Kumplus- Opini Elisa Tanu

Rumah Tak Terbeli Walaupun Milenial Cuma Minum Kopi Sachet

Pendiri dan Direktur Rujak Center for Urban Studies. Urbanis.
21 Juli 2021 15:49
ยท
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Dalam beberapa tahun ke belakang, muncul banyak anjuran kepada milenial untuk mengurangi gaya hidup konsumtif dan mulai menabung serta berinvestasi. Salah satu tujuannya agar dapat membeli rumah. Namun, apakah benar dengan mengurangi ngopi, nonton bioskop, dan hiburan lain milenial atau generasi berikutnya mampu menghuni rumah yang layak?
Mari kita lihat contoh di DKI Jakarta. Harga rumah subsidi menurut Keputusan Menteri PUPR 242/KPTS/M/2020 untuk daerah Jabodetabek adalah Rp168 juta, atau naik Rp10 juta (6,3%) dari 2019. Sementara itu, UMP Jakarta 2021 cuma bertambah 3,27% menjadi Rp4,4 juta. Sudah begitu, rumah-rumah subsidi itu kebanyakan didirikan di Bodetabek, hampir mustahil menemukannya di Jakarta.
Di sisi lain, menurut hasil Survei Properti Residensial dari Bank Indonesia, dalam kurun waktu delapan tahun, harga rumah tipe kecil (luas bangunan paling lebar 36 m2) DKI Jakarta mengalami kenaikan sebesar 62%. Dalam kurun waktu yang sama, harga rumah tapak tipe menengah mengalami naik 46%. Menurut data olahan Pihri Buhaerah dari Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, selisih harga rumah tipe kecil subsidi dan non subsidi DKI pada 2018 mencapai 220 juta.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparan+
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparan+
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparan+
Dengan mitos, mimpi, dan janji-janji, pembangunan ibu kota baru dengan segera terealisasi. Kota Dunia untuk Semua, katanya, sedikit mirip dengan Germania. Kolom Elisa Sutanudjaja, tiap Kamis, di kumparanplus.