Logical fallacy dalam Penggunaan Artificial Intellegence (AI)

Mahasiswa jurusan psikologi, Universitas Brawijaya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fawwazah Naila Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalian pasti merasakan dampak nyata dari seberapa jauh Artificial Intelligence (AI) telah membawa kehidupan kita ke dalam berbagai kemudahan di era sekarang ini. Siapa yang tidak kenal dengan AI di era yang serba digital sekarang? Kenyataannya, hampir semua individu saat ini sudah mengenal AI meskipun hanya mengetahui beberapa model atau platform saja. Secara teknis, Artificial Intelligence merupakan sebuah sistem yang dirancang sedemikian rupa agar dapat meniru kecerdasan manusia, termasuk dalam kemampuan memahami masalah, memecahkan komplikasi logika, dan masih banyak lagi. Dengan segudang kemampuan yang ditawarkan tersebut, tidaklah aneh jika banyak individu kini menganggap AI sebagai seorang “asisten pribadi.”
Selain membantu dalam urusan kehidupan sehari-hari, AI juga memberikan kontribusi besar dalam dunia akademik. Salah satu manfaat utama dari AI dalam dunia pendidikan ialah kemampuannya dalam memberikan informasi yang relevan serta terperinci dalam waktu yang singkat. Dengan adanya AI, diharapkan semua pihak, mulai dari tenaga pengajar hingga murid, mendapatkan kemudahan untuk menyelesaikan berbagai tugas. Beberapa contoh AI yang kini lazim digunakan adalah ChatGPT, Google Gemini, Perplexity, dan masih banyak lagi. Bahkan, sekarang sudah tersedia situs web bertenaga AI yang bisa membuat presentasi atau PPT secara otomatis yang sudah lengkap dengan informasi mengenai topik yang kita ajukan. Sungguh pesat sekali perkembangan teknologi sekarang ini, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan.
Sayangnya, kemajuan teknologi AI ini bagaikan pisau bermata dua bagi penggunanya. Di satu sisi, kemajuan ini memiliki sifat positif, yaitu dapat memberikan kemudahan dalam mencari informasi dengan waktu yang sangat cepat. Namun, di sisi lain, jika teknologi ini digunakan secara terus-menerus tanpa kontrol, hal tersebut akan menimbulkan ketergantungan yang akut dan menurunkan kemampuan berpikir kritis manusia. Selain itu, informasi yang diberikan oleh AI tidak sepenuhnya bisa ditelan mentah-mentah begitu saja. Hal ini disebabkan karena sistem AI pun sangat rawan terjebak dengan apa yang dinamakan sebagai logical fallacy atau kesesatan berpikir dalam memproses informasi.
Salah satu kemampuan utama AI adalah meniru cara berpikir manusia, dan hal inilah yang justru dapat memicu terjadinya logical fallacy di tengah masyarakat. Logical fallacy atau kesalahan berpikir merupakan sebuah argumen yang sekilas terdengar benar dan sangat meyakinkan. Namun, apabila ditelaah dengan kritis, dapat dilihat bahwa argumen tersebut sebenarnya memiliki cacat logika sehingga kesimpulan yang dihasilkan menjadi tidak valid. Dalam interaksi manusia dengan teknologi cerdas, ada banyak bentuk dari logical fallacy yang dapat terjadi dalam penggunaan AI sehari-hari.
Pertama, mengenai anthropomorphism fallacy. Pernahkah kalian merasa sangat marah ke ponsel kalian sendiri karena sistemnya lambat seolah-olah ponsel itu punya perasaan? Nah, itulah yang disebut dengan antropomorfisme. Jadi, anthropomorphism fallacy merupakan kesesatan berpikir ketika kita salah mengira bahwa mesin ataupun program komputer itu punya perasaan selayaknya manusia, padahal sistem itu hanyalah barisan kode. Kalian pasti pernah menyanggah jawaban dari AI dan kemudian AI tersebut akan meminta maaf karena telah memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan yang kita mau. Kemudian, kita akan berpikir bahwa jika AI sudah meminta maaf, berarti dia merasa bersalah dan akan mengirimkan jawaban yang sesuai. Padahal, respon AI yang meminta maaf itu hanyalah sebuah prediksi algoritma bahwa kata-kata “Saya meminta maaf” adalah respon paling tepat untuk menenangkan penggunanya. Hal ini dikarenakan, mau bagaimanapun juga, AI tidak memiliki perasaan bersalah yang sesungguhnya.
Kedua, kalian pernah tidak merasa lebih yakin dengan jawaban dari AI ketika menanyakannya kepada model terbaru yang memiliki akses data lebih luas? Ternyata, kecenderungan tersebut termasuk ke dalam salah satu jenis logical fallacy, yaitu Appeal to Authority. Appeal to Authority merupakan kesesatan berpikir di mana seseorang menganggap sebuah pernyataan itu pasti benar ketika dinyatakan oleh pihak yang dianggap “ahli” atau “berwenang.” Dijelaskan dalam jurnal Nature Human Behaviour (2023) bahwa manusia cenderung lebih percaya dengan algoritma karena menganggapnya sebagai sumber data yang objektif. Konteks ini menjelaskan mengapa manusia sering tidak menggunakan pola pikir kritisnya ketika sedang berhadapan dengan output mesin seperti AI. Seperti pada contoh di awal paragraf ini, kita secara tidak sadar percaya dengan AI hanya karena AI memproses jutaan data, sehingga menyebabkan “otoritas” kebenarannya seolah-olah berada di atas logika manusia.
Ketiga, ada yang namanya bandwagon fallacy, yaitu kesesatan berpikir di mana suatu pernyataan dianggap benar ataupun baik hanya jika semua orang memercayai dan melakukannya. Mungkin sekilas fenomena ini mirip dengan Appeal to Authority. Bedanya, kalau bandwagon ini terjadi karena semua orang memercayainya, sedangkan Appeal to Authority terjadi ketika pernyataan dinyatakan oleh pihak yang dianggap “ahli.” Hal ini dapat menormalkan pelanggaran etika di lingkungan sosial. Contohnya adalah ketika sedang ada ujian dan sekelas menyontek dengan menggunakan bantuan AI. Secara etika, tentu saja itu perilaku yang salah, tapi karena dilakukan oleh satu kelas, maka muncullah yang namanya bandwagon. Pada akhirnya, mereka akan menormalkan hal itu karena dianggap semua orang melakukannya. Dengan mereka menganggap bahwa AI adalah penyelesaian dari semua masalah, hal ini membuktikan bahwa bandwagon dapat melumpuhkan integritas individu.
Keempat, jenis logical fallacy yang sering muncul selanjutnya adalah hasty generalization. Pernahkah kalian langsung mengambil sebuah kesimpulan secara instan? Contohnya adalah ketika kalian meminta tolong ke AI untuk membantu mengerjakan sebuah tugas analisis akademik, lalu setelah kalian periksa ternyata data penjelasannya keliru. Kalian pun mungkin langsung mengambil kesimpulan kalau AI itu tidak jago dan kalian langsung tidak percaya lagi kepada AI mana pun di dunia ini. Nah, ini adalah bentuk nyata dari hasty generalization. Jadi, hasty generalization adalah logical fallacy yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan secara umum berdasarkan satu atau dua contoh saja tanpa melakukan riset yang lebih dalam. Dalam contoh tadi, padahal bisa saja pada saat itu kalian sedang menggunakan model AI yang lama atau instruksi yang diberikan itu kurang spesifik. Dengan langsung menggeneralisasikan bahwa AI itu jelek hanya berdasarkan satu atau dua kegagalan, itu merupakan lompatan logika yang mengabaikan keragaman fungsi dan kemajuan perkembangan teknologi.
Penjelasan di atas merupakan beberapa jenis logical fallacy yang ada kaitannya dengan AI. Lalu, apakah itu artinya kita dilarang menggunakan AI? Tentu saja anggapan tersebut salah besar. Kita masih tetap diperbolehkan untuk menggunakan AI, hanya saja ketika menggunakannya jangan langsung menelan mentah-mentah informasi yang diberikan. Pastikan untuk tetap berpikir kritis dan skeptis secara positif di tengah maraknya kemajuan teknologi saat ini agar kita tidak kehilangan integritas dan ketelitian kita pada era yang serba kemudahan ini.
