kumplus- Opini Elisa Sutanudjaja- Benhil

Rumah Makin Besar, Keluarga Makin Kecil

Pendiri dan Direktur Rujak Center for Urban Studies. Urbanis.
6 Januari 2022 15:21
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Saat sedang berselancar di Twitter, saya menemukan sebuah thread kutipan dengan judul Fenomena Antagonis Akhir Zaman. Begini bunyinya, “Banyak rumah semakin besar, tapi keluarga semakin kecil”. Mungkin kutipan tersebut memiliki konteks tertentu bagi Muslim, namun sebenarnya ia juga menggambarkan kondisi sejumlah permukiman dan kebijakan perumahan perkotaan di Indonesia.
Kutipan tersebut berlaku pada permukiman formal tengah kota (entah itu di Jakarta, Surabaya, Semarang, atau Cirebon) yang dengan keras kepalanya berdiri sebagai rumah tapak. Sementara di waktu yang sama, jumlah keluarga terus menciut atau hanya tersisa generasi kakek-nenek atau berubah menjadi kantor dan kafe kekinian.
Salah satu contoh daerah yang dimaksud adalah Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat yang jumlah penduduknya terus menurun. Kecamatan ini juga memiliki kepadatan lantai hunian berbanding jumlah penduduk terendah dibandingkan kecamatan lain. Artinya luas hunian per kapita di Menteng sangat besar, bisa 4-5x lipat lebih tinggi dibandingkan Kecamatan Tambora Jakarta Barat.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparan+
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparan+
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparan+
Dengan mitos, mimpi, dan janji-janji, pembangunan ibu kota baru dengan segera terealisasi. Kota Dunia untuk Semua, katanya, sedikit mirip dengan Germania. Kolom Elisa Sutanudjaja, tiap Kamis, di kumparanplus.