• 1

USER STORY

Rio Haryanto and The Emotional Nico

Rio Haryanto and The Emotional Nico


Gelaran F1 pernah mencapai masa jayanya di Indonesia ketika Michael Schumacher mendominasi musim 2000-2004 setelah sebelumnya harus bersaing ketat dengan Mika Hakkinen dan diakhiri dominasinya oleh Fernando Alonso. Terakhir kali saya sendiri mengikuti ajang F1 saat Fernando Alonso menjuarainya di tahun 2006. Setelah itu F1 seolah-olah menjadi tayangan eksklusif dikarenakan jalannya balapan semakin monoton.
Tahun 2016 ini adalah sejarah baru bagi dunia balap Indonesia dimana pembalap terbaik Indonesia, Rio Haryanto, berhasil menembus F1 dengan menjadi paid driver di tim papan bawah Manor Racing. Tidak pernah sebelumnya saya mengikuti kiprah Rio di ajang GP3 atau pun GP2, saya pun tidak mampu berharap banyak. Tetapi saya sangat penasaran dengan Rio dengan ekspektasi saya dia akan menjadi the next alex yoong di sirkuit. Anggapan itu buyar seketika Rio mampu bersaing dengan rekan setimnya Pascal Wehrlein yang digadang-gadang akan menjadi juara dunia di masa mendatang. Beberapa kali mengasapi di sesi latihan bebas dan kualifikasi serta hanya kalah selisih sepersekian detik saat balapan adalah pencapaian yang luar biasa untuk pembalap medioker seperti Rio. Ya, realistis saja berhubung prestasi terbesarnya hanya peringkat 4 di GP2, sementara saingannya merupakan juara-juara dari kelas GP2, GP3, Formula 3, dll. Pada akhirnya pun paid driver hanyalah seorang paid driver, Rio harus meninggalkan F1 setelah manajemennya tak sanggup membayar sisa kontraknya terhadap manor.
Sampai disini saya harus berterima kasih kepada Rio, karena kecintaan terhadap dunia olahraga balap yang mengguncang adrenalin ini mulai muncul. Rio hengkang bukan masalah yang harus diperpanjang. Perpaduan antara skill membalap, kerjasama tim, dan performa kendaraan yang diwadahi oleh kejelian dalam mengatur strategi adalah seni dalam kompetisi. Siapa sangka Scuderia Ferrari dengan keadaan mobil yang mumpuni dan ditunggangi pembalap-pembalap yang pernah mendominasi kompetisi mampu dipecundangi karena buruknya strategi. Siapa sangka Lewis Hamilton dengan skill tak tertandingi, kendaraan yang mendominasi, dan kondisi tim yang sangat mandiri bisa gagal menjadi juara berturut-turut yang ketiga kali karena mesinnya mati ketika memimpin seri. Siapa lagi yang perhatiannya tercuri oleh keramahan Daniel Ricciardo, saya sampai berharap dia menjadi juara di musim berikutnya. Jangan lupa ada Max Verstappen si remaja fenomenal dengan sikapnya yang kontroversial, walaupun sangat potensial tetapi kadang juga membawa sial. Ketika di awal musim asa membumbung pada Sebastian Vettel untuk mengakhiri dominasi Mercedes, semua buyar karena strategi yang medioker. 
Pada akhirnya hanya Nico Rosberg yang mampu menarik hati saya. Dengan dominasinya di awal musim, dia pantas mendapat gelar juara dunia. Semua boleh mengakui Lewis Hamilton memiliki skill lebih baik dibanding dirinya. Mental yang kuat, "now or never" mungkin adalah tulisan yang terpampang di atap kamarnya sehingga harus ia baca sebelum tidur. Sempat terdesak oleh Lewis Hamilton, mentalnya terlihat semakin tertekan, apabila saya yang menjadi dirinya mungkin sesekali saya harus menangis dalam tekanan tersebut dan akan ada suatu waktu untuk menyerah. Sempat pula diuntungkan oleh keadaan, bermain aman menjadi hal yang wajib dilakoninya atau karirnya akan berakhir biasa saja. Semua terbayar ketika menjadi finish ke-2 di Abu Dhabi dan berhasil menjadi juara dunia di sana, siapa pun yang mengikuti kiprahnya di 2016 pasti dapat merasakan emosinya yang terluap dengan lepas, banyak kecemasan akan apa yang dialami Felipe Massa di 2008 akan terulang, namun pada akhirnya Nico Rosberg mampu menjadi juara dunia F1 untuk yang pertama kalinya.
Bagai banjir di musim kemarau, siapa yang tak patah hati ketika muncul keputusannya untuk pensiun dari F1. The Emotional Nico, saya menjulukinya. Meski banyak dipertanyakan, tetapi pensiun di puncak karir adalah keputusan yang tepat. Kini kursi yang pernah didudukinya masih kosong, tetapi siapapun yang mengisinya diharapkan akan memberikan suasana intimidatif bagi Lewis Hamilton agar F1 tidak lebih membosankan dari sebelum-sebelumnya. Auf Wiedersehen, Nico!



Formula 1

500

Baca Lainnya