kumparan
News23 Mei 2020 11:34

Idul Fitri dan Empirisme

Konten kiriman user
Ilustrasi Lebaran Virtual, Idul fitri, idulfitri
Ilustrasi lebaran virtual. Foto: Ngroho Sejati/kumparan
Suasana Idul Fitri 1441 H tahun ini berbeda dengan suasana idul fitri sebelumnya. Walaupun sama-sama dilaksanakan sesudah berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi tingkat kemeriahan dan ritualitas yang menyertainya sangatlah berbeda. Kini tak ada lagi takbir keliling dengan suara beduk yang bertalu-talu, mudik dengan bermacet-macet ria, salat idul fitri di lapangan atau masjid, bersalam-salaman antar anggota keluarga, kerabat dan sahabat, ziarah ke makam keluarga, halal bihalal dengan kerabat dan kawan sejawat dan sebagainya.
ADVERTISEMENT
Wajah Idul Fitri yang berbeda itu, semua itu dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar untuk mencegah dan meminimalisir penyebaran Covid-19. Sebab, sampai sekarang belum ditemukan vaksin untuk menyembuhkan virus Corona. Sehingga, salah satu cara agar terhindar adalah dengan meminimalisir penyebarannya.
Idul fitri secara bahasa berarti hari raya Kesucian atau juga berarti hari raya Kemenangan. Yakni kemenangan mendapatkan kembali mencapai kesucian, fitri yang sejati. Adapun kata ‘id dalam bahasa Arab diambil dari akar kata ‘ain-wa-da, yang memiliki banyak arti, di antaranya sesuatu yang berulang-ulang. Kata ‘id juga berarti kebiasaan dari kata ‘adah. Dan kata ‘id juga memiliki arti kembali, kembali ke asal dari kata ‘audah.
Dari pengertian yang terakhir, Idul Fitri atau kembali ke asal adalah pengertian yang sangat relevan dengan makna yang akan dicapai dalam pelaksanaan ibadah puasa. Ibadah puasa merupakan sarana penyucian diri, baik lahir maupun batin, tentu saja apabila dijalankan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan serta disadarinya tujuan puasa itu sendiri yakni sense of objective (memiliki rasa ketaqwaan).
ADVERTISEMENT
Hal ini sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw yang berkaitan dengan asal kejadian manusia. Rasulullah Saw bersabda ; “Setiap manusia yang lahir adalah dalam suci, kedua orangtuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR Bukhari dan Muslim). Penegasan yang berkenaan dengan kesucian bayi yang baru lahir juga dinyatakan dalam sebuah hadits lain yang mengatakan bahwa seorang bayi apabila meninggal, maka akan dijamin masuk surga.
Dalam konteks Pendidikan, konsep fitrah sejalan dengan teori Pendidikan yang dikemukakan John Locke, seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Dengan konsep tabularasa, John Locke mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet ot white paper avoid of all characters). Jadi, sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa.
ADVERTISEMENT
Anak dapat dibentuk sekehendak pendidiknya, baik itu orang tua guru, ustadz, kyai, dosen, suhu, pelatih maupun yang lainnya. Jadi kekuatan utama ada pada pendidik. Pendidikan dan lingkungan berkuasa atas pembentukan karakter anak. Sehingga pendidik dan pendidikan karakter memiliki posisi yang strategis dalam menentukan bagi masa depan anak.
Pendapat John Locke tersebut, dikenal juga dengan teori empirisme, yaitu suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa segala kecakapan dan pengetahuan manusia itu timbul dari pengalaman (empiri) yang masuk melalui alat indera. Empirisme (Yunani) ; “Empiris” berarti pengalaman inderawi. Empirisme merupakan faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahir yang menyangkut dunia maupun pengalaman batin yang menyangkut pribadi manusia.
ADVERTISEMENT
Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Sehingga, semakin banyak ilmu dan pengalaman baik yang dialami anak didik, akan berpengaruh secara positif dalam menentukan tingkat keberhasilan anak di masa depan.
Kaum behavioris juga berpendapat senada dengan teori tabularasa itu. Behaviorisme tidak mengakui adanya pembawaan dan keturunan, atau sifat-sifat yang turun-temurun. Semua Pendidikan, menurut behaviorisme, adalah pembentukan kebiasaan, yaitu menurut kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungan seorang anak.
Ketika kita sekarang kembali kepada kesucian (idul fitri), setelah sebulan lamanya berpuasa, mari kita isi dan hiasi dengan ilmu pengetahuan, pengalaman dan lingkungan yang baik. Sehingga, kesucian tetap terjaga dan tujuan berpuasa menjadi orang yang bertakwa, yakni dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, dapat terwujud.
ADVERTISEMENT
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1441 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan