Konten dari Pengguna

Sharing Cost Air Transport (SC-AT) Dari Helikopter Bantuan Menjadi Kargo Harapan

Muhammad Fadhlansyah Nasution
ASN Kementerian Keuangan
15 Desember 2025 15:12 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sharing Cost Air Transport (SC-AT) Dari Helikopter Bantuan Menjadi Kargo Harapan
Inovasi Sharing Cost Air Transport (SC-AT) di Aceh pasca-bencana. Mengubah pesawat bantuan menjadi kargo harapan, SC-AT manfaatkan kapasitas kosong outbound untuk angkut cabai petani.
Muhammad Fadhlansyah Nasution
Tulisan dari Muhammad Fadhlansyah Nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sharing Cost Air Transport (SC-AT) dapat menjadi solusi menghidupkan ekonomi paska bencana. Ilustrasi: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Sharing Cost Air Transport (SC-AT) dapat menjadi solusi menghidupkan ekonomi paska bencana. Ilustrasi: Freepik
ADVERTISEMENT
Ketika banjir bandang dan tanah longsor melanda dataran tinggi Gayo, khususnya Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, kerusakannya melampaui hitungan fisik. Bencana hidrometeorologi itu tak hanya merenggut nyawa dan meruntuhkan 154 jembatan di Bener Meriah , tetapi juga melumpuhkan nadi perekonomian lokal secara total. Di tengah krisis isolasi yang struktural ini, Ferry Irwandi mengajukan sebuah intervensi ekonomi yang cerdas dan inovatif: Sharing Cost Air Transport (SC-AT). Ide ini mengubah aset logistik kemanusiaan (pesawat yang membawa bantuan masuk) menjadi katalis pemulihan ekonomi (mengangkut komoditas keluar)—menghidupkan kembali harapan para petani cabai yang terancam bangkrut.
ADVERTISEMENT
Kelumpuhan Infrastruktur Memicu Krisis Ekonomi
Kunci untuk memahami urgensi solusi ini terletak pada keruntuhan harga. Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah sentra produksi cabai penting di Sumatra , dengan Kecamatan Ketol di Aceh Tengah menjadi fokus utama. Sebelum bencana, harga beli cabai di tingkat petani masih berkisar antara Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram.
Namun, pasca-bencana, akses dari dan ke Takengon terputus total via Bireuen dan KKA, membuat Aceh Tengah terisolasi. Kerusakan jalan nasional dan jembatan utama sangat parah. Akibat kelumpuhan pengiriman ini, pasar seketika gagal; banyak agen (toke) menolak membeli komoditas karena risiko pengiriman yang tak terbatas (risk infinity).
Dampaknya sangat dramatis di tingkat petani. Harga suplai cabai merah anjlok parah hingga Rp7.000 per kilogram. Petani di Ketol mengonfirmasi bahwa harga jual di tingkat ini membuat mereka tidak balik modal. Mereka menyatakan, harga cabai merah baru akan mencapai titik impas (BEP) jika ditampung minimal Rp20.000 per kilogram.
ADVERTISEMENT
Ini berarti, setiap kilogram cabai yang tidak terkirim atau dijual terlalu murah menghasilkan kerugian finansial minimal sebesar Rp13.000 bagi petani. Intervensi SC-AT harus dirancang untuk menutup financial gap minimal ini.
Memanfaatkan Kapasitas Kosong: Model Humanitarian Backhauling
Di tengah isolasi darat, akses udara terbukti menjadi satu-satunya koridor logistik vital yang dapat diandalkan. Pertamina Patra Niaga, misalnya, telah berhasil mengirimkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG ke Bandara Rembele, Bener Meriah, menggunakan pesawat Air Tractor dan Casa TNI AL.
Operasi ini memvalidasi tiga prasyarat utama untuk keberhasilan SC-AT : Bandara Rembele fungsional, tersedia aset udara (pesawat kargo militer/sipil) yang beroperasi, dan struktur koordinasi antara penyalur bantuan (seperti Indodax dan Ayobantu), BUMN, serta TNI/Polri sudah terbentuk.
ADVERTISEMENT
Di sinilah konsep Sharing Cost menemukan relevansinya. Dalam logistik udara kemanusiaan, biaya tetap (Fixed Cost/FC), seperti sewa pesawat dan bahan bakar, sudah ditanggung oleh anggaran bantuan atau donasi sebagai bagian dari operasi logistik masuk (inbound).
Gambaran pelaksanaan SC-AT sebagai solusi membangkitkan ekonomi paska bencana. Illustrasi: Freepik
SC-AT adalah implementasi dari humanitarian backhauling. Konsep ini memanfaatkan kapasitas kosong saat pesawat kembali keluar (outbound) untuk mengangkut kargo komersial (cabai). Akibatnya, petani atau agen hanya perlu dikenakan Biaya Variabel Outbound (VCO) marginal, yang meliputi biaya handling di bandara, perishable surcharge (karena kargo sensitif suhu), pengemasan khusus, dan dokumen karantina.
Dengan biaya FC yang sudah disubsidi penuh oleh dana kemanusiaan, tarif SC-AT yang dibebankan kepada petani dapat direduksi secara radikal. Tujuannya sederhana: memastikan harga bersih yang diterima petani tetap di atas ambang BEP Rp20.000/Kg.
ADVERTISEMENT
Skema Terbaik: Memindahkan Risiko dari Petani
Untuk memastikan kelancaran dan kestabilan intervensi, analisis kelayakan merekomendasikan Skema 2: Risk and Cost Sharing dengan Anchor Buyer sebagai model implementasi yang paling efisien.
Skema ini memindahkan risiko logistik dan pasar yang tak tertanggungkan dari petani (pihak paling rentan) kepada entitas yang memiliki kapasitas finansial lebih besar. Ini memberikan kepastian harga di tingkat petani sejak awal, menjamin likuiditas yang dibutuhkan untuk bertahan dan kembali berproduksi.
ADVERTISEMENT
Tantangan Cold Chain dan Komando Logistik
Keberhasilan SC-AT bukan hanya perkara uang, tetapi juga integritas logistik. Cabai adalah produk perishable yang sangat sensitif terhadap suhu. Pengiriman via udara yang cepat sekalipun akan gagal jika kualitas cabai rusak di tengah jalan. Oleh karena itu, Cold Chain Logistics adalah prasyarat mutlak :
ADVERTISEMENT
Untuk mengelola integrasi yang rumit ini, perlu dibentuk Crisis Logistics Command Center (CLCC) di Bandara Rembele. CLCC akan berfungsi sebagai pusat komando tunggal yang mengelola aliran bantuan inbound dan kargo komersial outbound secara simultan, dengan dukungan penuh dari Dinas Karantina, Operator Bandara, serta TNI/Polri.
Skema teknis SC-AT. Ilustrasi: Freepik
Mengubah Bencana Menjadi Momentum Ketahanan
Konsep SC-AT ini adalah sebuah solusi darurat yang cerdas dan krusial. Ini adalah jembatan udara yang memungkinkan mata pencaharian petani cabai di Aceh Tengah dan Bener Meriah tetap tersambung ke pasar nasional di saat seluruh jembatan darat mereka terputus.
Di luar fase darurat, inovasi ini memberikan pelajaran penting bagi kebijakan struktural nasional. Humanitarian backhauling harus menjadi mandat resmi dalam penanggulangan bencana, mengubah aset bantuan yang mahal menjadi stimulus ekonomi yang efektif.
ADVERTISEMENT
Lebih dari itu, keberhasilan ini harus menjadi momentum investasi jangka panjang, terutama pada infrastruktur Cold Chain Logistics di sentra-sentra produksi hortikultura yang rentan bencana. Dengan skema sharing cost yang visioner dan dukungan rantai dingin yang solid, Aceh Tengah dan Bener Meriah tidak hanya akan pulih dari bencana, tetapi juga akan membangun rantai pasok komoditas cabai yang jauh lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan di masa depan. Krisis ini, dengan inovasi yang tepat, dapat diubah menjadi pijakan untuk kebangkitan ekonomi daerah yang lebih kuat.