Pencarian populer
USER STORY

Mencontreng dan Menari: Melihat Pemilu di Korea Utara

Pemimpin tertinggi Korea Utara, Marsekal Kim Jong Un memasukkan surat suara ke dalam kotak pemungutan suara dalam pemilu legislatif Korea Utara 2014 (Foto: Korea Central News Agency/KCNA diunduh dari https://nkleadershipwatch.wordpress.com/2014/03/09/kim-jong-un-votes-in-spa-elections/)

Tanggal 17 April 2019 nanti bangsa Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu) yang merupakan ciri suatu negara demokratis. Namun, tahukah anda bahwa Korea Utara yang sering diberitakan sebagai negara totaliter dan memiliki satu partai juga melaksanakan pemilu legislatif setiap 5 tahun sekali? Bahkan 10 Maret 2019 lalu negara ini telah melaksanakan pemilu legislatifnya yang ke-14 kalinya.

Ketika saya tinggal di Pyongyang, Korea Utara, dari 2013-2015, saya berkesempatan menyaksikan langsung pemilu legislatif negara tersebut yang ke-13. Melalui bantuan Han--teman saya sekaliagus warga Korea Utara-- pada tanggal 9 Maret 2014, saya berkesempatan melihat pelaksanaan pemilu legislatif ke tempat pemungutan suara (TPS), ke bilik suara, dan melihat langsung bagaimana proses pemilu di Korea Utara.

Pengalaman melihat langsung pemilu di Korea Utara merupakan pengalaman unik yang tidak terlupakan bagi saya. Yuk, kita lihat seperti apa pemilu di negara yang dikenal sangat tertutup itu.

Pemilu dan Partai Politik di Korea Utara

Mansudae Assembly Hall yang merupakan parlemen Korea Utara tempat berkumpulnya Lembaga legislatif negara itu yang disebut Supreme People’s Assembly (SPA) (Foto: Dok. Pribadi)

Betul, ada pemilu di Korea Utara! Terlepas dari bagaimana definisi dan pengertian kita mengenai “Demokrasi”, nama resmi Korea Utara sendiri sebetulnya adalah Republik Demokratik Rakyat Korea (“Joseon Minjujui Inmin Konghwaguk” dalam bahasa Korea, atau Democratic People’s Republic of Korea dalam bahasa Inggris) yang menyiratkan bahwa negara tersebut adalah negara “Demokratik”.

Setiap 5 tahun sekali, Korea Utara menggelar pemilu legislatif untuk memilih 687 anggota parlemen/legislatif, atau yang biasa disebut Supreme People’s Assembly/SPA (Majelis Rakyat Agung). SPA tersebut melakukan pertemuan di Mansudae Assembly Hall, atau gedung parlemen Korea Utara, yang terletak di pusat kota Pyongyang.

Selain itu, berbeda dengan kepercayaan banyak orang, di Korea Utara sebetulnya terdapat parpol-parpol lain di luar Partai Pekerja Korea (“Joseon Rodongdang” dalam bahasa Korea atau “Korean Worker’s Party (KWP)” dalam bahasa Inggris). Ada dua partai lain yang meskipun berafiliasi dengan KWP, namun beroperasi secara terpisah di negara itu, yakni Partai Sosialis Demokratik Korea (KDSP) dan Partai Chongu Chondoist.

Monument to the Party Founding di Pyongyang yang memperingati berdirinya Partai Pekerja Korea (KWP). KWP merupakan parpol paling berkuasa di Korea Utara (Foto: Dok. Pribadi)

Pemilu legislatif tahun 2014 tersebut merupakan yang pertama kalinya diselenggarakan sejak Marsekal Kim Jong-un menjadi pemimpin tertinggi Korea Utara menggantikan ayahnya, Jenderal Kim Jong Il, yang wafat di akhir tahun 2011. Pemilu itu diikuti oleh 99,97% pemilih terdaftar, dan sejauh yang saya ketahui merupakan angka pemilih (turnout voters) terbesar dibandingkan dengan pemilu di negara manapun yang pernah saya dengar.

Proses Pemilu dan Antusiasme Masyarakat di Korea Utara

Lantas bagaimana proses memilih di Korea Utara? Sama seperti di Indonesia, masyarakat di sana berduyun-duyun mendatangi TPS-TPS dan mengantre untuk memilih. Bahkan pemimpin tertinggi Korea Utara, Marsekal Kim Jong-un, beserta adik perempuannya, Kim Yo Jeong, ikut memilih. Marsekal Kim Jong-un sendiri menjadi kandidat tunggal untuk daerah pilihan (dapil) Gunung Baekdu, di mana ia terpilih secara absolut dengan 100% suara dan berhak atas satu kursi di parlemen.

Bersama Han saya datang ke gedung yang digunakan sebagai TPS dekat rumah saya dan melihat banyak orang Korea Utara mengantre. Kaum pria mengenakan jas rapi dengan dasi, sementara kaum wanita mengenakan Jogeori (pakaian tradisional Korea) warna-warni. Tidak lupa di dada kiri mereka tersemat pin bergambar dua “pemimpin abadi” mereka: Presiden Kim Il Sung dan Jenderal Kim Jong Il yang merupakan kakek dan ayah dari pemimpin Korea Utara saat ini, Marsekal Kim Jong-un.

"Seongeojang eso oso osipsiyo (selamat datang di TPS)", ucap seorang panitia sesampainya kami di TPS dekat rumah saya di Pyongyang timur. Di pintu masuk gedung TPS tersebut saya melihat foto caleg yang akan dipilih oleh para pemilih yang mengantre. Hanya ada satu foto terpampang di dinding: wajah seorang jenderal yang sudah agak tua dengan banyak medali di dadanya.

Artinya hanya ada satu caleg untuk setiap dapil, dan ini berlaku untuk semua dapil (687 dapil) dan TPS di seluruh Korea Utara. Artinya (lagi) semua orang yang datang ke TPS sudah tahu akan memilih siapa, yakni caleg tunggal yang sudah disetujui sebelumnya oleh pemerintah.

Interior dalam Mansudae Assembly Hall yang merupakan Parlemen Korea Utara. Setiap 5 tahun sekali, 687 wakil rakyat dipilih untuk duduk di sini (Foto: Dok. Pribadi)

Di dinding yang sama dengan foto sang caleg tunggal, terdapat daftar para pemilih. Setiap pemilih kemudian mendaftar di meja registrasi untuk mendapatkan kertas suara. Kertas suara berisi foto dan nama caleg serta satu kolom kecil untuk dicontreng. Setelah dijelaskan oleh Han mengenai maksud kedatangan saya, panitia di TPS dengan senang hati menunjukkan saya ruangan yang berisi bilik dan kotak suara. Sayangnya saya dilarang mengambil foto apapun di dalam gedung TPS.

Seusai menyaksikan dan melihat langsung semua proses pemilihan umum tersebut, saya diwawancarai oleh TV dan koran lokal mengenai kesan saya menyaksikan pemilu Korea Utara tersebut. Saya menjawab bahwa saya belum pernah melihat antusiasme memilih seperti di Korea Utara, di mana para pemilih bahkan mengenakan pakaian terbaik mereka untuk datang ke TPS.

Di bilik suara ini, surat tadi dicontreng dan dimasukkan ke dalam kotak suara. Seusai memilih, panitia menggelar hiburan berupa paduan suara yang menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan puji-pujian untuk pemimpin mereka. Mungkin inilah mengapa pemilu disebut dengan “pesta demokrasi". Para pemilih yang sudah melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara, larut dalam suasana dan menari serta menyanyi, bahkan mengajak saya juga untuk menari.

Semua proses memilih selesai sebelum siang hari. Jalanan di kota Pyongyang penuh dengan kaum pria berjas dan kaum wanita ber-Jogeori yang sudah melaksanakan hak pilihnya. Menjelang sore, masih banyak orang yang menari-nari di pinggir jalan merayakan terselenggaranya pemilu tersebut. Orang-orang Korea Utara yang saya kenal di kantor, restoran, kafe, dan tempat lainnya juga mengungkapkan kegembiraannya karena telah memilih dan menentukan nasib negara mereka.

Paduan suara seusai mencontreng (Foto: Dok. Pribadi)

Sore harinya, hasil pemilu tersebut sudah bisa diketahui dari TV lokal dan diberitakan keesokan harinya di koran-koran lokal Korea Utara: Rodong Sinmun dan KCNA News. 687 anggota SPA terpilih, di mana 607 orang anggota legislatif (aleg) berasal dari WPK, 50 orang aleg dari KSDP, 22 orang aleg dari Partai Chongu Chondoist, 5 orang aleg dari Asosasi Warga Korea di Jepang, dan 3 orang aleg independen (non partai, namun diajukan juga oleh pemerintah).

Oh iya, ada hal unik mengenai ketatanegaraan Korea Utara yang mungkin banyak orang tidak tahu. Presiden Kim Il Sung yang wafat di tahun 1994 menurut konstitusi Korea Utara masih menjabat sebagai "presiden abadi", dan hingga saat ini tidak ada orang lain lagi yang menjabat sebagai presiden di negara itu.

Korea Utara memiliki perdana menteri yang menjalankan pemerintahan sehari-hari, namun yang berfungsi seperti layaknya kepala negara adalah Presiden Presidium SPA (mirip ketua MPR kalau di Indonesia). Presiden Presidium SPA ini menerima kepala-kepala negara lain, melakukan kunjungan kenegaraan, dan menerima kredensial dubes asing.

Jadi sebetulnya posisi Marsekal Kim Jong-un ini di mana? Kalau dijelaskan akan sedikit rumit memang. Gampangnya ia adalah supreme leader yang berkuasa di atas semua struktur ketatanegaraan yang saya sebut sebelumnya. Mirip seperti Iran yang walaupun memiliki presiden, namun ada seorang "Ayatollah" yang merupakan kekuasaan tertinggi.

Seusai mencontreng para pemilih menyanyi dan menari di luar gedung TPS (Foto: Dok. Pribadi)

Epilog: Pesta Demokrasi dan Kesetiaan kepada Negara

"Kami semua sangat senang dengan pemilu ini. Di momen inilah kami menunjukkan kesetiaan kami kepada negara dan pemimpin kami, Marsekal Kim Jong-un!" ucap Han di dalam mobil yang saya setir.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Han, teman saya orang Korea Utara tersebut bercerita mengenai mengapa rakyat Korea Utara sangat antusias mengikuti pemilu dan melaksanakan hak pilihnya. Bahkan banyak warga Korea Utara yang berada di Tiongkok atau Russia menyempatkan diri pulang untuk memilih.

Saya kemudian merenung dan berpikir bahwa kalau di Korea Utara saja masyarakat begitu antusias untuk memilih dan menyukseskan pesta demokrasi bernama pemilu, mengapa di Indonesia masih saja ada yang golput. Setidaknya saat kita datang ke TPS dan membuka surat suara, kita akan melihat foto banyak orang yang identitas dan track record-nya bisa kita telusuri terlebih dahulu di internet. Foto banyak orang, dan bukan hanya satu!

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: