikin supaya viral, tetapi memerlukan eksplorasi kreatif yang mendalam dan memiki konsep yang kuat.
ADVERTISEMENT
“Jangan dikira, Lady Gaga tampil menyanyi dengan gaya begitu, asal bikin. Mereka ada konsep dibaliknya. Kita sebagai sutradara harus memiliki kekayaan dan kearifan lokal untuk membuat karya yang viral, walaupun gue ngak menggaransi bakal viral. Sebab viralnya sesuatu youtube tergantung momen, kondisi keadaan saat itu,” kata Dimas sutradara film iklan Ramayana versi Qosidahan dan iklan es krim Nusantara.
“Viral atau tidaknya sebenarnya sih, bukan untuk tujuan pada mulanya, yang penting bagi yang melihat video kita itu bagian dari mereka, dan kita mengerjakan pun dengan sungguh-sungguh, penuh perasaan cintai saat mengarapnya, walaupun keterbatasan dana dan peralatan yang dimiliki, tetap berkarya yang terbaik,” kata Agung Hapsah yang waktu SD sampai tinggal di Australia, membuatnya kerap berbicara menggunakan bahasa inggis dengan aksen yang unik.
ADVERTISEMENT
Terkait bahasa yang dikatakan, kata Asep Suharna menjelaskan, “Perlu hati-hati menggunakan disksi yang tidak tepat, karena setiap kata mempengaruhi sugesti alam bawah sadar yang terekam dalam memori, apalagi kata diucapkan berulang-ulang akan membekas. Betapapun data diragukan kebenarannya, saat disampaikan berulang-ulang, maka ia dianggap sebagai sebuah kebenaran,” kata Asep, yang suka dipanggil Kang.
“Sedangkan pengulangan kata-kata dalam bentuk cerita akan diingat dalam waktu yang lama. Contoh seorang anak kecil diceritakan tentang Kacil, ia akan membekas hingga usia puluhan tahun. Nah, tidak kah kita ingin membuat pesan di youtube, bukan saja viral sesaat, tetapi menancap lebih lama.” kata Budiman Hakim dengan intonasi suara yang disesuaikan dengan narasi cerita.
ADVERTISEMENT
“Story Telling mempunyai pesan yang kuat, walau dengan cerita yang ringan, kejadian sehari-hari, orang jadi asyik mendengarkan dan terus ingin mengikuti hingga akhir, tanpa disadari ia sedang digiring pada sebuah produk dari satu brand.” ucap Budi memberi contoh video unik. (EQ)
Foto: Kumparan.com dan eki thadan
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan