Pencarian populer
USER STORY
26 Maret 2018 10:37 WIB
0
0
Love for Sale: Bukan Cerita Receh Si Jomblo Akut
Tanya sama diri sendiri berapa kali kamu patah hati sampai saat ini? Ditinggal seseorang yang tiba-tiba harus meninggalkan kamu karena mantannya hamil di luar nikah padahal kamu baru pacaran dengan dia dengan usia hubungan masih seumur jagung (dan itu pertama kalinya kamu pacaran seumur-umur)? Atau teman semasa SMA yang kembali hadir ketika masa-masa kamu baru saja menyelesaikan skripsi, tapi sesaat kemudian dia bilang mau putus karena tersadar bahwa dia tidak benar-benar sayang kamu? Hmm…mungkin pisah karena beda agama saat orang-orang menghakimi kamu dengan kalimat semacam “Sudah tahu dari awal beda agama kok diterusin? Bodoh!” Atau ada yang lebih pedih lagi seperti punya hubungan yang kok teman jauh bukan, teman dekat bukan pacar bukan tapi kaya pacaran lalu suatu pagi dia mengusir kamu dari hidupnya, tidak mau diganggu, seakan tidak mau kenal lagi.
Lalu kamu jadi bitter banget sampai terlihat tua, menyibukkan diri dengan segala kegiatan, terobsesi terhadap karir, lelah sambil mengeluh bahwa tidak ada work-life balance dalam hidupmu, kamu merasa ada yang kosong, menutup diri dari dunia sambil memasang topeng bahagia serta menutup pintu hati yang entah siapa yang bisa membukanya.
Jika pernyataan-pernyataan di atas menampar kamu dan membuatmu berkata:
“Kurang ajar! Gimana cerita lo bisa baca pikiran gue? Gimana cerita lo bisa tahu hidup gue selama ini?”
…maka ada baiknya kamu menonton film terbaru arahan Andibachtiar Yusuf yang berjudul Love for Sale.
Saya tertarik untuk menonton Love for Sale karena trailernya. Jika kalian menyangka karena jalan cerita yang diperlihatkan di trailer, kalian salah. Mata yang senang menikmati sinematografi indah ini sama sekali tidak bisa dibiarkan diam saja. Saya jatuh cinta sama warna-warna yang ditawarkan di trailer film ini, tajam, warna ungu-pink neon yang cantik. Lalu beberapa hari kemudian seorang teman me-reply Instagram Story saya dengan bilang bahwa DoP film ini adalah Ferry Rusli, seorang fotografer yang saya kenal dari akun pacarnya, Marischka Prudence. Belum lagi sang teman pakai acara bawa-bawa Sony Alpha a7S II (atau a7S saja ya antara dua itu deh), tidak ketinggalan setelah saya tahu, film ini diproduseri oleh Chicco Jerikho (terus terang saya belum pernah tahu kalau dia jadi produser film ini juga). Nama Andibachtiar malah yang tidak saya ketahui sebagai sutradara film. Tapi saya tahu beberapa nama memang familiar dari Filosofi Kopi. Sudah. Sampai situ saja.
Saya malah sempat berpikir kok film ini bakal cheesy banget. Oh….online dating lagi, paling nanti di situ-situ lagi jalan ceritanya. Tapi memang ya don’t judge the book by its cover, udah kejadian nih sama saya ke film Dilan 1990. Bukan underestimate Iqbaal Ramadhan (abisnya emang nggak pernah baca buku Dilan 1990 sampai nonton filmnya), tapi merasa trailernya biasa saja. Eh, pas nonton ya sampai sekarang demamnya nggak hilang-hilang.
Review ini akan jauh dari spoiler. Sudah banyak review lain (apalagi media mainstream) yang menceritakan jalan ceritanya. Silakan kalian baca sendiri saja. Kalau saya sendiri ingin memberikan sisi berbeda.
Saya melihat Richard (Gading Marten) sebagai sosok yang sangat realistis digambarkan dalam film. Dia tinggal Jakarta Pusat. Saya kepikiran dia tinggal di rumah-rumah di wilayah Mangga Besar kalau melihat pagar-pagar di sekitar rumah yang tinggi-tinggi dan kuno. Pergaulannya dengan anak-anak Selatan yang kelihatan banget gayanya. Bisnis yang dijalankan tipikal orang JakUt dan JaBar (lihat deh mesin cetaknya masih kuno kan). Dia tipe bos yang apa-apa cuan banget, tipe-tipe bitter karena usia udah 40-an tapi belum married dan kesal kalau ada yang berjalan nggak sesuai dengan keinginan dia (apalagi soal tepat waktu lah, jangan berantakan lah dan lainnya). Temannya juga nggak banyak. Itu-itu saja teman dekatnya, karena kalian tahu lah, semakin lewat kepala 3 maka silakan ucapkan selamat tinggal pada teman-teman yang dulu waktu masih kepala 2 udah kaya kembar dempet kemana-mana selalu bersama.
Richard tidak membuat penonton berusaha untuk berpikir keras akan karakternya karena walaupun dia adalah tokoh fiktif, tapi Richard adalah kita, terutama masyarakat urban, middle-class Jakarta. Dengar musik pakai piringan hitam, mobilnya bisa dibilang kuno, gayanya sangat nggak kekinian dengan kaus om-om polo shirt berkerah, celana bahan mengatung dan sepatu fantofel kuno.
Arini (Della Dartyan) justru hadir di sini sebagai karakter yang mudah dicintai tapi dia adalah sisi impian yang selama ini banyak beredar di film-film romantis pemberi janji-janji palsu. Arini mengingatkan kita pada mereka yang bilang sayang, yang suka ngucapin selamat tidur lewat WhatsApp, yang suka nanyain “Udah kangen lagi nggak?” padahal baru dianterin pulang 5 menit lalu. Arini menampar penonton dengan mengingatkan kita pada sosok yang manja, yang bikin kita pengennya seharian ya udah ndusel-ndusel aja di balik selimut apalagi kalau hujan dan puterin tuh lagu Daniel Caesar yang Best Part. Arini membangkitkan imajinasi, terutama para cowok-cowok sih nih, tentang perempuan kekinian yang rajin yoga, rambut berantakan aja tetap cakep dan seksi. Dia pintar masak, masakan yang entahlah resepnya dari Madagaskar gimana tuh ceritanya. Dia rajin memperhatikan teman-teman Richard, ambil hati semua orang sekaligus, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dia memperkenalkan Richard pada orangtuanya, intinya Arini adalah (maaf) si bangsat yang dengan pintarnya diam-diam membuatmu ketergantungan layaknya narkoba, tidak bisa dilepaskan, terlalu indah untuk disesalkan. Richard yang akhirnya harus melalui berbagai hal tak menyenangkan akhirnya belajar satu hal yang sempat membuat saya bertanya “Loh sebentar, kok endingnya gini aja woy?” tapi ternyata tidak berhenti di sana. Ternyata endingnya kalau saya baca-baca di timeline Twitter dan akun Instagram Love for Sale plus akunnya Chicco Jerico, kurang dimengerti oleh kebanyakan orang (sambil saya kipas-kipas jumawa dalam hati “Hadeuh…kehidupan percintaanmu berarti kalo diibaratkan ramen Sanpachi masih level 0)
Sementara saya di sini, yang sudah sendiri sejak SBY maju periode ke-2 masa jabatan sebagai Presiden (sumpah kesel harus nyebutin ini karena kesannya kaya jual diri..hahaha), sangat sangat sangat mengerti ending tersebut. I CAN RELATE TO THAT! Nggak mau jumawa dan sombong bilang sudah makan asam garam dunia, tapi serius itu ending nggak semudah itu dimengerti. Silakan saksikan sendiri. Love for Sale kini sudah hadir di bioskop terdekat. Nonton sendiri, rame-rame atau berdua saja silakan.
Film ini adalah film dewasa untuk 21 tahun ke atas. Selain ada beberapa adegan dewasa yang dikemas dengan apik dan nggak murahan, ya beberapa hal emang sorry nih…nggak akan semudah itu dimengerti anak SD, SMP, SMA atau yang masih di bangku kuliah.
Last but not least, film ini bukan film patah hati. Bukan film yang bikin baper (at least untuk saya ya). Bukan film yang komedinya cheesy. Ini film yang mengingatkan kita untuk menjadi dewasa, jangan pernah lupa untuk bahagia (seperti kata Yura Yunita). Love for Sale benar-benar membuat saya mengerti ungkapan “cintai terlebih dahulu diri sendiri sebelum kita bisa belajar mencintai orang lain”.
Itu saja.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: