kumparan
20 Des 2018 12:17 WIB

Post-Truth dan Algoritma Media Sosial

Platform media sosial Twitter. (Foto: Thomas White/Reuters)
Saya sejujurnya sudah cukup jengah dalam minggu ini mengamati timeline social media. Jika bukan berisi politik pasti agama. Entah kenapa hanya dua hal ini yang paling banyak berseliweran di timeline Facebook saya.
ADVERTISEMENT
Ke mana dengan teman-teman saya yang suka review gadget? Ke mana dengan komunitas spiritual dan budaya? Ke mana info menarik seputar cryptocurrency?
Kalau boleh saya melemparkan unek-unek, ini mungkin adalah kesalahan terbesar sebuah algoritma social media terbesar di planet ini yang namanya tidak akan saya sebut di artikel ini untuk menjaga hati teman-teman kolega saya yang juga hidup dari perusahaan tersebut.
Kesalahan di sini maksudnya adalah ketidaksempurnaannya --belum sempurna-- sebuah algoritma yang kurang bisa 'memahami' kontekstual dari isu yang menjadi perbincangan di media sosial. Kekurangan ini menjadi fatal ketika di Indonesia zaman ini orang cenderung masuk zona 'post-truth'.

Fantasi dan realitas kerap tercampur dalam benak kita. Sayangnya, hal itu sering disalahgunakan dalam politik, agama dan apapun untuk menjual kebahagiaan semu.

- -

ADVERTISEMENT
Kenapa itu bisa terjadi, Mas?
Kenapa bisa terjadi? Penjelasannya sebenarnya gampang saja. Pada prinsipnya manusia suka hidup dalam alam imajinernya sendiri. Termasuk berasumsi sendiri, mbatin, ngrasani, dan lain-lain. Nah, kalau kita suka berasumsi sendiri, itu sebenarnya sudah masuk kategori ini. Apalagi jika asumsinya ternyata melenceng dari sebuah realita yang mungkin kejadiannya justru sebaliknya.
Media sosial berwarna biru, yang namanya tidak akan saya sebut pada artikel ini, memiliki algoritma yang 'membakar' post-truth itu sendiri.
Misal: jika kita adalah seorang radikalis, kita bakal mendapat timeline soal kegiatan radikal yang anti-nasionalis. Jika kita penganut aliran bumi datar, algoritma mesin media sosial tersebut akan memfilter orang-orang aliran bumi bulat. Keren, ya?
Nah, jadi masalah di negeri kita Indonesia, ketika politik menjadi komoditas utama perbincangan media sosial. Alhasil yang kubu anti-pemerintah bakal semakin sering menerima konten dari sesamanya. Begitu pula yang pro-pemerintah, bakal menganggap ide-ide oposisi itu salah.
ADVERTISEMENT
Jadi gampangnya, cebong menjadi semakin cebong, kampret menjadi semakin kampret.
Kasus 'intoleran' yang belakangan ini terjadi di Jogja adalah salah satu contoh post-truth yang terjadi di media sosial. Orang Jogja mungkin malah menganggap hal ini biasa aja. Wong sudah clear.
Tapi, buat yang di luar Joga yang memiliki keterikatan dengan Jogja, atau keterikatan dengan kasus intoleransi message-nya menjadi terdistorsi. Alhasil kebenaran imajiner yang ada di benaknya seolah teramini.
Belum lagi ada beberapa pihak yang sengaja mendompleng isu ini untuk kepentingan internal mereka sendiri.
Bagaimana seharusnya?
Pertanyaan yang mudah, tapi tidak dengan jawabannya. Apalagi implementasinya. Idealnya masyarakat kita perlu adanya kesepakatan bersama, yang diamini oleh semua pihak. Semua pihak tunduk dan percaya secara total kepada informasi tersebut. Itulah yang namanya kredibilitas informasi.
ADVERTISEMENT
Di zaman post truth ini problemnya memang susah sekali mencari sumber informasi yang kredibel. Peran media mulai tergeser dengan peran media sosial. Begitu juga dengan kebenaran publik yang menjadi kebenaran kelompok semata.
Memangnya ada, ya, kebenaran mutlak itu? Kalau sudah begini, kita sedikit bergeser ke ranah filsafat yang sempat saya selami selama kuliah.
Manusia mengerti sesuatu sebatas pengertiannya sendiri dan melihat sesuatu sebatas daya lihatnya sendiri. Dia tidak bisa dan tidak mungkin bisa mengerti dan melihat sesuatu sebagaimana adanya. Jadi kebenaran yang dilihatnya dari sudut pandangnya sendiri (yang terbatas) itu bersifat relatif, bukan absolut (mutlak). Dikuasai oleh ruang dan waktu mempunyai implikasi bahwa ia tidak mahatahu (artinya banyak hal yang tidak diketahuinya), bisa salah dan selalu berubah berganti.
ADVERTISEMENT
Intinya yang disebut sebagai kebenaran mutlak yang sejati itu harus datang dari luar manusia. Adapun manusia hanya bisa mempunyai kebenaran relatif. Tidak mungkin ada kebenaran mutlak di level manusia atau yang di bawahnya.
Kebenaran mutlak harus datang dari level yang lebih tinggi. Dari sang klausa prima. Sang Hyang Widi pencipta alam semesta. Allah SWT. Allah Bapa Yang maha Kuasa. Elohim. Bagi yang percaya. Itu aja solusinya.
Lha, jadi bagaimana solusi permasalahan post truth dan media sosial ini?
Jawabannya adalah: Tabayyun.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan