kumparan
19 Maret 2018 16:55

Setop Bikin Email Lamaran Kerja yang Enggak Bener

Saya sangat yakin ini bukan artikel pertama yang kamu baca. Di jagat raya internet ini pasti sudah banyak sekali artikel yang memaparkan bagaimana cara membuat CV yang baik termasuk mengirimkannya dengan sopan atau minimal dilirik oleh calon employer. Beberapa orang yang saya follow di Twitter saja sudah banyak sekali yang membuat tweet series tentang topik ini. Ada Dwika Putra, Keinesasih, Amrazing dan Ario Adimas. Itu 4 nama yang memang saya perhatikan walaupun mohon maaf nih, saya tidak menyimpan URL ke tweet series tersebut. 4 orang ini saya percaya memiliki followers based yang besar, di mana saya pikir harusnya yang mereka bagikan sudah cukup viral di kalangan followersnya. Tetapi anehnya sampai detik ini pun saya masih saja menemukan, maaf nih ya, kalian lulusan universitas terkemuka dengan tittle Sarjana A sampai Sarjana Z, tapi masih tidak memiliki etika sama sekali dalam mengirimkan email lamaran kerja. Tulisan saya kali ini mungkin agak sedikit pedas. Tidak, saya tidak akan lagi membahas tips mengirimkan CV yang baik agar kalian diterima di tempat kerja idaman. Mungkin tulisan kali ini lebih mewakili perasaan teman-teman HR yang tiap hari harus berkutat dengan ribuan CV dari para pelamar.
ADVERTISEMENT
1. Kalian yakin banget dengan mengirimkan email tanpa subject akan dibaca oleh tim HR yang bersangkutan? NOPE! Yang ada email itu tidak akan pernah dibaca sampai kapanpun, jadi pastikan sertakan subject email.
2. Hindari typo pada subject email atau ikuti rules yang sudah ditentukan. Biasanya beberapa tim HR akan memberikan template judul. Herannya nih ya, ada aja loh yang tidak mengikuti rules tersebut. Sudah pasti kalian bisa say goodbye sama CV kalian.
3. Duh, hari gini email lamaran masih pakai template dari Google atau nyontek punya teman? Ini yang mau ngelamar kerja teman kamu atau orang yang bikin tips di Google. Email lamaran yang digunakan untuk pengantar itu harus bersifat pribadi, bahkan sangat pribadi. Pengantar ini harus menjadi tempat kamu pamer tapi singkat saja. Kalau cuma copas, tidak akan personal.
ADVERTISEMENT
4. Cuma attach CV?! Kamu pikir kamu siapa. Sana coba lagi, kali ini pakai cover letter atau minimal perkenalkan diri kamu dulu. Siapa kamu, posisi apa yang kamu lamar sampai apa kontribusi yang bisa kamu berikan kepada perusahaan yang bersangkutan.
5. Melamar kerja itu harus dijadikan sesuatu yang spesial, tapi kebanyakan nih kamu-kamu yang kurang mengerti akan menaruh semua alamat email HR perusahaan di bagian "To:". Sayang sekali lulus dengan gelar Sarjana tapi hal seperti ini tidak diperhatikan. Saya sendiri tidak terlalu menyarankan kamu untuk menggunakan "Bcc:". Sekali lagi ingat point nomor 3, jadikan email lamaran kamu itu personal. Jika kamu tahu nama tim HR, sebutkan namanya, tempat email recruitment di bagian "To:" tapi spesifik untuk satu perusahaan saja.
ADVERTISEMENT
6. Lebih enggak ngerti lagi dengan yang ngirim email "cek ombak", apaan itu? Ini tipe-tipe email yang kadang sudah tidak pakai email subject, lalu langsung nyosor aja dengan kalimat "Mau nanya nih, di sini buka lowongan ABC enggak ya? Aku sih jurusannya XYZ, tapi ya nyoba aja" HELAWWW, kalian pikir kalian siapa. Masih ada ribuan CV menanti di Inbox mbak mas HR dan kalian hanya menyusahkan dengan kirim email seperti ini. Syukur-syukur kalau ditengok, tapi biasanya sih langsung diabaikan.
7. Jika kalian adalah UI/UX Designer atau Graphic Desainer, tidak perlu attach portfolio yang besarnya sampai 1GB. Kalian pasti punya akun Behance atau Dribble atau website pribadi. Berikan saja portfolio terbaik dan sertakan result dari desain yang kamu buat jika memang telah dipublikasikan untuk umum. Jika masih prototype, pilih yang terbaik saja. Sisanya berikan URL ke website pribadi atau Behance/Dribble/Deviantart.
ADVERTISEMENT
Perlu diingat, sekarang itu bukannya susah cari kerja. Pekerjaan banyak sekali tersedia kalau kalian buka JobStreet, Urbanhire atau jalan-jalan ke halaman LinkedIn perusahaan. Ekspektasi kalian juga sebagai fresh-graduate pasti sangat besar untuk bisa bekerja di perusahaan yang bonafide. Tapi perlu diketahui, perusahaan bonafide akan memilih employee yang punya kualitas juga. Kalau dari awal saja kamu sudah menunjukkan kualitas yang rendah, ya jangan baper kalau lama nggak dipanggil-panggil sama tim HR-nya ya.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan