kumparan
Tekno & Sains27 Maret 2020 17:03

COVID-19, Pembentukan Representasi dan Perlunya Berhenti Berspekulasi

Konten kiriman user
Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
Serge Moscovici, bapak psikolog sosial berkebangsaan Prancis asal Rumania, membangun teori representasi sosial sebagai hasil penelitian disertasinya (1961). Teori ini menyatakan bahwa masyarakat akan membentuk yang ia namakan sebagai representasi sosial ketika dihadapkan pada suatu ide/objek baru.
ADVERTISEMENT
Didorong oleh rasa takut atau terganggu/tidak nyaman oleh ketidakmengertiannya, manusia akan berusaha memahami ide/objek baru yang masih asing baginya. Hal ini yang saya lihat sedang terjadi saat ini dengan adanya pandemi COVID-19.
Awal-awal pembentukan sebuah representasi, kita akan menghadapi ide/objek asing dengan menggunakan representasi lama yang sudah mengakar dalam masyarakat. Di sinilah, karena mengacu kepada kepercayaan, mitos-mitos, tradisi, peran budaya sangat kuat.
Masyarakat Indonesia misalnya tidak mengalami proses pembentukan representasi COVID-19 yang sama dengan masyarakat Prancis.

Masyarakat Prancis dan COVID-19

Eiffel sepi imbas corona
Jalan-jalan kosong dan halaman rumput terlihat sepi di Menara Eiffel di Paris, Prancis. Foto: Daniel Brown/Sipa USA VIA REUTERS
Ketika pertama kali kita mendengar adanya kasus COVID-19 di Wuhan, orang Prancis menyamakannya dengan influenza biasa. Sampai awal Maret, boleh dibilang kami di sini masih tenang-tenang saja. Apalagi influenza sendiri setiap tahunnya mengakibatkan banyak kematian di negara ini. Jadilah orang Prancis malah sempat bingung mengapa dunia begitu heboh dengan COVID-19.
ADVERTISEMENT
Ketika Badan Pendidikan Nasional melalui sekolah-sekolah menyatakan bahwa siswa/i yang batuk-batuk tetapi masih sekolah akan dipanggilkan ambulans jika suhu tubuhnya meninggi, para orang tua mengeluh bahwa sekolah berlebihan. Bukan apa-apa, sejak awal tahun ini, sekolah-sekolah mogok terus untuk menolak RUU Pensiun.
(Di sini anak batuk-batuk tetap masuk sekolah asalkan tidak demam. Selain karena penyakit ini memang sangat biasa terjadi saat musim dingin, kedua orang tua juga umumnya bekerja dan tidak ada baby sitter atau asisten rumah tangga).
Seminggu kemudian, Presiden Macron mengumumkan bahwa sekolah ditutup. Pemerintah mulai mengatur agar orang tua dapat bekerja dari rumah. Diharapkan orang tua dapat mendampingi anak-anaknya belajar di rumah.
Saat itu Presiden belum memerintahkan lockdown tetapi masyarakat diimbau untuk tidak keluar rumah kecuali ada urusan penting.
ADVERTISEMENT
Untuk masyarakat Prancis, penting untuk berjalan-jalan menghirup udara segar, membawa anak-anak bermain di taman, dan menikmati sinar matahari (yang jarang muncul). Jadilah hari pertama sekolah ditutup, taman-taman pun penuh.
Gambaran suasana ini menjadi viral, banyak dikritik pakar, yang kemudian mendesak Presiden mengeluarkan perintah lockdown.
Emmanuel Macron, Presiden Prancis
Emmanuel Macron, Presiden Prancis. Foto: AP Photo/Francois Mori, Pool
Tanggal 17 Maret 2020 pukul 12 siang persisnya, rakyat Prancis sudah tidak boleh lagi keluar rumah kecuali untuk lima alasan penting (belakangan ditambahkan 3 lagi untuk mereka yang tengah berurusan dengan hukum). Hanya satu orang dari satu keluarga yang boleh keluar rumah; tidak boleh keluar pada saat bersamaan.
Perintah Presiden inilah, dan bukan jumlah berapa orang yang meninggal akibat COVID-19, yang membuka kesadaran orang Prancis bahwa COVID-19 bukan sembarang influenza, bahwa virus ini sudah “menyerang” negaranya dan mengancam nyawa mereka. Ucapan Presiden Macron begitu bombastis, "Kita dalam keadaan perang."
ADVERTISEMENT

COVID-19 di Indonesia: Dari Guyonan, Doa dan Iman, hingga Pil Kina

Ilustrasi Bendera Indonesia
Ilustrasi Bendera Indonesia. Foto: Shutterstock
Sedangkan di Indonesia, awal-awal masyarakat kita sibuk mengirimkan pesan-pesan penuh guyonan di WhatsApp ataupun mempublikasikannya di media-media sosial. Kita orang Indonesia tidak akan terkena Covid-19 karena kita sudah terbiasa dengan yang kotor-kotor, makan di pinggir jalan dengan makanan bercampur debu, makan bakso berformalin, dll.
Lucu-lucu dan kita tergelak, saya juga. Inilah masyarakat kita, kita memang lebih gembira dibandingkan masyarakat Eropa.
Sebagai negara berkebangsaan yang berketuhanan, kita pun membawa Tuhan dalam upaya “berkenalan” dengan virus ini. Tuhan mengutuk Cina dan Eropa? Jika kita beriman, kita tidak akan terkena virus ini. COVID-19 adalah hukuman Tuhan untuk orang-orang kafir. COVID-19 adalah cobaan (atau ujian?). Dengan doa dan iman, kita akan dijauhkan dari virus ini.
ADVERTISEMENT
Ketika pemerintah mulai memberitakan adanya kasus di Indonesia, kita tersentak. COVID-19 adalah pandemi, dan negara kita tidak lolos dari pandemi ini. Kita tersadar bahwa bukan hanya perlu berdoa dan beriman, tapi orang beriman pun harus berhikmat: Kita butuh obat untuk sembuh jika terkena virus ini.
Masyarakat kita pun ramai-ramai berburu Pil Kina. Sementara penelitian mengenai efektivitas Pil Kina sendiri baru akan dimulai, dengan melibatkan 3200 penderita COVID-19 di seluruh Eropa, 800 di antaranya adalah penderita di Prancis.
Berhenti Berspekulasi
 Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona Foto: Dok. Watiek Ideo dan Luluk Nailufar
Yang pasti, di Prancis ataupun Indonesia, kita mulai paham bahwa COVID-19 bukan batuk pilek biasa. Ada yang berbeda dengan virus ini.
Lagi-lagi kita berusaha menjelaskan apa yang membedakan COVID-19 dengan batuk pilek biasa. Semua orang, pakar ataupun bukan, berlomba-lomba memberikan pendapatnya. Yang ada adalah kekacauan informasi, informasi berlebihan, dan tidak tahu lagi mana yang bisa kita percaya dan tidak.
ADVERTISEMENT
Mengikuti teori pembentukan representasi sosial, fenomena ini sebenarnya adalah normal. Kita sedang memasuki tahap objektivasi, yakni pengkonkretan ide-ide mengenai COVID-19, agar tidak lagi abstrak, agar bisa lebih mudah kita pahami.
Tetapi sebagaimana Moscovici sudah mengingatkan saat ia menggagas teorinya, kita perlu waspada dalam tahap ini. Jangan terpengaruh oleh informasi-informasi yang sifatnya masih spekulasi apalagi menyebarkannya karena akan menghambat terbentuknya pemahaman yang benar.
François Renaud, ahli biologi dari CRNS (Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis), spesialis di bidang evolusi penyakit-penyakit menular menyatakan bahwa satu hal yang pasti saat ini adalah virus tidak akan hilang total setelah wabah berlalu. Kita akan hidup bersama virus ini.
Yang perlu kita lakukan adalah mengikuti apa yang sudah dianjurkan WHO untuk menjaga jarak sosial, mencuci tangan, dll. Dan berhenti berspekulasi, biarkan para ahli bekerja meneliti virus ini untuk memahami parameter biologis dan ekologis yang ia perlukan dalam reproduksi, penyebaran, dan penularannya.
ADVERTISEMENT
Semoga pandemi ini bisa segera berlalu dan tidak memakan korban lebih banyak lagi.
Catatan : masyarakat yang saya gambarkan di atas lebih mengacu kepada masyarakat perkotaan. Masyarakat pedesaan membentuk representasi yang saya kira lebih khas lagi dengan adanya mitos-mitos dan tradisi yang kuat. Beberapa artikel di media telah menulis mengenai hal ini. Salah satunya tulisan Paksi Raras Alit mengenai mitos dan takhayul pageblug di Jogja.
---
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran coronavirus. Yuk, bantu donasi sekarang!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan