kumparan
search-gray
Woman25 April 2020 21:11

Apa yang Membunuh Cinta?

Konten kiriman user
Apa yang Membunuh Cinta? (235644)
Ilustrasi patah hati. Foto: Shutterstock
Seseorang mengatakan kepada saya, separuh bercanda, tapi sungguh ia meyakini apa yang ia katakan (kelihatannya begitu hehehe), bahwa mendengar pasangannya kentut, melihatnya gosok gigi (yang sampai busa pasta giginya keluar dari mulut hiks), mendengar bunyi-bunyi yang dihasilkan pasangannya ketika sedang di toilet (tahu dong itu lho bunyi kalau lagi pup atau pipis hehehe). Semua itu menurutnya bisa perlahan membunuh cinta.
ADVERTISEMENT
Saya kira cinta tidak akan mati karena hal-hal tersebut. Bukan bunyi (maaf) kentut atau pipis atau “ee” yang akan membunuh cinta. Namun bunyi-bunyi “natural” ini bisa jadi salah ditangkap sebagai pembunuh cinta karena fungsinya memang bisa menjadi “perantara” menuju kematian cinta.
Maksudnya begini: Ketika kita sudah dapat melakukan hal-hal “natural” tersebut di hadapan suami/istri/pacar tanpa merasa malu atau jengah, sebenarnya menunjukkan kita sudah merasa nyaman dengannya.
Kenyamanan semacam ini akan mengantarkan kita memasuki tahap selanjutnya dalam hubungan. Tahap di mana kita menanggalkan topeng-topeng dalam diri kita, menampilkan diri yang sesungguhnya. Nah, ketika sudah sampai pada tahap ini, jika kedua belah pihak tidak waspada, mereka dapat membunuh cinta perlahan-lahan.
ADVERTISEMENT
Tanpa disadari, pasangan membawa cinta secara perlahan menuju kematian oleh sikap dan perilaku menyerang (offensive) dan atau kelakuan bertahan (defensive) terhadap serangan (atau serangan yang dipersepsikan secara subjektif: Merasa terserang, padahal pasangan tidak bermaksud menyerang).
Menyerang dan merasa terserang sebenarnya adalah bentuk palsu dari cinta diri. Kita merasa diri yang paling benar sehingga kita mengkritik pasangan, menuntutnya melakukan hal yang kita sukai atau yang menyenangkan kita, berdasarkan standar penilaian kita.
Kita merasa diri yang paling benar sehingga merasa tersinggung ketika pasangan sedikit saja menyatakan ketidaksetujuannya. Kita merasa terserang sehingga merasa perlu melindungi diri. Kita tersinggung, marah, dan lantas membela diri bahkan balik menyerang.
Kita menunggu pasangan datang menghampiri kita untuk meminta maaf, dan ketika ia meminta maaf, semakin mengukuhkan keyakinan bahwa kita yang benar, sekaligus bahwa kita dicintai. Tanpa bertanya pada diri sendiri mengapa sedemikian penting untuk terus-menerus merasa dicintai?
ADVERTISEMENT
Introspeksi diri: Menggali dan memeluk masa lalu
Jika kita sering merasa mudah tersinggung padahal pasangan tidak bermaksud demikian, mungkin saatnya kita melakukan introspeksi diri. Apa ada pengalaman di masa lalu yang membuat kita senantiasa merasa dikritik atau diserang?
Sebaliknya jika pasangan sering merasa terserang oleh kita, kita juga perlu melakukan introspeksi diri. Bagaimana cara kita menyampaikan apa yang hendak kita sampaikan, mengapa sampai bisa senantiasa dipersepsikan sebagai kritik atau serangan oleh pasangan kita?
Adakah keinginan untuk menunjukkan bahwa kita yang paling benar, paling matang, paling bijaksana, paling berpengalaman?
Seringkali kita berkilah tidak bermaksud mengkritik, hanya memberitahukan cara yang lebih benar/lebih tepat/lebih efektif. Lantas pertanyaannya adalah ada apa di balik tindakan yang sepertinya bertujuan baik ini?
ADVERTISEMENT
Mengapa kita terobsesi ingin membuat pasangan jadi lebih baik? Dan lagi-lagi sesuai dengan standar kita? Adakah keinginan yang mungkin tidak disadari untuk “menyempurnakan” pasangan? Dan mengapa demikian?
Perlu pula kita menggali diri sendiri, pasangan yang memang mudah tersinggung atau memang kita punya kecenderungan agresif secara verbal?
Lagi-lagi biasanya hal ini berkaitan erat dengan pengalaman kita di masa kanak-kanak, dengan pengasuhan orang tua ataupun dalam interaksi kita dengan figur-figur lain di sekitar kita.
Orang-orang yang tidak cukup mendapatkan cinta pada masa kanak-kanaknya, atau menghayati masa kecilnya sebagai anak yang kurang/tidak dicintai (misalnya meyakini orang tua lebih mencintai adik/kakak), atau mengalami trauma-trauma lainnya (pelecehan atau kekerasan fisik/seksual/psikis dll) perlu dan dapat belajar memeluk luka-luka emosionalnya di masa lalu sebelum dapat merasakan cinta dan mempersembahkan cinta dari orang-orang yang memberi cinta kepadanya dan menerima cinta darinya.
ADVERTISEMENT
Lantas bagaimana mencintai agar cinta tidak mati?
Prosa ini saya buat berdasarkan pengalaman mereka yang mengalami kekerasan di masa lalu. Tidak dicintai, mereka pun tidak mampu mencintai. Sering mendapatkan perlakuan kasar, mereka cenderung memproteksi diri agar tidak lagi disakiti.
Mereka berorientasi pada diri sendiri sehingga kurang perhatian, cenderung mementingkan diri sendiri, dan mudah tersinggung.
Sikap mudah tersinggung ini digambarkan pasangannya sebagai perpaduan antara narsisme dan paranoid dengan ciri-ciri sbb: Merasa dirinya yang benar, orang lain selalu dituduh menyerangnya atau hendak menyakitinya atau sengaja membuatnya kesal.
Ini yang saya katakan sebagai bentuk palsu dari narsisme. Ia hanya memproteksi diri, bukan mencintai diri.
Sekaligus prosa ini kiranya memberi sedikit masukan mengenai bagaimana sebaiknya kita mencintai agar cinta itu niscaya tidak akan mati.
ADVERTISEMENT
Aku mencintaimu, dirimu
Kau mencintaimu, dirimu
Aku tidak sedang menghancurkan diriku
Kau yang sedang menghancurkanku, kau kan terus menghancurkanku
Kau yang telah remuk,
Anak yang tak dicintai, mampukah engkau mencintai?
Mencintai, anakku, bukan menyenangkan hatiku dengan caramu
Mencintai adalah mendengarkan
Mencintai adalah memahami
Mencintai adalah merawat dan peduli
Mencintai adalah memberi perhatian
Mencintai adalah senantiasa mempertimbangkan dia yang dicintai
Mencintai bukanlah dengan kado-kado indah
Mencintai adalah menunjukkan kasih sayang dengan kelembutan
Dari sejak dimulainya hari
Sampai kita berucap selamat bermimpi indah
Mencintai adalah melingkupi dia yang kau cinta dengan cinta
Dan dalam cinta, cintaku
Kita bercinta, bukan sekedar bersenggama
Kita mencapai kenikmatan sambil membawanya dalam kenikmatan
ADVERTISEMENT
Dalam cinta, kita tidak mungkin menjadi Cartesian
Karena cinta tidak dapat dijelaskan, ia tidak didasarkan pada alasan
Dalam cinta, kita tidak ber-matematika
Ketika mencintai, kita tidak menghitung sudah berapa banyak memberi dan menerima
Kita memberikan sepenuh cinta yang kita punya
Tanpa kehilangan cinta akan diri sendiri
Mencintai, kekasihku, adalah memperlakukan yang dicintai dengan kelembutan, bukan dengan sarkasme dan kecurigaan
Mencintai adalah melindungi, bukan membela diri
Durimu, kaktusku, menusukku, membuatku kesakitan
Kumencintaimu, cintaku, dan ku mencintai diriku
Tenangkan dirimu, tarik perlahan nafasmu, dia sudah tidak lagi di sana
Menangislah, menangis di bahuku, menangislah bersamaku.
Selamat memasuki bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat, dan saya kira juga bulan penuh cinta.
ADVERTISEMENT
*Cartesian mengacu ke pemikiran-pemikiran Rene Descartes, yang menekankan logika, bahwa segala sesuatu harus rasional, sistematik, dan metodik.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white