kumparan
21 Maret 2018 16:25

Facebook Senjata Penghancur Manusia Melalui Data, Kamu Setuju?

Sudah dari beberapa hari lalu sebetulnya saya gatal banget mau bahas ini, tapi saya masih menunggu hingga benar-benar membaca banyak sumber. Jika kamu memang pemerhati segala informasi yang berhubungan dengan kemenangan Donald Trump sebagai Presiden US tahun 2017 silam, kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan keterkaitannya dengan Rusia, Facebook, Twitter dan YouTube. Singkatnya, kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat lalu tak lepas dari segala propaganda yang diciptakan oleh beberapa pihak. Rusia adalah negara yang paling sering dikaitkan dengan kemenangan Donald Trump (Republik) dalam melawan kandidat lain yaitu Hillary Clinton (Demokrat). Terlepas dari Rusia, hal lain yang justru menarik perhatian saya adalah keterlibatan banyak platform media sosial, terutama Facebook yang secara tidak langsung 'mendukung' kemenangan Donald Trump.
ADVERTISEMENT
Tidak. Platform terbuka seperti Facebook, Twitter, dan YouTube memang tidak pernah menyatakan secara terang-terangan bahwa mereka mendukung salah satu kandidat dalam US Election 2017. Tapi algoritma mereka yang membuat kemenangan itu terjadi.
Oke, mari kita sedikit tarik ke belakang jika kamu belum mengerti tentang kata algoritma. Algoritma sendiri adalah suatu urutan dari beberapa langkah yang logis guna menyelesaikan masalah atau dapat diartikan sebagai sistem kerja komputer. Pernah sadar atau tidak, jika kamu pernah menyukai atau berkomentar pada sebuah postingan Facebook yang temanya kucing, mungkin beberapa jam kemudian atau beberapa hari kemudian, kamu akan melihat lebih banyak konten kucing yang tersebar di News Feed Facebook kamu. Konten kucing tersebut beberapa bukan dari teman yang sudah menerima ajakan pertemanan kamu. Konten tersebut bisa jadi datang dari orang lain di luar lingkaran pertemanan kamu. Facebook memiliki sistem di mana mereka akan membaca seluruh gerak-gerik yang kamu lakukan di dalam platformnya. Mulai dari update status yang kamu buat, update Facebook Story yang kamu ciptakan sampai interaksi yang kamu lakukan pada suatu konten.
ADVERTISEMENT
Interaksi tersebut dimanfaatkan oleh Facebook untuk merekomendasikan konten yang dianggapnya akan kamu sukai, hal ini tentunya berdasarkan hal yang sudah pernah kamu lakukan di dalam platform Facebook. Tapi tidak hanya itu, Facebook memanfaatkan data-data yang kamu miliki untuk memberikan kamu iklan yang dianggap mungkin akan menarik untuk kamu. Misalnya saja kamu perempuan berusia 30 tahun, berstatus menikah, sering posting foto anak dan keluarga, sering berbagi informasi soal ASI dan pakaian anak, maka tidak menutup kemungkinan kamu akan mendapatkan iklan promo alat pompa ASI dari Mothercare atau potongan harga 50% untuk pakaian anak di Shopee. Itu baru data yang didapat dari dalam platform Facebook sendiri, tidak berhenti di sana, pernahkah kamu merasa seakan-akan kamu dikejar oleh iklan suatu produk setelah kamu jalan-jalan di website e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak atau sejenisnya. Yup, bukan hanya aktivitas di dalam Facebook saja yang di-monitor, tapi aktivitas di luar platform ini ikut dipantau. Ujung-ujungnya untuk menyodorkan konten yang mungkin kamu sukai di Facebook, walaupun itu iklan. Apalagi iklan di Facebook bisa dibilang tidak terlalu menganggu seperti banner-banner kerlap-kerlip yang biasa kamu lihat di beberapa website. Nah, ketika kamu pikir hal itu berhenti di sana, jangan sedih dan jangan gundah, Facebook akan terus menguntit kamu di manapun kamu berada.
ADVERTISEMENT
Bukan hanya dari data interaksi (kamu memberikan like dan komentar), kamu mungkin pernah-dengan bahasa yang sangat manis-diminta oleh Facebook untuk mengisi dan melengkapi data di mana tempat kerja kamu sekarang, relationship status, domisili dan berbagai data pribadi lainnya. Pertanyaan saya, data tersebut kamu isi nggak? Kalau iya, selamat ya, kamu baru saja membantu Facebook untuk semakin mengenal kamu dan ya data itu tentu juga akan digunakan oleh Facebook untuk berbagai hal yang belum tentu kamu ketahui semua (selain rekomendasi konten dan iklan).
Selain dari data interaksi dan data pribadi yang memang secara sadar kamu input, masih ada lagi sumber data lainnya yang memang tanpa sadar kamu berikan secara sukarela. Eh, emangnya apaan? Kamu pasti pernah dong menggunakan aplikasi mobile dan login dengan menggunakan Facebook. Pernah sadar nggak kalau sebetulnya, aplikasi-aplikasi tersebut juga secara tidak langsung mendapatkan data kamu seperti gender, email, range usia, foto, video, sampai daftar teman (data ini tergantung aplikasinya ya, tidak semua mengambil jenis data yang sama). Ke mana data-data itu? Ya pastinya digunakan oleh si pemilik aplikasi untuk membuat pengalaman kamu berinteraksi lebih menyenangkan (menurut kamu, tapi di balik itu ada pekerjaan yang melibatkan data yang tidak kamu ketahui). Contoh saja Tinder. Satu-satunya pilihan untuk sign-in adalah dengan menggunakan Facebook. Dari sini, Tinder akan melihat daftar teman kamu dan merekomendasikan profil-profil yang mungkin membuatmu tertarik. Si pria/wanita bisa jadi adalah lingkaran ke-2 atau ke-3 dari teman yang ada dalam friends list kamu dan hal ini juga terlihat di aplikasi Tinder. Bahkan interest/minat kamu juga ikut ditampilkan oleh Tinder. Hal ini berguna agar mereka yang lagi kepoin profil kamu bisa mengenal kamu walaupun sesaat. Dari situ diputuskan deh mau swipe left atau swipe right.
ADVERTISEMENT
Kamu mungkin berpikir sama seperti saya, "Ah, hanya data seperti itu saja tidak terlalu penting untuk saya." Saya sendiri termasuk salah satu pribadi yang bodo amat dengan data yang ada di media sosial. Media sosial untuk saya adalah tempat melakukan eksperimen. Saya tidak mudah terpengaruh dengan apa yang saya lihat di media sosial karena saya tahu di balik semua itu ada sistem yang mengatur agar kita lebih impulsif, lebih boros, agar kita terikat dalam filter bubble tertentu sehingga kita berpikir dunia isinya hanya itu itu saja. Banyak membaca di luar minat utama dan tahu politik serta bisnis yang terjadi di dalam setiap platform ini membuat saya melihat sederet media sosial yang ada sekarang sebagai pisau bermata dua dan mesin pendulang uang (at the end of the day, it's a busines right). Bisa membawa kebaikan atau menjerumuskan ke hal yang tidak baik. Saya percaya dengan sangat, tidak ada dari para pendiri perusahaan teknologi raksasa ini yang ingin menciptakan sesuatu untuk tujuan yang jahat. Mungkin sekitar tahun 2004 waktu Facebook lahir, Mark Zuckerberg tidak pernah menyangka bahwa 14 tahun kemudian platform-nya menjadi 'senjata penghancur manusia' dan sarang propaganda. Jack Dorsey mungkin tidak akan menyangka platform 140 karakter-nya akan menjadi tempat Donald Trump nge-troll dan itu yang membuatnya menjadi pusat perhatian Amerika Serikat selama masa kampanye.
ADVERTISEMENT
Belum lagi beberapa hari terakhir, ranah digital diramaikan dengan kasus Cambridge Analytica. Melalui seorang whistleblower bernama Christopher Wylie, dibeberkan sudah segala sesuatu seputar pekerjaan Cambridge Analytica untuk mendukung Donald Trump.
Yang menarik dan mungkin agak misleading di kalangan media lokal yang saya baca, banyak yang menyebutkan bahwa kasus ini adalah pencurian data. Ada beberapa media luar juga yang mengatakan bahwa ini adalah data breaching. Tapi menurut pemahaman saya dengan membaca beberapa artikel dari media internasional seperti The New York Times, The Washington Post, Bloomberg dan Guardian, kasus ini lebih tepat disebut dengan data harvesting.
Jika memang kasus ini adalah pencurian, apa yang dicuri? Password, email? Lantas data itu dijual lagi? Tidak. Seorang researcher dari Cambridge University Aleksandr Kogan mengatakan bahwa dia pun hanya menjadi kambing hitam dari kasus ini. Kogan membuat sebuah aplikasi untuk melihat kepribadian seseorang, namun hal ini disalahgunakan oleh Cambridge Analytica. Aplikasi berkedok pengenalan kepribadian itu tidak hanya dipakai untuk melihat kepriabdian seseorang tetapi juga menarik perilaku teman-teman yang ada dalam lingkaran user yang berpartisipasi. Singkatnya begini: Kamu diminta untuk menginstall aplikasi X dan login yang digunakan pilihannya hanya dengan menggunakan Facebook. Tanpa kamu sadari, selain diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang kepribadian dan perilaku manusia, kamu membiarkan aplikasi tersebut menjadi kanker yang menjalar ke seluruh network kamu. Hal ini dimanfaatkan oleh Cambridge Analytica sebagai 'digital strategist' untuk menjadi modal utamanya membuat propaganda.
ADVERTISEMENT
Lewat wawancaranya bersama Guardian, Christopher Wylie juga mengatakan bahwa Cambridge Analytica tidak hanya bertindak sebagai perusahaan yang bergerak di bidang analisa data. Mereka juga membuat konten, e-poster, materi kreatif untuk membuat propaganda digital di Facebook. Dari sumber data harvesting yang mereka lakukan, mereka bisa menganalisa bagaimana user-user yang sayangnya kena sial ini berperilaku, apa yang membuat mereka marah pada suatu postingan politik, bagaimana profil yang harus ditembaki konten tertentu, bagaimana menarik simpatisan di beberapa negara bagian untuk dapat berpaling ke Trump, bagaimana menembakkan konten-konten palsu ke mereka yang tidak terpapar sehari-harinya dengan media-media kredibel, bagaimana memaparkan fake news ke mereka yang tidak pernah check re-check akan suatu berita dan main share ke temannya.
ADVERTISEMENT
Lingkaran setan fase pertama memang diciptakan salah satunya oleh Cambridge Analytica. Tapi bersambut dengan perilaku manusia itu sendiri. Belum lagi si jenius Steve Bannon, Chief Strategist Donald Trump juga memegang peranan penting dalam pemenangan kandidat juaranya ini (ya, kita lihat saja BreitBart News, media yang awalnya menurut saya sampah ini, ternyata bisa dibilang sama jeniusnya dengan media-media kredibel di Amerika Serikat).
Isu ini tidak akan pernah beredar ke kalangan user/pengguna awam, peduli setan mereka dengan politik dan bisnis yang terjadi dengan Facebook maupun platform lainnya. Tapi hal ini menjadi pengingat bagi kita sebagai pengguna, apakah kita sudah menjadi pengguna yang pintar dan kritis atau masih jadi pengguna yang sudah tidak tahu, ngotot dan acuh tak acuh.
ADVERTISEMENT
Senjata penghancur manusia saat ini mungkin ya masih senjata nuklir, tapi siapa yang pernah tahu kalau 10-20 tahun lagi justru teman digital kita ini yang akan menghancurkan manusia.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan