Pencarian populer
USER STORY
8 Februari 2018 10:14 WIB
0
0
Memetakan Fintech di Indonesia ala Orang Awam
disclaimer: postingan ini dibuat berdasarkan riset kecil sendiri dan ketertarikan penulis dengan trend fintech yang dikaitkan juga dengan beberapa fakta pendukung. penulis seriusan bukan ahli atau pengamat ekonomi, cuma netizen sotoy yang isi kepalanya kebanyakan dan pengen berbagi aja :D
Seperti postingan Medium gue sebelumnya yang membahas tentang kebiasaan membaca orang Indonesia, gue menyadari satu hal bahwa kalau sudah ngomongin hal yang serius dan dalam (plus sulit), gue paling malas merangkainya dalam kalimat dan paragraf (damn guys! nulis tuh susah loh, i mean kalau mau yang proper ya). Karena hal tersebut, gue menemukan cara lain untuk menuangkan apa yang menjadi concern, apa yang menghantui dan bikin kepala gue mumet resah, yaitu dengan menggunakan mindmap software. Kebetulan kali ini topik yang ingin gua bahas adalah soal fintech. Kenapa lo tiba-tiba bahas ini sih? Nah, lihat deh hobi baru gue di bawah ini: mantengin aplikasi mobile yang berhubungan dengan e-wallet, cicilan, pinjaman dana tunai. Entah jangan tanya kenapa.
Gue sendiri bisa dibilang adalah pengguna beberapa produk keuangan digital (istilah kerennya katanya sih dibilang ‘fintech’ sekarang).
  1. Jenius: gue pakai untuk bayar Grab (transaksi Rp 400K dapat cashback Rp 100K loh!), top up Go-Pay (buat pake di Go-Food), bayar bills: Netflix, Spotify, LinkedIn Premium, kalo ada kebutuhan beli software (kadang trial aja ada yang suruh bayar), beli e-book di Google Play, dan banyak lagi.
  2. Ovo: ini nggak buat bayar parkir kok, lebih ke ngumpulin poin karena gue belanjanya sering di Matahari sama Hypermart. Maklum aja mall deket kos ya adanya itu (Pejaten Village & Kemang Village). Pointnya mayan sih buat potongan harga. Top-up OVO Cash juga bisa dekat merchant yang lagi ada promo.
Pokoknya kalo udah ngomongin fintech, pemahaman dangkal gue tuh masih di area orang-orang middle class deh yang pakai. Lalu, gue ketemu LinkedIn article ini yang di-post oleh Minister of Finance Indonesia, Ibu Sri Mulyani. Lah tapi itu kan ngobrolin soal poverty dan pergeseran kelas ekonomi? Nah, justru itu! Dari baca itu gue coba deh cari-cari artikel lain dan ketemu yang di bawah ini:
Data di atas bisa kamu temukan pada artikel ini. Then ketemu data ini lagi (bisa ditemukan di sini). 
Belum lagi beberapa fakta seperti:
Hanya 36% Penduduk Indonesia Punya Rekening, Perbankan Masih Gelap untuk Masyarakat Fintech in Indonesia Is Just Getting Started (disebutkan 1.6% orang dewasa Indonesia memiliki kartu kredit) Penurunan Daya Beli atau Peralihan Pola Belanja?
Lalu dikaitkan dengan data penggunaan internet dan kepemilikan smartphone: 2016, Pengguna Internet di Indonesia Capai 132 Juta
Dan penggunaan smartphone:
Terus kesimpulan lo apa? Wait, kita mapping dulu nih kondisi fintech di Indonesia menurut pendapat gue sebagai orang awam.
Kesimpulan gue: 1. Banyak masyarakat ‘naik kelas’ dari tahun ke tahun (lihat poverty percentage di atas). Belum lagi prediksi kelas sosial D dari 66 juta akan naik ke 77 juta (prediksi 12 tahun lagi). 2. Masyarakat kita yang nggak punya akun bank ada sekitar 70%. Oke ini kurang detail sih, gue masih belum nemu 70% itu profilnya seperti apa. Faktor nggak punya akun bank juga banyak: ada setoran minimum, tidak punya uang lebih untuk disetor (habis terus tiap bulan), tidak merasa butuh karena apa-apa masih bisa bayar cash, merasa tidak aman punya akun bank (lebih aman bungkus di plastik, taruh bawah bantal). 3. Tapiiiii……kita tuh pertumbuhan pengguna internet terus naik gila-gilaan, pengguna smartphone juga. Bisa bisa nih ada aja anggapan “Ah, lebih baik punya smartphone kece daripada buka akun bank.” Setoran minimum aja udah bikin sulit, uang setoran bisa dipakai beli smartphone, bisa selfie, stalking gebetan, buat belanja online juga bisa di Instagram atau aplikasi e-commerce. 4. Nahhh! Ini dia nyambung ke point di atas, ketika mau bayar jadi berasa ribet ga punya akun bank (ya boro-boro kartu kredit). Akhirnya muncul tuh bisa bayar di retail merchant seperti Indomaret, Alfamart dan mini market sejenis. 5. Sayangnya gue lihat beberapa produk fintech, kelihatannya pengen diadopsi sama mass market tapi ya itu lihat aja fakta-fakta di atas. PR-nya masih banyak ya kalau mau punya market gede. Adaptasi teknologi, cara pakai deh aja gue yakin jadi tugas besar. Apalagi orang Indonesia yang malas membaca dan mesti dituntun satu-satu. Udah tugas sendiri dah tuh. 6. Tapi potensinya gilak gede banget sih untuk fintech, karena ini menyangkut hal paling basic: DUIT! E-commerce sendiri aja udah mulai semacam bikin ‘sistem simpan duit’ mereka, misalnya mungkin Tokocash dari Tokopedia (cmiiw). Apalagi kalo cara-caranya dipermudah, lo nggak perlu punya akun bank tapi punya alat pembayaran buat apapun ga dipengaruhi jarak dan waktu, bisa minjam uang dan segala hal hanya dari smartphone lo. 7. Kalau pernah tahu cara kerja Paytren, ini lebih gokil lagi buat orang Indonesia. Udah sistemnya MLM, ada komisi dan hmmm….nggak mau nyerempet ke agama sih, cuma ya itu tokoh pentolan Paytren ini ya tokoh agama (if you know what i mean…..), sangat Indonesia sekali bukan? Dan usernya militan banget, sampai pasang iklan segala! (ya kan harus cari Mitra agar network luas dan dapat benefit lainnya)
Bagaimana? Sudah cukup terpukau? Gue dan temen gue sempet mikir apakah ke depannya fintech akan kaya perusahaan telco dan e-commerce yang mungkin akan stuck di suatu waktu dan ujung-ujungnya jualan data.
Well, kita simpan saja pemikiran itu nanti, karena ya….fintech in Indonesia is just getting started.
Bagaimana kalau menurut pendapat lo?
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: