Bisnis
·
22 Juni 2021 20:43
·
waktu baca 4 menit

Rumah Mahal, KPR Ribet, Anak Muda Tinggal di Mana?

Konten ini diproduksi oleh Elguarddine Hidayat
Rumah Mahal, KPR Ribet, Anak Muda Tinggal di Mana? (166933)
searchPerbesar
Photo by Fábio Hanashiro https://unsplash.com/photos/LN1xDHsGf78
Tempat tinggal menjadi salah satu aspek paling utama dalam kehidupan manusia. Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk membeli rumah. Alasan sepeti gaya hidup anak muda, mahalnya harga rumah, dan sulitnya mendapatkan KPR menjadi komplikasi mengenai susahnya membeli rumah di zaman sekarang.
ADVERTISEMENT
Data yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) pusat menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan bersih sebulan pekerja berusaha sendiri di DKI Jakarta, dengan kelompok umur 25 – 52 per Februari 2020 adalah Rp 3.400.000 (Statistik, 2020). Jika dibandingkan dengan harga rumah yang nominalnya bisa sampai ratusan juta, maka membeli rumah secara tunai bisa menjadi hal yang mustahil untuk dilakukan. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Harga Rumah

Menurut pemantauan detikFinance, di daerah Bekasi saja harga rumah paling murah adalah Rp 420 juta di daerah Jati Asih. Jika DP 5% maka jumlahnya adalah Rp 3,7 juta. Itu pun dengan masa cicilan selama 20 tahun. Sementara untuk kota yang bersebalahan dengan selatannya Jakarta seperti Tangerang bisa lebih mahal lagi. Rumah di wilayah ini paling murah sekitar Rp 500 juta. Itu pun lokasinya berada di perbatasan Tangerang-Bogor. (Sugianto, 2019)
ADVERTISEMENT
Harga tanah dan properti akan selalu naik setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ketersediaan tanah yang tidak pernah bertambah, jumlah penduduk yang terus bertambah, efek infrastruktur dan inflasi, dan naiknya harga bangunan. Studi kasus yang diambil dari channel YouTube Ferry Irwandi, ia membeli rumah pada tahun 2015 dengan luas tanah 90m2 dan luas bangunan 160m2 seharga Rp 520 juta. Sedangkan tetangga di depannya menjual rumah pada tahun 2019 dengan luas tanah 100m2 dan luas bangunan 72m2 seharga Rp 930 juta. Bisa ditarik kesimpulan bahwa harga rumah naik 100 juta per tahunnya.

Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

KPR adalah produk pembiayaan atau pinjaman yang diberikan kepada pembeli rumah dengan skema pembiayaan sampai dengan persentase tertentu dari harga rumah atau properti. KPR biasanya disediakan oleh perbankan. Dengan KPR, masyarakat tidak harus menyediakan dana sejumlah harga rumah, namun cukup menyediakan dana sebesar uang muka saja dan sisanya dapat diangsur setiap bulan selama jangka waktu KPR.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, tidak semua orang bisa mengambil KPR tersebut. Bank memiliki kebijakan yang ketat akan persyaratan KPR. Bank cenderung berhati-hati dalam memilih kreditur. Salah satunya adalah sustainability yang dimiliki oleh calon pengguna KPR. Orang yang berpenghasilan tinggi namun tidak dinilai sustainable oleh bank akan lebih susah untuk mengajukan KPR. Lain halnya dengan Pegawai Negeri Sipil, Pegawai BUMN, ataupun pegawai swasta dari perusahaan ternama yang mempunyai penghasilan relatif lebih rendah dengan sustainability yang baik. Alasannya karena bank melihat kesinambungan, bukan jumlah per bulan.

Gaya Hidup Anak Muda

Perancang keuangan, Aidil Akbar Madjid dalam paparannya (Voi.id, 2020) menyimulasikan rencana pembelian rumah seharga Rp 500 juta dengan memanfaatkan KPR. Untuk mengikuti KPR, kita minimal harus menyisihkan 20 hingga 30 persen dari total pendapatan. Maka, jika rumah yang dibeli seharga Rp 500 juta, kita harus menyiapkan uang muka sebesar Rp 100 hingga Rp 150 juta. Dengan harga tersebut kita masih memiliki tanggungan utang sebesar Rp 350-400 juta. "Kalau cicilan segitu berarti harus punya penghasilan minimal Rp 10-12 juta," kata Aidil.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya itu, Aidil mengatakan pola konsumsi anak muda yang belum mempertimbangkan aset dan investasi menjadi salah satu faktor kunci yang membuat anak muda kesulitan membeli rumah. Mereka cenderung menghabiskan uang untuk pengalaman dan hiburan. "Kebanyakan dari mereka itu uangnya habis untuk travelling, untuk ngopi-ngopi, mereka lebih mengumpulkan experience daripada aset," kata Aidil.

Kesenjangan Ekonomi dan Regulasi

Satu lagi faktor yang menyebabkan harga rumah melejit tinggi berasal dari orang–orang dengan tingkat ekonomi tinggi yang menggunakan rumah dan properti sebagai instrumen investasi. Dalam Global Wealth Report 2018 yang dirilis Credit Suisse (Suisse, 2018) menunjukkan bahwa 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 46,6% total kekayaan penduduk dewasa di tanah ait. Sementara 10% orang terkaya menguasai 75,3% total kekayaan penduduk. Ketimpangan kekayaan di Indonesia yang masih cukup tinggi menyebabkan rupiah ‘mampet’ di beberapa golongan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Riset lapangan yang dilakukan oleh Ferry Irwandi di kanal Youtube-nya di salah satu kompleks mewah di Bekasi mendapati 20 rumah yang dijual. Setelah menghubungi pihak properti, 20 rumah tersebut hanya dimiliki oleh 12 pemilik. Diasumsikan bahwa satu pemilik bisa memiliki dua sampai tiga unit rumah di kompleks tersebut. Penimbunan properti tersebut tentu saja menimbulkan masalah yang sudah dibahas di atas mengenai harga rumah dan tanah naik setiap tahunnya.
Pemerintah harus lebih perhatian lagi dalam masalah redistribusi kekayaan. Menurut World Economic Forum, Indonesia menjadi negara dengan urutan 5 teratas yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) (Forum, 2020). Hal tersebut merupakan kabar baik sekaligus ironi bagi masyarakat Indonesia. Potensi perkembangan ekonomi yang sebegitu besar, namun masyarakatnya masih jauh dari kata sejahtera. Patut dipertanyakan, perkembangan ekonomi ini arahnya kemana. Apakah kesejahteraan masyarakat, atau penambahan kekayaan bagi segelintir kelompok orang?
ADVERTISEMENT

Hidup Vertikal, Bukan Horizontal

Salah satu solusi untuk memperbaiki ekosistem harga rumah yang melambung tinggi adalah hidup di apartemen atau rumah susun. Meskipun masih dianggap sebagai sesuatu yang belum biasa di Indonesia, hidup di apartemen memiliki banyak manfaat. Dari segi harga misalnya, apartemen yang berlokasi di Bandung dijual mulai dari Rp 200 juta dengan isi furnitur yang sudah lengkap. Belum lagi ditambah oleh fitur yang disediakan oleh apartemen seperti kolam renang, restoran, gym, dan lain-lain. Apartemen juga menawarkan tingkat keamanan yang relatif tinggi daripada perumahan. Dan yang terakhir, pemeliharaan apartemen lebih murah dan mudah untuk dilakukan.
Elguarddine Hidayat, Mahasiswa S1 Digital Public Relations Telkom University

Daftar Pustaka

Forum, W. E. (2020, Juli 1). www3.weforum.org. Retrieved from Digital Transformation: Powering the Great Reset : http://www3.weforum.org/docs/WEF_Digital_Transformation_Powering_the_Great_Reset_2020.pdf
ADVERTISEMENT
Statistik, B. P. (2020, November 30). Rata-rata Pendapatan Bersih Sebulan Pekerja Berusaha Sendiri. Retrieved from bps.go.id: https://www.bps.go.id/statictable/2020/07/07/2108/rata-rata-pendapatan-bersih-berusaha-sendiri-menurut-provinsi-dan-kelompok-umur-2020.html
Sugianto, D. (2019, Agustus 4). Survey Harga Rumah yang Bikin Kelas Menengah Tanggung Galau . Retrieved from Detik: https://finance.detik.com/properti/d-4651486/survey-harga-rumah-yang-bikin-kelas-menengah-tanggung-galau
Suisse, C. (2018, 10 18). credit-suisse.com. Retrieved from Global Wealth Report 2018: US and China in the lead: https://www.credit-suisse.com/about-us-news/en/articles/news-and-expertise/global-wealth-report-2018-us-and-china-in-the-lead-201810.html
Voi.id. (2020, Februari 07). Voi. Retrieved from Segala Panduan bagi Generasi Muda Wujudkan Mimpi Beli Hunian: https://voi.id/tulisan-seri/2581/segala-panduan-bagi-generasi-muda-wujudkan-mimpi-beli-hunian/
https://www.youtube.com/channel/UCC_OYI6VZtuEZuq49Ht-cQQ
https://unsplash.com/photos/LN1xDHsGf78