Pencarian populer
USER STORY

Pesona Kota Pyongyang yang Tidak Media Barat Beritakan

Pusat Kota Pyongyang dengan ikon kotanya yang paling terkenal, Alun-alun Kim Il Sung Square (Foto: Dok. Pribadi)

Apa yang terlintas dalam pikiran anda kalau mendengar nama negara "Korea Utara" selain sang supreme leader Kim Jong Un, yang baru-baru ini bertemu Presiden AS, Donald Trump, di Hanoi?

Pastinya juga hal-hal yang tidak terlalu positif seperti uji coba senjata nuklir, negara tertutup, tentara di mana-mana, dan lain sebagainya yang tidak enak didengar.

Informasi-informasi tersebut umumnya berasal dari media barat dan dari orang-orang yang bahkan belum pernah menginjakkan kakinya di Korea Utara. Atau juga dari wisatawan yang hanya melihat Korea Utara secara terbatas, karena harus mengikuti aturan dan jadwal pemandu wisata dari Korea Utara yang ketat.

Ibu Kota Korea Utara adalah Pyongyang, yang selama ini selalu identik dengan parade militer di Kim Il Sung Square lengkap dengan kendaraan yang membawa rudal nuklir. Begitu, bukan, yang kerap kita lihat di layar televisi?

Menjadi diplomat yang ditempatkan di Korea Utara memberikan saya kesempatan yang sangat langka dan unik karena bisa melihat dan mengeksplorasi langsung Pyongyang dan tempat-tempat lain di Korea Utara dengan jauh lebih leluasa daripada apabila datang sebagai wisatawan yang secara ketat harus ikut pemandu orang Korea Utara.

Di balik bangunan-bangunan bergaya Stalinis-Realis dan propaganda-propaganda, siapa yang sangka banyak 'permata-permata' tersembunyi di Pyongyang yang tidak banyak orang tahu. Berikut ini adalah tempat-tempat tersebut yang mungkin anda tidak dengar ada di Pyongyang, Korea Utara.

  1. Peninggalan-peninggalan Sejarah Dinasti Go-Joseon dan Koguryeo

Para ahli sejarah kedua Korea (Selatan dan Utara) umumnya menyepakati bahwa dinasti atau kerajaan pertama dalam sejarah Korea adalah Dinasti Go-Joseon (2333 SM-108 SM). Ibu Kota Kerajaan Go-Joseon waktu itu adalah Pyongyang, di mana peninggalan dinasti ini bisa dilihat pada banyaknya dolmen-dolmen (kubur batu) yang berasal dari zaman itu.

Bahkan, rakyat Korea Utara percaya bahwa Tangun, nenek moyang bangsa Korea dan pendiri Dinasti Go-Joseon, meninggal dan dimakamkan di Pyongyang. Di Pyongyang, terdapat makam yang diklaim sebagai makam sang tokoh legendaris yang sering disebut sebagai "bapak semua orang Korea" ini.

Makam Tangun, nenek moyang bangsa Korea, di sisi timur Pyongyang (Foto: Dok. Pribadi)

Setiap tanggal 3 Oktober, semua orang Korea (baik Korea Utara maupun Korea Selatan) memperingati Hari Pendirian Bangsa Korea atau yang disebut Gaecheonjeol. Warga Pyongyang menaruh sesajen di altar di makam Tangun ini, sebagai penghormatan kepada bapak moyang mereka.

Namun, peninggalan yang paling banyak terlihat adalah dari Dinasti Koguryeo (37 SM-668 M), kerajaan terbesar dalam sejarah Korea yang kekuasaannya dulu meliputi Manchuria dan Tiongkok utara, yang juga beribu kota di Pyongyang.

Begitu besar dan kuatnya dinasti ini sampai-sampai bisa mengalahkan kekuatan militer Tiongkok yang diperintah oleh Dinasti Sui, dan menjadi satu-satunya kerajaan bangsa Korea dalam sejarah yang bisa menang melawan Tiongkok yang jauh lebih besar. Kekalahan perang dari Dinasti Koguryeo (Perang Sui-Koguryeo antara 598 M-614 M), bahkan menyebabkan Dinasti Sui runtuh dan digantikan oleh Dinasti Tang.

Gerbang Taedongmun di pinggir Sungai Taedonggang. Di zaman Dinasti Koguryeo yang beribu kota di Pyongyang, gerbang ini menjadi gerbang utama untuk memasuki kota yang saat itu dikelilingi oleh benteng batu (Foto: Dok. Pribadi)

Di tengah Kota Pyongyang, kita bisa melihat jelas reruntuhan Benteng Pyongyang dengan gerbang-gerbang yang dulu mengelilingi kota tersebut di Zaman Koguryeo. Gerbang terbesar yang sampai sekarang masih bisa kita lihat di Kota Pyongyang adalah gerbang Taedongmun, yang dulu merupakan gerbang utama untuk memasuki Pyongyang.

Reruntuhan Gerbang Tongam di Bukit Moran, pusat Kota Pyongyang, salah satu dari banyak gerbang dari Benteng Pyongyang. Pada zaman Dinasti Koguryeo (37SM-668M), kota Pyongyang dikelilingi oleh tembok benteng untuk melindungi kota itu dari serangan musuh (Foto: Dok. Pribadi)

Selain itu, di Gunung Taesong di utara Pyongyang juga terdapat benteng dan reruntuhan Istana Anhak yang dulu menjadi istana raja-raja Koguryeo. Di Pyongyang juga bertebaran makam-makam dari dinasti tersebut yang sering kali berdampingan dengan fasilitas militer atau rumah-rumah penduduk.

Benteng Taesong di puncak Gunung Taesong, utara Kota Pyongyang. Benteng ini dibangun di abad ke-4 untuk melindung Istana Anhak dan kota Pyongyang, Ibu Kota Dinasti Koguryeo, dari serangan musuh. Kota Pyongyang terlihat di latar belakang foto ini (Foto: Dok. Pribadi)
  1. Stadion Terbesar di Dunia, Tempat Digelarnya Pagelaran Senam Massal Terbesar di Dunia

Pernahkah mendengar tentang stadion terbesar di dunia dan acara pergelaran senam massal terbesar di dunia? Apa benar keduanya ada di Pyongyang? Jawabannya, betul dan betul.

Guinness Book of Record pada tahun 2007 menobatkan “Arirang Mass Games (Arirang)” sebagai pagelaran senam dan artistik massal terbesar di dunia dengan lebih dari 100.000 penampil yang mempertunjukkan babak-babak dalam sejarah Korea.

Arirang sendiri selalu digelar di Stadion May Day (Rungrado May Day Stadium) di Pulau Rungrado, yang merupakan stadion terbesar di dunia yang bisa menampung 150.000 orang (sekarang menjadi 114.000). Ketika saya mendapat kesempatan untuk menonton pagelaran tersebut, sayangnya saya tidak diperbolehkan mengambil foto di dalam stadion.

Stadion May Day di Pulau Rungrado, di tengah Kota Pyongyang, merupakan stadion terbesar di dunia, dan lebih sering digunakan untuk kegiatan militer dan Arirang Mass Games (Foto: Dok. Pribadi)
  1. Situs Warisan Dunia UNESCO (UNESCO World Heritage Sites)

Pyongyang punya situs warisan dunia? Betul, sejak tahun 2004, ketika UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) meresmikan Kompleks Makam Kuno Dinasti Koguryeo sebagai situs pertama di Korea Utara yang menjadi warisan dunia.

Kluster utama dari makam-makam tersebut berada di selatan Pyongyang, di mana salah satunya merupakan Makam Raja Tongmyong (atau yang biasa dikenal sebagai Ko Jumong), yang merupakan raja pertama dan pendiri Dinasti Koguryeo. Makam-makam Koguryeo ini sangat unik karena jenazahnya biasanya diletakkan di dalam kamar batu yang dihiasi lukisan berwarna-warni dan kemudian dikubur dengan gunungan tanah.

Makam Raja Tongmyong (59 SM-19 SM), pendiri Dinasti Koguryeo. Makam ini merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO, yakni Kompleks Makam Kuno Dinasti Koguryeo (Foto: Dok. Pribadi)

Keunikan arsitektur interior makam dan pentingnya Dinasti Koguryeo dalam 5 milenium sejarah bangsa Korea, membuat UNESCO menobatkan kompleks makam ini bukan hanya sebagai kekayaan budaya nasional Korea Utara, melainkan juga situs warisan dunia. Hal itu berarti pula warisan kekayaan umat manusia secara keseluruhan.

Kompleks makam para bangsawan Dinasti Koguryeo tidak jauh dari makam Raja Tongmyong. Makam-makam inipun termasuk ke dalam situs warisan dunia UNESCO. Beberapa makam bahkan bisa dimasuki, namun lukisan dinding di dalam makam banyak yang sudah luntur akibat air, kelembaban dan termakan waktu setelah ratusan tahun (Foto: Dok. Pribadi)
  1. Tempat-tempat Peribadatan

Apakah ada tempat-tempat ibadah di negara komunis yang identik dengan ateisme dan anti-agama? Ada. Saya mengunjungi dan melihat sendiri tempat-tempat tersebut satu per satu. Kebebasan beragama dan memiliki kepercayaan sebetulnya dijamin dalam Pasal 68 Konstitusi Korea Utara.

Meskipun rakyat Korea Utara pada umumnya tidak beragama, tetapi nilai-nilai budaya Korea erat dengan nilai-nilai agama Buddha dan Konghuchu yang selama berabad-abad menjadi agama dominan di Semenanjung Korea. Kini, setidaknya ada 3 kuil Buddha di Pyongyang.

Kuil Buddha Chongrung di selatan Pyongyang (Foto: Dok. Pribadi)

Sebelum pecahnya Perang Korea (25 Juni 1950-27 Juli 1953), Pyongyang merupakan basis penyebaran agama Kristen di Korea. Bahkan dijuluki sebagai “Yerusalem dari Timur” karena banyaknya gereja dan penginjil di kota ini. Saat ini di Pyongyang terdapat setidaknya 4 gereja (1 Katolik, 2 Protestan, dan 1 Ortodoks Russia).

Gereja Protestan Pongsu di Pyongyang barat (Foto: Dok. Pribadi)

Sebaliknya, Korea Selatan merupakan basis pendukung ideologi sosialis-komunis. Namun setelah perang Korea usai, posisinya berganti. Korea Utara menjadi negara komunis, dan sebaliknya banyak penganut Kristiani sekarang berada di Korea Selatan, yang mencapai lebih dari 20 persen penduduk negara itu.

Sementara itu, kaum muslimin (semuanya orang asing) dapat melaksanakan salat Jumat maupun salat Ied di Masjid Ar-Rahman di dalam kompleks Kedutaan Besar Iran. Masjid ini mungkin merupakan salah satu masjid yang paling unik di dunia karena kita bisa menyaksikan kerukunan kaum muslimin yang sesungguhnya.

Orang Sunni dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, Nigeria, dan Palestina dapat salat berdampingan dengan orang Syiah dari Iran dan Syria, diimami imam Sunni dari Mesir.

Masjid Ar-Rahman di dalam kompleks Kedubes Iran di Pyongyang, saat ini merupakan satu-satunya masjid di Korea Utara (Foto: Dok. Pribadi)
  1. Sistem Kereta Api Bawah Tanah Terdalam di Dunia

Asal tahu saja, sistem kereta api bawah tanah terdalam di dunia ada di Pyongyang. Ya, Pyongyang Metro atau sistem kereta api bawah tanah Pyongyang memiliki permukaan trek sedalam 360 kaki atau lebih dari 110 meter.

Begitu dalamnya, sampai-sampai suhu di dalam stasiun keretanya selalu konstan 18 derajat Celcius setiap tahunnya. Stasiun-stasiun Pyongyang Metro pun dapat digunakan sebagai shelter bagi serangan bom udara.

Interior dalam Stasiun Puhung, satu-satunya stasiun Pyongyang Metro, di mana orang asing boleh naik dan turun. Stasiun ini terletak di depan Stadion Kim Il Sung (Foto: Dok. Pribadi)

Transportasi massal yang setiap hari mengangkut 300.000-700.000 warga Pyongyang ini hanya terdiri dari 2 jalur, dan mulai beroperasi sejak 9 September 1973, atau 46 tahun sebelum MRT di Jakarta diresmikan. Pyongyang yang merupakan sister city (kota saudara) Jakarta ternyata sudah lama memiliki kereta bawah tanah.

Epilog: More Than Just Meets the Eyes

Ada peribahasa Korea yang mengatakan bahwa “lebih baik melihat sekali, daripada mendengar seratus kali”. Petualangan saya selama dua tahun di Pyongyang menghidupkan peribahasa itu.

Di tempat yang sekilas monoton dan tidak banyak yang bisa dilihat seperti Pyongyang, ternyata menyimpan banyak 'permata' tersembunyi (hidden gems) yang menunggu untuk ditemukan asalkan kita mau membuka mata dan terus bereksplorasi.

Berbeda dengan banyaknya pemberitaan media-media barat yang menggambarkan Pyongyang dengan citra yang suram dan seram, banyak pesona yang masih bisa dinikmati di kota yang unik ini. Melalui kota yang luar biasa ini, saya seolah diajarkan Tuhan untuk selalu melihat di balik apa yang nampak di permukaan.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: