Pencarian populer
USER STORY
24 Februari 2019 15:51 WIB
..
..

Musim Dingin di Korea Utara: Listrik Biarpet dan Resor Ski Modern

Winter is coming in Pyongyang! (Foto: Dok. Pribadi)

Sewaktu saya menjadi mahasiswa selama dua tahun di Seoul, Korea Selatan, musim dingin adalah musim favorit saya. Setidaknya, ada dua alasan. Pertama, saya sangat menyukai saat salju turun dari langit, dan yang kedua adalah di musim inilah saya pertama kali bertemu dengan orang yang akhirnya menjadi istri saya.

Bagaimana dengan masalah suhu yang bisa turun sampai minus belasan derajat? Di Seoul, tiap rumah dan apartemen memiliki heater atau kipas pemanas. Selain itu, lantai apartemen juga biasanya memiliki pemanas elektrik, sehingga kita bisa tidur nyenyak dengan tubuh yang hangat.

Namun saat tinggal di Korea Utara, musim dingin mungkin adalah musim yang paling menyiksa, apalagi ketika salju tidak turun. Bahkan, menurut keterangan beberapa orang Korea Utara yang saya tanyai, selain karena suhu di Pyongyang bisa turun hingga minus belasan derajat Celsius, pengeluaran juga membengkak karena mereka harus membeli briket batu bara untuk menghangatkan rumah.

Bagi saya pribadi, terdapat beberapa alasan mengapa musim dingin di Pyongyang merupakan musim yang paling menyiksa, selain karena dinginnya yang menusuk tulang. Pertama, pada musim dingin, listrik sering biarpet mati-hidup dan air bersih bisa tidak mengalir sampai dua hari!

Alasannya, karena sumber listrik untuk Pyongyang dan Korea Utara umumnya berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang terganggu kinerjanya apabila sungai membeku akibat suhu minus belasan derajat.

Konsekuensi dari listrik sering mati di musim dingin sangatlah banyak. Mulai dari pemanas yang mati sehingga ruangan menjadi sangat dingin, sampai ke pekerjaan terganggu karena komputer sering mati.

Sementara untuk air bersih, saya biasanya menampung air bersih sebanyak-banyaknya di bak mandi atau ember-ember untuk mengantisipasi jika pada hari-hari berikutnya air bersih tidak mengalir.

Let It Snow! Let It Snow!: Kota Putih Pyongyang

Jalanan utama di kawasan diplomatik di Munsudong tertutup salju tebal di musim dingin (Foto: Dok. Pribadi)

Sebagai orang yang tinggal di negara tropis yang tidak ada salju, musim dingin tetap menyenangkan, khususnya ketika salju turun. Seluruh Kota Pyongyang menjadi putih tertutup salju. Namun salju yang turun menyebabkan jalanan menjadi licin, sehingga kita harus berhati-hati, apalagi kalau mengendarai mobil di jalanan.

Mobil yang saya kemudikan pernah menabrak pinggiran jalan dekat Universitas Teknik Pyongyang yang menyebabkan lampu, spion, dan pintu sebelah kanan mobil saya rusak parah. Padahal, saya menyetir di bawah kecepatan 50 kilometer per jam di bawah salju tipis. Salju yang turun bisa sangat lebat dan membuat jalanan tertutup salju, sehingga berbahaya bagi mobil yang lewat.

Namun, warga Pyongyang dengan penuh inisiatif bergotong-royong bersama membersihkan jalanan dari salju keesokan paginya, sehingga aspal jalanan kembali terlihat dan mobil kembali bisa lewat meskipun tetap harus menurunkan kecepatan dan berhati-hati.

Bahkan lapangan Kim Il Sung Square yang menjadi ikon kota Pyongyang menjadi putih tertutup salju. Namun pada akhirnya, saljulah yang membuat saya tersenyum bahagia di musim dingin (Foto: Dok. Pribadi)

Dinginnya suhu musim dingin di Pyongyang bisa membuat Sungai Taedonggang yang membelah Kota Pyongyang, juga membeku. Padahal, sungai tersebut lebarnya sekitar 1 kilometer dan sangat dalam.

Namun di musim dingin, sungai itu bisa membeku total, sehingga orang bisa berjalan melintasinya tanpa takut sungai yang membeku menjadi es tersebut akan retak. Warga Pyongyang bahkan banyak yang bersepeda di atas sungai yang membeku tersebut atau berjalan ke tengah sungai dan melubangi sebagian esnya untuk kemudian memancing.

Seumur hidup saya, untuk pertama kalinya saya melihat orang berjalan-jalan dan bersepeda di atas permukaan sungai. Tentunya sungainya sudah beku (Foto: Dok. Pribadi)

Ice Skating dan Bermain Ski di Resor Ski Kelas Dunia

Kejuaraan Ice Skating tahunan di Pyongyang yang berlangsung di Pyongyang Ice Rink (Foto: Dok. Pribadi)

Di tengah kondisi listrik biarpet dan air mati, lantas tidak adakah hiburan selain menunggu salju berikutnya turun dari langit? Tidak juga, masih banyak yang bisa kita lakukan, selain nongkrong atau jalan-jalan di tengah sungai yang membeku.

Salah satunya adalah menonton kejuaraan ice skating tahunan yang digelar di Pyongyang Ice Rink. Ice rink ini sebetulnya buka sepanjang tahun untuk siapapun yang ingin bermain atau berlatih ice skating. Namun, kejuaraan tahunan yang juga diikuti oleh atlet dari Tiongkok, Russia, Belarus, dan negara-negara sahabat Korea Utara ini berlangsung saat musim dingin.

Apakah saya sedang berada di resort ski di Alpen-Swiss? Nagano-Jepang?atau di Lillehammer-Norwegia? Tidak kawan, ini di Korea Utara kok (Foto: Dok. Pribadi)

Selain itu, dengan berkendara selama kurang lebih 3,5 jam, kita akan sampai di Resor Ski Masikryong di Kota Wonsan. Resor ski? Betul, saya berbicara mengenai resor ski seperti yang selama ini kita lihat di foto-foto wisata Swiss, Jepang, atau Kanada.

Karena berangkat agak sore dari Pyongyang, saya dan teman-teman sampai di resor tersebut agak malam. Namun, situasi di resor ini sangat kontras.

Listrik menyala dengan terang bahkan di malam hari (tanpa biarpet!). Hotel di resort ski tersebut sangat nyaman dan terlihat mewah, lengkap dengan heater dan shower panas di kamar. Kekaguman semua orang yang datang ke Masikryong tidak akan berhenti di sana, melainkan saat mereka melihat langsung lintasan ski tepat di luar hotel.

Kereta gantung menuju puncak. Setahun setelah saya meninggalkan Korea Utara, kereta gantung terbuka ini diganti dengan model baru yang tertutup (Foto: Dok. Pribadi)

Semua fasilitas standar resor ski internasional seperti di Swiss atau Kanada ada di sini. Mulai dari ragam lintasan ski (dari yang landai untuk pemula dan yang curam untuk yang pro), kereta gantung untuk mencapai puncak, hingga fasilitas-fasilitas lainnya.

Oleh karena saya pernah beberapa kali bermain ski di resor-resor di Korea Selatan, termasuk di Pyeongchang yang menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2016, saya bisa mengatakan bahwa resor ski Korea Utara ini tidak kalah dengan saudaranya di selatan.

Selepas mencoba snowboarding di Resort Ski Masikryong (Foto: Dok. Pribadi)

Selama setahun pertama saya di Pyongyang, keberadaan resor ski ini menjadi perhatian domestik dan internasional. Pembangunan resor ski ini yang hanya memakan waktu 10 bulan oleh Tentara Rakyat Korea (KPA), menjadi kebanggaan nasional di negara tersebut.

Kecepatan pembangunan itu dijadikan etos kerja nasional yang disebut dengan "Masikryong Speed”. Pidato-pidato pemimpin tertinggi Korea Utara, Marsekal Kim Jong Un, kala itu bahkan banyak mengutip istilah Masikryong Speed untuk membangkitkan semangat rakyat Korea Utara dalam membangun negara mereka.

Pembukaan resor ski tersebut sekaligus juga "melawan" sanksi internasional yang mendera negara tersebut atas serangkaian uji coba senjata nuklirnya. Betapa tidak, negara-negara barat seperti Austria, Swiss, dan Kanada menolak mengekspor alat-alat skinya ke Korea Utara, karena alasan peralatan ski tersebut masuk ke dalam kategori “barang-barang mewah” yang masuk dalam daftar sanksi PBB untuk diekspor ke Korea Utara.

Namun, saat resor ski tersebut dibuka untuk umum pada awal tahun 2014, banyak diplomat dan orang asing di Korea Utara yang terkejut melihat peralatan ski yang sejatinya dilarang tersebut ternyata bisa ada di resor ski Masikryong.

Apapun itu, kelihaian Korea Utara “bermain ski” melewati sanksi-sanksi internasional membuat resor ski itu bisa beroperasi dan menjadi salah satu tujuan wisata utama orang asing ke Korea Utara di musim dingin. Bagi mereka bisa bermain ski di Swiss, Kanada, atau Jepang sudah biasa. Tetapi bermain ski di Korea Utara? Itu adalah pengalaman seumur hidup!

Epilog: Satu Musim, Dua Dunia

Dari keterangan teman-teman saya yang masih di Pyongyang, listrik di kota itu sekarang perlahan mulai membaik dan tidak separah saat saya masih di sana. Namun, musim dingin yang saya alami di Korea Utara antara 2013-2015 memperlihatkan dua sisi dunia yang kontras.

Dari mulai listrik biarpet yang menyebabkan heater mati, sehingga saya harus menahan dinginnya minus 20 derajat hanya berbekal jaket dan selimut, sampai menikmati indahnya kota Pyongyang yang memutih oleh salju dan berseluncur di lintasan ski modern di Masikryong.

Semuanya seolah mengingatkan saya bahwa sejatinya tidak ada yang tetap di dunia ini, dan selalu ada sisi lain dari sebuah tempat.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: