Ortu Korban Daycare Yogya Curhat di DPR: Owner Ngeles Soal Luka, Anak Stunting

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah kontrakan yang digunakan sebagai Daycare Little Aresha Yogyakarta di Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta dicorat-coret orang tak dikenal (OTK). Foto: Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah kontrakan yang digunakan sebagai Daycare Little Aresha Yogyakarta di Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta dicorat-coret orang tak dikenal (OTK). Foto: Panji/kumparan

Orang tua korban dugaan kekerasan Daycare Little Aresha di Umbulharjo, Yogyakarta, Ismanto, membeberkan kronologi dan kejanggalan yang ia temukan selama anaknya dititipkan.

Hal itu disampaikannya secara daring melalui video conference saat rapat dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6).

Ismanto menceritakan anaknya mulai dititipkan di daycare sejak 2 Mei 2023 hingga tempat tersebut digerebek pada 24 April. Ia mengaku selama anaknya berada di daycare tersebut, dirinya kerap menemukan luka fisik pada tubuh anak saat dijemput pulang.

“Ini salah satu bentuk komplain karena kami selaku orang tua selalu mengecek kondisi fisik anak kami ketika pulang dari daycare. Ini ada beberapa luka di bibir dan jidat seperti yang terlampir dalam foto,” ujarnya.

Menurut Ismanto, penjelasan yang diberikan pengelola daycare atas luka-luka tersebut justru membuatnya heran.

“Kami selalu vokal berkaitan dengan hal ini. Ini beberapa luka fisik yang saya munculkan di layar. Ini ada di jidat kemudian beberapa luka di bibir seperti ini dengan jawaban-jawaban yang cukup membuat saya selaku orang tua itu tercengang, Bapak,” tutur Ismanto.

“Karena ketika bibir sobek jawaban dari owner ini menyampaikan bahwa anak saya makan donat,” lanjutnya.

Tak hanya itu, ia juga mengaku akses orang tua untuk memantau kondisi anak di dalam daycare sangat terbatas. Komunikasi disebut hanya diperbolehkan melalui pemilik daycare.

“Dan perlu kami sampaikan juga bahwa komunikasi kami selaku orang tua hanya diperbolehkan dengan owner, tidak boleh dengan pengasuh dan kita juga tidak boleh masuk ke lokasi di mana anak kami ditempatkan seperti itu. Jadi kita tidak bisa memantau kondisinya seperti apa di dalam,” katanya.

Ismanto kemudian menyinggung temuan luka lebam pada tubuh anaknya pada Juli 2025. Menurut dia, penjelasan yang diberikan pengelola kembali dinilai tidak masuk akal.

“Jawaban daripada owner tersebut menyampaikan bahwa ini adalah digigit giginya sendiri. Saat tidur katanya menggigit tangan dan kakinya sendiri seperti itu. Jadi saya selalu protes dengan hal-hal ini,” ujarnya.

Orang Tua Bawa Bekal, Tapi Anak Tetap Stunting

Suasana rapat kerja Komisi VIII DPR dengan Menteri PPPA Arifah Fauzi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Selain soal luka fisik, Ismanto juga mempertanyakan laporan konsumsi makanan yang rutin diberikan pihak daycare kepada orang tua.

Ia mengaku selalu membawakan bekal lengkap setiap hari untuk menunjang kebutuhan gizi anaknya yang saat itu sudah terindikasi mengalami stunting.

“Jadi tidak hanya tidak mengandalkan apa yang diberikan oleh daycare ini, tapi saya selaku orang tua dan orang tua yang lain juga membawakan bekal penuh,” ungkap Ismanto.

“Jadi tidak hanya memberikan bekal hanya untuk sekali tapi beberapa kali makan. Jadi kita sudah konsultasi gizi karena anak kami dianggap stunting maka selalu memberikan gizi terbaik seperti itu,” lanjutnya.

Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya, makanan tersebut diduga tidak diberikan seluruhnya kepada anak-anak.

“Namun kenyataannya, informasi yang kami terima makanan-makanan kami tidak diberikan kepada anak kami. Jadi hanya beberapa video yang dikirimkan ke kami itu anak-anak kami hanya makan nasi dan kuah sop,” ungkap Ismanto.

“Jadi makanan-makanan seperti lele, daging, ayam dan lain sebagainya selalu habis, laporannya begitu. Laporannya selalu menyampaikan bahwa anak kami itu makannya habis. Namun setelah dicek di Posyandu, anak kami tergolong stunting seperti itu,” lanjutnya.

Ismanto mengatakan setiap hari pihak daycare mengirimkan jurnal perkembangan anak yang mencatat seluruh makanan dikonsumsi habis. Namun kondisi fisik anaknya justru tidak menunjukkan perkembangan yang semestinya.

“Nah jurnal yang dilaporkan akan saya contohkan di sini beberapa jurnal yang saya terima itu melampirkan bahwa anak kami itu selalu habis ketika makan. Jadi tidak pernah melampirkan anak kami tidak makan,” tutur Ismanto.

“Namun kenyataannya gizi anak kami bermasalah. Berat badan anak kami di usia 3 tahun 3 bulan ini hanya 10 kilo sampai hari ini, sampai hari ini masih tidak ada peningkatan,” ujarnya.

Curiga Foto Menu Makanan Dimanipulasi

Polresta Yogyakarta menggelar rekonstruksi kasus kekerasan dan penelantaran anak yang dilakukan pemilik dan pengasuh Daycare Little Aresha di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (9/6/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Ismanto juga membeberkan temuannya terkait foto-foto menu makanan yang dikirimkan daycare kepada orang tua.

Menurut dia, setelah menelusuri kembali ribuan percakapan dan dokumentasi yang diterimanya ditemukan sejumlah foto yang identik tetapi dikirim pada tanggal berbeda.

“Nah seperti ini, ini contoh makanan yang diberikan pada anak kami selama di daycare. Ini ternyata semuanya manipulatif. Kenapa saya sampaikan manipulatif?” katanya.

Ia mengaku memiliki bukti berupa foto yang sama namun dikirim ulang pada hari berbeda.

“Saya punya data pendukung di sini, di sini foto ini diambil pada, ada keterangannya Bapak, ini foto ini diambil dikirim pada Sabtu 28 Februari 2026 dengan foto seperti ini,” tutur Ismanto.

“Dikirimkan kembali ternyata di hari yang lain dengan foto yang sama. Ini jadi foto-foto ini jadi 28 Februari sama dengan 3 Maret. Jadi foto-foto ini hanya diulang-ulang dikirimkan berulang-ulang ke kami di jangka waktu yang berbeda. Ada yang satu minggu, satu bulan, ada yang satu setengah bulan dengan format foto ada yang portrait maupun landscape,” ungkapnya.

Menurut Ismanto, temuan itu membuat para orang tua mempertanyakan apakah anak-anak benar-benar menerima makanan sebagaimana yang dilaporkan pihak daycare.

“Artinya anak kami selama di daycare ini kami pertanyakan apakah diberi makan atau tidak. Karena beberapa dari anak-anak kami itu mengalami stunting dan kurang gizi,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut terdapat sejumlah foto yang benar-benar identik hingga posisi makanan di piring tidak berubah.

“Ini identik sama 20 Februari 2026, sama dengan saya lihat di bawahnya lagi, nah sama dengan Selasa 3 Maret 2026. Jadi tidak ada perbedaan gambar maupun pergeseran nasinya bahkan. Nasi yang sepertinya bentuknya sama kalau kita cermati tidak ada perubahan,” ungkap dia.

Karena itu, Ismanto menilai penyampaian informasi kepada orang tua diduga dilakukan secara sistematis dan menyesatkan.

“Maka ini sudah sangat terstruktur sekali dalam rangka penyampaian untuk dalam artian bisa dikatakan penipuan ya, penipuan dalam penyampaian informasi kepada orang tua. Nah ini cukup miris,” pungkasnya.