Peristiwa pada tubuh

Tato dan Hujan Deras

Faisal Oddang
Faisal Oddang lahir di Wajo, 18 September 1994. Novelnya Puya ke Puya (KPG) jadi salah satu pemenang sayembara novel DKJ 2014. Ia juga penulis cerpen terbaik Kompas 2014 dan peraih penghargaan ASEAN Young Writers Award 2014 dari pemerintah Thailand.
6 Februari 2022 21:05 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kepada banyak orang yang bertanya padanya, dia selalu memulai kisahnya seperti ini:
Kami ketemu beberapa pemburu babi yang mengejar sampai masuk hutan, awalnya kami pikir mereka tentara Jawa, tetapi setelah bersahutan menggunakan bahasa Bugis, kami lega karena tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk berkelahi atau menghindari tembakan.
Salah satu dari mereka mengabarkan bahwa beberapa bulan sebelumnya, helikopter bolak-balik di atas perkampungan, menebarkan kertas pengumuman bahwa pimpinan kami sudah gugur, gerombolan diminta keluar hutan lalu menyerahkan diri: saya beserta tiga kawan lainnya tidak tahu dan memilih tidak percaya kabar itu. Tidak ada cahaya terang, tidak ada aroma bunga, dan angin tidak pernah berhenti bersiut, burung tidak berhenti berdecit. Begitulah tanda jika dia sudah tiada, setidaknya begitu yang kami percaya.
Sejak bertemu pemburu, kami berempat goyah. Antara percaya dan tidak. Kami lelah, sudah berbulan-bulan terpisah dari pasukan utama, tanpa tujuan selain menunggu gerombolan menang, Sulawesi kami kuasai, dan merdeka!
Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke perkampungan, berempat kami menuju arah mata angin yang berbeda, seperti yang kautahu dan kau saksikan: saya menuju Timur, berjalan berhari-hari sebelum akhirnya tiba di kampung ini. Saya ingat beberapa bocah meneriaki saya orang gila lalu lari memanggil orang-orang dewasa. Kepala kampung memberi saya tempat tinggal di rumah kebun miliknya, saya tahu bahwa dia ingin saya menjaga ubi dan tanamannya yang lain dari babi. Saya berkebun di sana dan hampir putus asa hingga pada titik terendah hidup saya, sejumlah bocah datang ke gubuk tempat saya tinggal.
Mereka anak-anak yang suka mendengar cerita dan mudah penasaran. Soal tato, itu benar. Kau ingat waktu saya bilang kami berempat menuju arah mata angin berbeda? Sebelum memutuskan berpisah, kami menyalakan api lalu menggunakan jelaganya sebagai tinta untuk menggambar dengan ujung badik di tubuh kami. Kukatakan tubuh, bukan lengan, bukan paha, bukan punggung, karena belum waktunya kalian tahu di mana letak tato itu.
“Bentuknya apa?” akan ada yang bertanya seperti itu, selalu.
Akan ada waktunya ada orang lain yang tahu selain kami berempat. Percayalah saja, bahwa peristiwa besar akan terjadi jika waktu itu tiba.
“Kenapa begitu?” selanjutnya begini.
Orang-orang memang banyak bertanya. Belum waktunya. Kusuruh kalian pulang sebelum Magrib dan tentara walli keluar mencari Tentara Jawa dan mata-mata untuk dirasuki atau dibawa ke alam mereka. Dulu, mereka seperti saya dan gerombolan lainnya, dan ketika gugur, mereka akan menjadi tentara walli, arwahnya akan melanjutkan perjuangan dengan memburu musuh dan pengkhianat.
“Mereka memburu anak-anak atau orang dewasa?”
Sebaiknya kalian pulang. Sebelum gelap. Jangan cerita soal tato saya kepada siapa pun. Tetapi cerita selalu bertambah pendengarnya dan menyebar semakin jauh.
Chapter 1 — Peristiwa pada Tubuh. Ilustrasi: Tim Kreatif kumparan
Berhari-hari bocah-bocah dan sejumlah warga mengunjunginya di gubuk tetapi tak pernah ia ingin menunjukkan tatonya. Seseorang di antara mereka menganggap itu bohong semata: lelaki itu hanya kesepian sehingga membutuhkankan orang yang penasaran seperti kita untuk datang padanya dan memburu cerita, ada yang bilang begitu.
“Tetapi dia benar-benar gerombolan, pasti ada itu tatonya, saya yakin betul!”
“Lalu setelah kita tahu letaknya dan bentuknya, apa lagi?”
“Lagi pula kenapa juga dia cerita soal tato kalau tidak mau kasih lihat kita?”
Ada benarnya pertanyaan itu jika direnungkan. Apa lelaki itu hanya ingin mempermainkan orang-orang di kampung itu? Banyak yang bertanya seperti itu. Rasanya tidak! Lalu banyak juga yang menepisnya segera. Dia pernah meminta orang-orang menebak letak tatonya, jika berhasil dia berjanji akan memperlihatkan bentuknya.
“Tapi kau kan bisa bohong, nanti saya tebak di punggung, kau bilang salah, padahal benar. Kan, mana kami tahu?”
Dia bilang, kalau tebakanmu benar, akan turun hujan. Jika salah, akan ada guntur. Seorang bocah coba menebak bahwa letaknya pasti di badan, ucapan bocah selesai disusul bunyi guntur dan petir yang sangat keras sehingga tidak ada yang berani menebak setelah itu. Bocah itu berpikir bahwa badan adalah bagian tubuh paling besar kemungkinannya ditempati tato yang tersembunyi—tetapi salah. Sejak saat itu, orang-orang semakin percaya padanya.
Cerita-cerita tentangnya kemudian menjalar tidak hanya pada orang-orang di kampung itu saja. Orang-orang tua di kampung sebelah bahkan ada yang ingin berguru padanya tetapi selalu ditolak. Ada yang percaya bahwa setiap hari Jumat ia menghilang dari kampung karena sedang salat Jumat di Mekah. Ada yang yakin pernah melihatnya berjalan di atas air.
Sampai berbulan-bulan sejak ketibaannya, tidak ada yang tahu siapa namanya, orang di kampung menyebutnya dia atau lelaki itu, atau gurilla itu, atau gerombolan itu. Tanpa nama. Usianya awal tiga puluh meski tampak tua dengan rambut gondrong dan janggut serta kumis yang tidak dipotong bertahun-tahun.
Dia bisa membunuh lalat yang sedang terbang hanya dengan meludahinya. Lelaki itu bisa mendengar orang lain yang bicara di kampung sebelah. Gurilla itu bisa mandi di dalam botol air yang dibawanya sehingga tidak perlu ke sumur yang bisa menampakkan tatonya. Anggota gerombolan itu tidak bercukur karena tidak ada alat potong yang mempan memangkas rambutnya.
Bakeri, seorang bocah yang rutin mengunjunginya, memercayai semua ucapan orang mengenai kesaktian lelaki itu. Keinginan Bakeri masih sama, ingin melihat tatonya, tetapi ia menghilang lagi. Ada yang bilang dia ke bagian dunia yang lain, membantu orang-orang Islam berperang. Banyak yang percaya dia berpindah alam, menemui teman-teman gerombolannya yang gugur dan menjadi tentara walli. Hal lain dan yang ini yang paling Bakeri percaya: dia sedang berada di tengah-tengah orang-orang kampung dan sengaja tidak menampakkan diri.
Tidak pernah ada yang tahu mana yang benar hingga suatu hari, bertahun-tahun kemudian, dia ditemukan meninggal di pematang sawah. Tubuhnya bengkak penuh bekas parang dan berlubang entah karena tombak atau badik. Warga berkerumun selain karena itu menjadi berita besar di kampung itu juga karena ingin mencari tahu kebenaran tatonya. Namun, tidak ada apa pun yang tersisa dari tubuh yang koyak itu, bahkan sebuah tato.
“Saya pernah lihat. Hanya saya pernah lihat, tempat dan bentuknya. Katanya, kalau sudah ada yang melihatnya, ilmunya akan pindah ke orang itu.”
Sesaat suasana hening, kerumunan warga memandang seorang remaja belasan tahun yang baru saja mengagetkan kami semua. Dia Bakeri.
“Kau tahu siapa yang membunuhnya? Dan kenapa?” tanya kepala kampung ke Bakeri.
*** Bersambung *** ___________________________
Catatan editor: sebagian teks pada cerita ini dialihmediakan menjadi audio. Putar media player untuk mendapatkan kisah secara utuh. Anda akan mendengar penulis cerita ini, Faisal Oddang, mengisahkannya langsung untuk anda.
Cerita ini adalah bagian pertama dari novel "Peristiwa Pada Tubuh" karya Faisal Oddang. Baca kisah lengkapnya di sini:
Peristiwa pada tubuh. Foto: Tim Kreatif kumparan
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten