Pencarian populer

Album Baru Dream Theater ke-14: Distance Over Time

Cover Album Baru Dream Theater: Distance Over Time

Akhir bulan Februari lalu terasa spesial buat hardcore fans Dream Theater (DT) seperti saya. Pasalnya setelah single baru Unthetered Angel muncul di Spotify, Petruci dan kawan-kawan akhirnya merilis album 2019 mereka berjudul: Distance Over Time.

Saya paling sebel nih sama teman-teman saya yang kalau album baru Dream Theater muncul selalu bilang, "Musiknya masih enak jaman Spirit Caries On". Seolah lagu DT yang paling bener itu cuman itu doang.

Dude. if you really like progresive music, then admit it. Explorasi keyboard Rudes, sang wizard idola saya, keindahan raungan gitar Petruci, kelempengan John Myung, gebukan Mangini dan tarikan vokal Labrie memang membaca ciri khas tersendiri bagi tiap album yang mereka bawakan.

Ada Yang Beda. Apa Itu Inside Out Music?

Jika Anda memperhatikan potongan clip official channel YouTube DT, maka Anda banyak menjumpai tempelan brand Inside Out. Album ke-14 DT ini memiliki label baru bernama Inside Out Music. Saya sendiri tidak paham kenapa mereka menggunakan label baru. Buat saya toh sama saja.

Rekaman album ke-14 ini sendiri bertempat di Yonderbarn studios in Monticello, New York. Empat bulan sudah waktu yang mereka persiapkan untuk membuat album ini. Wew empat bulan doang jadi begini. Memang beda kelas nih para suhu progresive rock. Benar saja ketika saya coba dengarkan dan mencoba memahami satu-satu narasi lagu mereka, ada sesuatu yang menarik.

Opening track pertama dari album ini berjudul "Unthetered Angel". Saya berpendapat ini adalah lagu yang sempurna untuk memperkenalkan nuansa album ini. Lagu ini bermula dengan suara akustik dengan tone arpeggio lembut dan perlahan. Seperti biasa Rudes menambahkan nuansa keyboard yang agak dark memasuki alam progressive metal yang berakhir ultra kompleks.

Saya sendiri suka verse kedua, dimana The Wizard Rudes, mulai bermain solo keyboard, disusul Petruci bermain gitar secara bersahut-sahutan dengan aluman piano Rudes. Sepertinya kekuatan lagu DT muncul ketika mereka berdua "ngobrol" secara harmonis dengan instrumental masing-masing.

"Paralyzed" di lagu kedua bermula dengan extended riff gitar EBMM JP-BFR Baritone milik Pet. Tak lama kemudian suara lantang LaBrie menuntun para pendengar kepada ini lagu ini, sebelum mereka benar-benar "Paralyzed". Highlights lagu ini sebenarnya ada pada bagian instrumental Petruci.

Single kedua album ini berjudul "Fall Into The Lights". Semua pasti setuju intro awal lagu ini sangat metal banget. Distorsi dan raungan gitar Petruci membuka perkenalan lagu ini. Riff gitar Petruci di lagu ini mengingatkan saya pada permainan gitar James Hetfield Metallica pada lagu master of puppets. Coba saja dengarkan!

Salah satu lagu yang nuansanya paling progressive pada album kali ini menurut saya adalah "Bristool Warrior". Doubled gitar dan keyboard langsung menghajar kuping saya di awal lagu. Yang asik Myung dan Mangini langsung menyambut duet pertama Rudes dan Petruci. Lagu ini benar-benar dinamis. Nuansa progressive ala "Hell Kitchen" langsung kerasa. Saya suka banget model nuansa seperti ini. Seolah-olah menambah gairah menjalani hidup di ibukota *apa seh...

Lagu lain yang menurut saya oke adalah "At Wit's End". Sebagai informasi lagu ini mereka tulis di tengah-tengah tour perayaan ke-25 Images and Words kemarin. Luar biasa ya emang kalau para maestro progresive lagi produktif. Di tengah produktif aja masih produktif loh.

Dalam sebuah interview dengan portal musik Metal, Petruci sempat bercerita bahwa lagu ini mengisahkan energy dan para anggota band dalam berkarya selama 25 tahun tersebut. Ini adalah sejarah panjang perjalanan karir DT. Pantas saja kalau lagu ini memiliki durasi paling panjang dalam Distance Over Time, yakni 9:21.

Space, Machine, and Spiritual

Secara umum yang saya rasakan ketika mendengar album ini masih terasa sangat mesin sekali. Artinya nuansa album Asthonishing pada 2016 lalu masih terasa kental. Yang agak beda ini albm ada nuansa antara Space campur Spiritual dikit. Nah, gimana tuh ngebayanginnya. Susah dijelaskan lah pokoknya.

Coba saja dengarkan lagu berjudul "Pale Blue Dot". Jika Anda membaca Carl Sagan, pasti akan langsug tahu ini lagu tentang apa. Ini adalah sebuah refleksi bagaimana manusia bisa saling membahayakan satu sama lain dalam membangun peradaban di planet biru yang kecil diantara jutaan galaksi di alam semesta.

Buat fans DT yang gemar mendengarkan "Dance Of Eternity" atau "Octavarium", dijamin telinga kalian akan cocok dengan album ini. Selamat menikmati!

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: