• 0

USER STORY

Cognitive Marketing

Cognitive Marketing


Dunia Marketers tahun ini tengah memasuki babak baru. Ini eranya kecerdasan buatan dalam balutan software masuk dan melebur dalam dunia marketing. Di sini para marketers mulai dituntut berpikir dan menganalisa dengan bantuan software.

Inilah eranya Cognitive Marketing. IDC pun memprediksi hingga 2020 bakal terjadi kenaikan penggunaan kecerdasan buatan dalam bidang marketing.

Gerry Murray – IDC Research Manager memiliki definisi tersendiri terhadap Cognitive Marketing ini.

“Processes akin to the human brain, [by] taking signals and drawing conclusions.”

Menurut saya, mau atau tidak mau para marketers —saya sudah tidak lagi menyebut Digital Marketers— sudah harus terjun ke dalam babak baru ini. Ada banyak efisiensi yang didapatkan jika sebuah brand tengah memasuki dunia cognitive ini.

Berdasarkan pengalaman, beberapa keunggulan yang didapat jika kita sudah memanfaatkan cognitive marketing adalah; self-learning intelligence, chat bots, automated segmentation , image analysis, natural language recognition serta automatically delivered personalization content.

Dalam dunia marketing yang sudah digital —jadi tidak ada lagi terminologi digital marketing— sekarang ini banyak sekali layanan dari vendor-vendor yang menyediakan tools berbasis cognitive. Ini tentunya bakal memudahkan analisa marketing yang dituntut semakin cepat dan detail dalam memahami konsumen.

Sebenarnya ada tiga hal mendasar yang didapatkan sebuah brand yang sudah menginvestasikan budget ke arah cognitive marketing ini.

Era Baru Segementasi Audience

Kita tahu bahwa segemantasi merupakan hal yang sangat vital bagi marketers. Jika kita paham segementasi kita, maka bakal lebih mudah dan efisien untuk menyampaikan isi pesan kepada konsumen. Selain itu kita bisa menekan cost lebih efektif.

Dengan memanfaatkan machine learning, kita sudah bisa mengubah serangkaian database konsumen kepada data warehouse. Dan ini yang melakukan adalah mesin. Artinya segementasi yang diserap bakal lebih detail dan cepat.

Personalized Content

Dengan didapatkannya data segmentasi yang lebih detail dan cepat, kini marketers bisa melakukan personalisasi konten lebih efektif dari sebelumnya.

Jika brand sudah bisa melakukan personalisasi konten, artinya kesalahan untuk mendeliver brand message ke audience yang kurang tepat bisa lebih dihindari.

Help customers make better decisions

Selain bisa melakukan personalized content bagi brand, konsumen pun bisa diuntungan dengan cognitive marketing. Mereka bisa membuat keputusan lebih matang sebelum membeli suatu barang, sehingga lebih yakin membeli barang yang sesuai budgetnya.

Simplenya begini. Ketika si A mencari barang kebutuhan pernikahan di internet, brand yang berhubungan dengan si A musti memahami perilaku si A.

Ketika si A memiliki banyak budget, brand kudu tanggap menawarkan produk dengan harga tinggi. Demikian juga jika cognitive tools menangkap bahwa si A tidak memiliki budget banyak, brand harus paham bagaimana menawarkan barang yang sesuai kebutuhan si A.

Saat si A ditawarkan barang yang sesuai budgetnya, ini bakal membuat produk yang ditawarkan lebih laku.

Nah, sebagai marketing, apakah Anda sudah siap memasuki babak Cognitive Marketing ini?

Cognitive Marketing


Market Review

500

Baca Lainnya