Mengapa Perempuan Jadi Feminis?

#Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan# #Beauvoir Melintas Abad# Psikolog, peneliti, penulis
Konten dari Pengguna
8 Maret 2021 17:15
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Ester Lianawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengapa Perempuan Jadi Feminis? (52380)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah perempuan melakukan aksi unjuk rasa memperingati Hari Perempuan Internasional di Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta, Senin (8/3/2021). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
Sigmund Freud, bapak psikoanalisis, memang punya pandangan yang relatif suram tentang perempuan. Mengenai perempuan feminis, ia berpendapat bahwa perempuan menjadi feminis karena mereka tidak melewati masa phallic dengan baik, sehingga:
ADVERTISEMENT
  • ia jadi perempuan histerik yang tidak mampu menginternalisasikan norma/aturan masyarakat;
  • ia tidak mampu mengembangkan femininitas sejati, untuk jadi perempuan "sejati" menurut Freud alias ibu rumah tangga yang "baik";
  • ia terfiksasi pada kepuasan klitoris, yang melambangkan seksualitas aktif, sehingga ingin menjadi seperti laki-laki, terbukti dengan menuntut diberikan hak-hak yang sama dengan laki-laki;
  • ia memiliki kepribadian yang lemah sehingga gangguan histeria nya tidak bisa disembuhkan (banyak perempuan pada zaman Freud-abad 18-menjadi histerik karena memang tertekan oleh budaya patriarkis).
Menolak pandangan Freud yang negatif ini mengenai perempuan, psikologi feminis pun lahir dan berkembang. Dan bagaimana psikologi feminis memandang perempuan feminis?
Menurut psikologi feminis, perempuan menjadi feminis karena mereka punya kekuatan ganda, yaitu kekuatan serigala betina dan kekuatan penyihir (Mengenai dua kekuatan ini, dapat dibaca pada buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan : Psikologi Feminis Untuk Meretas Patriarki, penerbit EA Books).
ADVERTISEMENT
Perempuan feminis dalam pandangan ini adalah mereka yang punya keberanian untuk mendobrak dan memberontak terhadap nilai-nilai dan tuntutan-tuntutan budaya patriarkis.
Perempuan feminis adalah mereka yang sudah bebas, atau yang sudah paham, dan karenanya terus berjuang untuk bebas dari mitos kesempurnaan dan kompleks persaingan antar perempuan.
Perempuan feminis adalah perempuan yang melihat dengan putingnya dan berbicara dari vulvanya.
Selama puting merupakan organ tubuh yang sensitif terhadap perubahan cuaca, sentuhan, suara, dan lain-lain, perempuan feminis adalah perempuan yang punya kepekaan untuk melihat ketidakadilan.
Selama vulva melambangkan kedalaman, perempuan feminis tidak sekadar bicara, tetapi terlebih dahulu mempertimbangkan jika yang ia katakan memang dapat membuahkan kebaikan.
Terinspirasi dari Clarissa Pinkola Estès, Mona Chollet, dan Lou Andreas-Salomé.
Selamat Hari Perempuan Sedunia.
Mengenai masa phallic, dapat dilihat pada perkembangan psikoseksual manusia menurut Sigmund Freud.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020