Usaha Jong Java Menyatukan Organisasi Pemuda dalam Kongres

Mahasiswi Aktif Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarata
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fadhilah Ayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
USAHA JONG JAVA MENYATUKAN ORGANISASI PEMUDA DALAM KONGRES
Jong Java merupakan pergantian dari nama sebelumnya yang dikenal dengan sebutan Tri Koro Dharmo “Tiga Tujuan Mulia”. Dengan waktu tiga tahun saja Tri Koro Dharmo bisa cukup dikenal banyak masyarakat. Tri Koro Dharmo didirikan pada 15 Maret 1915 oleh Mahasiswa STOVIA bernama Dr. Satiman Wirjasandjojo. Alasan digantikannya nama Tri Koro Dharmo karena masih sangat tertutup terhadap pelajar pribumi luar Jawa. Meskipun nama yang diberikan adalah Jong Java, tetapi para anggotanya meliputi Sunda, Madura, Jawa, Lombok, dan Bali.

Tidak seperti mayoritas organisasi-organisasi di Indonesia, Jong Java dihindarkan dari urusan politik dan menitik fokuskan pada usaha kebudayaan melalui pendidikan, keolahragaan, kepanduan, dan kedudukan wanita. Setelah Kongres Pertama membahas tentang pergantian nama menjadi Jong Java, kemudian Kongres Kedua diadakan pada 29 Mei-3 Juni 1919 di Mataram membahas persoalan milisi. Kongres Kedua ini merupakan kongres yang pertama kali membahas tentang kedudukan wanita yang sejajar dengan pria hingga diterbitkan dalam redaksi majalah Jong Java. Dikarenakan anggota Jong Java mulai bertambah dari luar Jawa, maka pada saat Kongres Ketiga yakni tanggal 12-19 Juni 1920 di Surakarta memutuskan bahwa penggunaan bahasa daerah lain, seperti bahasa Sunda, Madura, dan Bali diperbolehkan.
Kongres Keempat dilaksanakan pada tanggal 12-16 Juni 1921 di Bandung memutuskan pembentukkan federasi dengan Jong Sumatranen Bond. Kemudian dipertegas kembali dalam Kongres Kelima yang berlangsung pada tanggal 21-27 Mei 1922 di Surakarta. Hal yang disepakati berupa larangan bagi anggota untuk menjadi anggota partai politik dan ikut serta dalam kegiatannya. Tetapi pada hakikatnya larangan tersebut dapat membatasi citra organisasi hanya pada bidang budaya saja. Padahal berpolitik dapat digunakan sebagai batu loncatan organisasi agar memiliki panggung nama di masyarakat luas dan menjalin jejaring relasi. Muncullah gagasan baru yang mengizinkan Jong Java ikut serta dalam politik praktis pada Kongres Ketujuh pada tanggal 27-31 Desember 1924. Dengan syarat usia minimal 18 tahun bagi yang ingin terlibat dalam berpolitik.
Pengaruh besar telah dibawa Jong Java untuk pergerakan pemuda, sehingga rapat bersama untuk menyamakan persepsi dan visi perjuangan diadakan pada tanggal 20 Februari 1927. Rapat tersebut dihadiri oleh Jong Sumateranen Bond, Jong Bataks Bond, Sekar Roekoen, Jong lslamieten Bond, Jong Ambon, Jong Minahasa, dan PPPI. Kemudian hasil dari Kongres Kesembilan adalah terbentuknya Komisi Besar Indonesia Muda (KBIM) pada 23 April 1929 di Jakarta, tujuan pembentukan komisi tersebut untuk membentuk perkumpulan baru yang memiliki visi dan misi yang sejalan antar organisasi. Hasil dari kesepakatan adanya KBIM ternyata untuk meleburkan organisasi Jong Java dengan organisasi lainnya demi kesatuan tanah air.
Tepat pada hari Jumat, 27 Desember 1929 organisasi Tri Koro Dharmo yang berubah menjadi Jong Java resmi dibubarkan. Setelah itu berdirilah perkumpulan baru yang terintegritas bernama Indonesia Muda.
Nah, sebagai reinkarnasi dari Jong Java kira kira usaha apa yang akan kalian lakukan untuk menyatukan pemuda Gen-Z???
Sumber Bacaan: Eksistensi Organisasi Jong Java dalam Pergerakan Nasional (1915-1931), karya: Sugiharti, (2016).
““JONG JAVA” De tweede avond van het Congres Indonesia Moeda” Kranten De locomotief, 27-12-1929, „JONG JAVA” De tweede avond van het Congres-- „Indonesia Moeda”.. "De locomotief". Samarang, 27-12-1929. Geraadpleegd op Delpher op 17-05-2024
https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB23:001732061:mpeg21:p00010
