• 8

USER STORY

1000 Kisah dari Kursi Depan Uber

1000 Kisah dari Kursi Depan Uber


Siapa di antara kamu yang lebih memilih untuk menempati kursi di depan dibandingkan kursi belakang ketika menggunakan jasa taksi online seperti Uber? Ya, terutama kalau kamu bepergian sendiri. Kalau dari driver Uber terakhir yang saya temui, dia bilang jarang sekali ada penumpang yang mau duduk di depan, beberapa masih menganggap bahwa Uber sama halnya dengan taksi konvensional seperti Blue Bird, ya penumpang kalau cuma sendiri, tetap duduk di belakang. Dari soal-menyoal duduk di kursi depan atau kursi belakang ini sebetulnya ada satu hal yang membuat saya tertarik. Saya lebih sering bepergian sendiri jika menggunakan jasa Uber. Lebih sering memang saya gunakan jika sudah pulang di atas jam 11 malam, ketika Trans Jakarta atau Commuter Line sudah tidak beroperasi lagi dan kalau naik ojek online, rasanya kurang aman saja.
Karena sering bepergian sendiri itu saya senang sekali menempati kursi yang ada di depan, persis di samping sang driver. Menurut saya, rasanya lebih akrab dan saya tidak terkesan bossy banget. Yang saya tahu sistem Uber ini ya dari negara asalnya memang menumpang mobil pribadi sang driver. Numpang beneran loh ya, bukan seperti naik taksi konvensional. Karena yang saya tanamkan adalah pemikiran seperti itu, maka saya tidak sungkan untuk duduk di depan. Tak disangka, hingga saat ini, sudah ada banyak cerita yang saya dengar dari para driver Uber, ini semata-mata ya karena mereka mungkin merasa lebih akrab bercerita jika sang penumpang duduk di depan. Ada beberapa juga yang bertanya kenapa saya memilih duduk di depan. Biasanya sih akan saya jawab “Loh, Mas (atau Pak), saya kan di sini nebeng berbayar, bukan kaya atasan dan supir yang duduk depan belakang, jadi nggak apa kan saya duduk di sini?”
Dari situlah berbagai percakapan terjadi. Saya pernah bertemu driver yang dulunya adalah karyawan bank swasta di bagian peminjaman modal perusahaan yang akhirnya kena laid off, ada juga yang bekerja di perusahaan fund manager dan akhirnya harus hengkang karena perusahaannya diakuisisi (dia merasa tidak akan cocok dengan perusahaan yang mengakuisisi).
Lain cerita lagi ada yang mobilnya (Xenia) pernah disewa untuk mobil pengantin selama 2 hari, di mana saat hari ke-2, sang pria membawa istrinya yang adalah warga negara Korea Selatan untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Cerita lain ada juga yang usaha kue walaupun dia adalah lulusan Fasilkom Universitas Indonesia. Pokoknya ada banyak cerita yang tercipta di kursi depan. Tidak jarang pula saya mendengar keluh kesah dari driver Uber. Bagi driver lama, mereka merasakan bonus yang mulai minim, apalagi ada rumor bahwa tarif Uber akan naik sehingga mereka takut pelanggan akan beralih ke layanan transportasi online lain.
Ada juga yang curhat soal penumpang yang selalu mau dilayani dan memaksa serta memberikan perlakuan yang tidak enak (menaikan kaki ke sandaran kepala kursi depan, naik berbondong-bondong dengan penumpang lebih dari 4 orang serta masih banyak lagi). Eits, tidak hanya itu, yang bawa pulang cewek mabok juga ada, sampai-sampai gelendotan ke pundak mas drivernya…hehehehe.

Cerita-cerita inilah yang selalu membuat saya senang untuk menggunakan jasa Uber. Terlepas dari banyak kontroversinya dan sejauh yang saya tahu masih banyak juga driver yang tidak baik, tapi dengan mendengarkan cerita mereka, saya merasa punya sumber pelajaran lain yang tidak akan saya dapatkan di manapun, mempelajari manusia.
Kadang tidak selalu percakapan dibuka dari sang driver, biasanya saya memancing dengan pertanyaan paling standar yaitu “Sudah berapa lama nge-Uber Mas/Pak?” Dari situ lahirlah sejumlah curhat, keluh kesah serta banyak kisah tak ternilai yang membuat perjalanan menjadi jauh lebih menyenangkan.
Driver-driver Uber yang saya temui membuat saya yang kebetulan jarang banget ngobrol sama orang di luar lingkup kerjaan, jadi punya kesempatan untuk benar-benar menaruh smartphone dan berinteraksi dengan manusia yang sesungguhnya.
Kehidupan online yang merasuki kita semua kadang membuat keadaan sekitar tidak terlihat oleh kita. Dengan duduk di belakang, mungkin kita sudah melewatkan banyak hal menarik, mungkin kita melewatkan banyak pelajaran.
Jadi, kapan kita mau mulai duduk di depan dan berbagi kisah atau sekadar menjadi pendengar yang baik bagi driver taksi online?

UberTeknologiPersonalTransportasi Online

500

Baca Lainnya