Pantaskah Kartini Disebut Feminis?

#Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan# #Beauvoir Melintas Abad# Psikolog, peneliti, penulis
Konten dari Pengguna
21 April 2021 15:20
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Ester Lianawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pantaskah Kartini Disebut Feminis? (59938)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock
Keputusan Kartini untuk memilih menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki tiga istri dan mengabaikan impiannya untuk melanjutkan studi di Batavia sering mengundang perdebatan mengenai statusnya sebagai feminis. Ia yang menentang patriarki, mengapa ia tunduk pada sistem ini?
ADVERTISEMENT
Sebagian orang mengalami disonansi kognitif, ketidakseimbangan kognisi ketika dua elemen bentrok dan tidak logis. Bagaimana kita dapat menyebut Kartini sebagai feminis sementara keputusannya sendiri melenceng dari nilai-nilai perjuangan feminis? Sebuah pertanyaan yang saya akui, cukup lama juga mengganggu saya.
Membaca pemikiran-pemikiran filsuf dan psikoanalis perempuan, secara khusus Sabina Spielrein, Lou Andreas Salomé, Clarissa Estés (bukan filsuf), dan Carol Gilligan, saya tersadarkan telah melihat keputusan Kartini dari perspektif yang maskulin.
Rasional, logis, dan objektif, prinsip-prinsip maskulin ini yang kita terapkan dalam menganalisis keputusan Kartini untuk mau dipoligami.
Adalah tidak logis dan tidak rasional ketika perempuan yang gagasan-gagasan feminisnya membangkitkan kekaguman perempuan-perempuan Eropa, memilih untuk menjadi istri keempat ketimbang memanfaatkan kesempatan yang sudah ada di depan mata untuk menggapai cita-cita.
ADVERTISEMENT
Sungguh keputusan yang didasarkan pada “perasaan”, bersifat emosional, dan karenanya tidak objektif. Padahal pengalaman perempuan menunjukkan perlunya kita membongkar kembali makna objektivitas.
Keempat filsuf dan atau psikoanalis perempuan yang saya sebutkan di atas sepertinya menyadari bahwa kehidupan perempuan berpusat dalam relasinya dengan orang lain.
Bahkan Lou Andreas Salomé, yang mendasarkan hidupnya pada kebebasan total, dalam teorinya mengenai narsisisme (cinta diri) menegaskan bahwa tindakan moral manusia yang mengacu kepada cinta diri untuk mendengarkan suara hati dan jujur pada diri sendiri dalam prosesnya akan melibatkan kepedulian kepada sesama.
Perlu diketahui, Salomé, filsuf abad 19 yang sempat terlupakan inilah yang memberi warna positif pada teori narsisisme dari Sigmund Freud. Positif dalam arti cinta diri bukanlah keegoisan tetapi justru berhubungan dengan orang lain.
ADVERTISEMENT
Salomé tidak berfokus pada perempuan ketika ia bicara tentang suara hati. Adalah Clarissa Estés yang mengangkat kemampuan untuk percaya pada intuisi, untuk mendengarkan suara hati, sebagai keutamaan perempuan.

Intuisi ini bukan bersifat kebetulan, bukan sesuatu yang semata subjektif. Kekuatan intuisi perempuan adalah hasil pelatihan sepanjang hidup, hasil belajar melihat ke dalam diri dengan mengacu kepada pengalaman-pengalamannya, kegagalan-kegagalan, dan kenaifan-kenaifannya di masa lalu.

Dengan terasahnya ketajaman intuisi perempuan, perempuan akan mampu mengambil keputusan-keputusan yang objektif. Objektivitas yang terbentuk demikian saya kira malah jauh lebih kaya, jauh lebih dalam, lebih bernuansa.

Sebabnya adalah dalam pengambilan keputusan, dalam upaya objektivikasi ini, perempuan mengacu pula kepada pengalaman-pengalaman orang lain. Hal ini dimungkinkan oleh kemampuannya untuk berempati.

ADVERTISEMENT
Sabina Spielrein (1912) mendefinisikan empati sebagai kemampuan untuk menghayati dan merasakan apa yang dialami orang lain dengan menempatkan diri pada posisi orang tersebut. Hal ini dilakukan sambil tetap menyadari bahwa apa yang sedang ia coba pahami bukanlah dirinya yang mengalami tetapi orang lain. Empati inilah, menurutnya, yang mencirikan jiwa perempuan, yang membedakannya dengan laki-laki.
Oleh sebab itu, keputusan moral perempuan adalah keputusan yang didasarkan pada etika kepedulian sebagaimana yang dikemukakan Carol Gilligan (1982). Perempuan senantiasa memikirkan dampak dari keputusan-keputusannya pada orang lain.
Kartini punya dua pilihan, melanjutkan studi untuk menjadi guru, yang tujuan akhirnya adalah memajukan kaumnya, atau menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya.
Pilihan kedua ini menentang prinsipnya sendiri tentang poligami, tetapi menyelamatkan nama baik keluarga, dan membahagiakan orang tua.
ADVERTISEMENT
Sambil ia menyadari bahwa calon suaminya akan mendukungnya untuk membuka sekolah, yang pada akhirnya akan berujung pada pencapaian tujuan yang sama untuk kaumnya tanpa mengorbankan kehormatan dan perasaan orangtuanya.
Keputusan Kartini menggambarkan keputusan moral perempuan, yang didasarkan pada kepedulian akan orang lain. Refleksi yang sama umumnya dilakukan oleh perempuan dalam kasus-kasus berbeda.
Sebagian besar perempuan korban KDRT yang saya temui cenderung memilih untuk bertahan demi anak-anak. Tetapi ketika melihat kekerasan suaminya sudah berdampak buruk pada anak-anak, atau bahkan membahayakan anak-anak, ia seperti tersadar untuk segera pergi melepaskan diri dari pelaku.
Jadi untuk anak-anaklah mereka memilih tetap bersama pelaku, dan untuk anak-anak pula mereka meninggalkan pelaku.
Keputusan-keputusan “moral” semacam ini hendaknya tidak dinilai baik buruknya. Ini bukan persoalan moralitas. Tetapi penting untuk diketahui bahwa landasan keputusan moral perempuan adalah kepedulian terhadap sesama yang dimungkinkan oleh kemampuannya untuk berempati, yang adalah kekhasan jiwa perempuan.
ADVERTISEMENT
Lantas, pantaskah Kartini disebut feminis? Jawabannya bergantung pada perspektif yang kita gunakan. Tetapi yang pasti, ia seorang perempuan.
Catatan: Pemikiran-pemikiran Sabina Spielrein, Lou Andreas Salomé, Clarissa Estés, dan Carol Gilligan yang lain dapat Anda temukan dalam buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan: Psikologi Feminis Untuk Meretas Patriarki, terbitan EA Books.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020