Konten dari Pengguna

Perempuan dan Standar yang Tak Pernah Selesai

Erni Febriyani
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
2 Desember 2025 16:03 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Perempuan dan Standar yang Tak Pernah Selesai
Sejak kecil, perempuan dibentuk oleh standar yang tak terlihat tapi selalu mengukur. Apakah memenuhi ekspektasi itu benar-benar membuat kita bahagia, atau justru membuat kita kehilangan diri sendiri?
Erni Febriyani
Tulisan dari Erni Febriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Ada hal-hal dalam hidup yang terasa berjalan begitu pelan, tetapi diam-diam meninggalkan jejak panjang dalam cara seseorang memandang dirinya. Bagi banyak Perempuan, salah satu jejak itu datang dari standar, baik yang diucapkan langsung, maupun yang hanya lewat tatapan dan ekspektasi sosial. Standar-standar itu seperti bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun langkah diambil. Tidak keras, tapi konsisten. Tidak terlihat, tapi membekas.
ADVERTISEMENT
Sejak kecil, perempuan kerap dibentuk oleh kata-kata yang terbungkus dalam nasihat,
“Harus begini supaya pantas.”
“Jangan begitu nanti dikira…” atau
“Perempuan itu selayaknya….”
Ilustrasi menara— dokumentasi pribadi
Kalimat-kalimat itu mungkin tidak dimaksudkan sebagai tekanan, tapi tumbuh menjadi meteran yang selalu menghitung. Perempuan didorong untuk terlihat kuat tapi jangan terlalu keras, diminta tegas tapi jangan sampai dianggap menantang, diharapkan mandiri tapi tidak boleh melampaui batas nyaman orang lain. Sebuah garis halus yang sering kali tidak pernah diberi tahu letaknya di mana.
Anehnya… semakin dewasa standar itu bukannya berkurang, justru menjadi lebih halus, lebih tersamar dan lebih membingungkan. Dari cara berpenampilan, berbicara, bersikap, bahkan cara mencintai diri sendiri… semuanya sering kali memiliki aturan tak tertulis yang katanya menentukan apakah seorang perempuan layak dihargai. Padahal, siapa sebenarnya yang berhak menentukan kelayakan itu?
ADVERTISEMENT
Sangat melelahkan… dan yang paling melelahkan bukanlah tuntutan dari luar, tetapi bagaimana standar itu perlahan masuk ke dalam pikiran, menjadi suara kecil yang suka mengoreksi diri sendiri. Suara yang membuat seseorang merasa perlu meminta maaf meski tidak salah, merasa takut terlihat terlalu ambisius atau merasa harus selalu terlihat baik-baik saja agar tidak dicap macam-macam. Lama-lama, perempuan belajar menyesuaikan diri bukan karena ingin, tetapi karena terbiasa untuk tidak merepotkan siapapun.
Namun, ada titik ketika seseorang mulai bertanya, “apakah hidup dengan standar orang lain benar-benar membawa ketenangan? Atau justru menghilangkan ruang untuk mengenal diri sendiri apa adanya?” melepaskan diri dari standar yang tak pernah selesai memang tidak mudah. Tapi perjalanan itu bisa dimulai dari keberanian sederhana, ‘mengakui bahwa diri sendiri pantas menentukan ukuran bahagianya, pantas mengambil ruang tanpa merasa bersalah, pantas didengarkan tanpa harus menurunkan suaranya.’
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, menjadi perempuan bukan soal memenuhi ekspektasi, melainkan proses Panjang untuk berdamai dengan diri sendiri, untuk belajar mencintai keberanian kecil yang setiap hari muncul, meski orang lain tidak selalu memahami. Karena di balik standar yang tak pernah usai, ada satu hal yang paling penting; “perempuan selalu punya hak untuk menentukan hidupnya sendiri!”
Ilustrasi sunset-dokumentasi pribadi