Konten dari Pengguna
Sustainability atau Hanya Sekadar Lip Service?
11 Januari 2026 5:40 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Ferry Harahap tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Mengapa Banyak Perusahaan Gagal Mengimplementasikan Konsep Hijau Secara Nyata ?
ADVERTISEMENT
Di tengah tekanan yang semakin meningkat akibat krisis perubahan iklim global yang kini menjadi sorotan utama dunia, istilah “keberlanjutan” atau sustainability telah beranjak dari sekadar jargon pemasaran kosong menjadi fondasi strategis yang krusial bagi kelangsungan bisnis modern saat ini. Khususnya di Indonesia, transformasi paradigma ini didukung oleh regulasi yang semakin ketat, seperti POJK No. 51/2017, yang secara tegas mengharuskan setiap perusahaan publik untuk secara berkala menyusun dan menyampaikan Laporan Keberlanjutan sebagai bukti komitmen terhadap prinsip bisnis yang ramah lingkungan.
Namun demikian, di tengah semakin banyaknya laporan yang dipublikasikan secara formal, terdapat sebuah ironi yang patut kita garis bawahi—realitas di lapangan memperlihatkan bahwa tingkat degradasi lingkungan akibat aktivitas industri nyatanya belum menunjukkan penurunan yang berarti. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah mengapa berbagai kebijakan hijau yang tertulis secara rapi dalam dokumen-dokumen strategis perusahaan seringkali gagal diimplementasikan secara konkret dan konsisten dalam aktivitas operasional sehari-hari?
ADVERTISEMENT
Paradoks dalam Kesenjangan Implementasi Strategi Bisnis
Kegagalan ini sejatinya bukan semata-mata masalah teknis atau keterbatasan dana. Masalah pokok justru terletak pada bagaimana sumber daya manusia dan budaya organisasi dikelola serta dipraktikkan. Fenomena yang dikenal dengan istilah Institutional Decoupling menggambarkan situasi di mana kebijakan formal perusahaan berjalan terpisah dan tidak selaras dengan praktik nyata yang berlangsung di lapangan.
Berdasarkan hasil riset terbaru yang terindeks dalam Scopus untuk tahun 2024/2025, banyak perusahaan di negara berkembang memanfaatkan “struktur hijau” atau green framework lebih sebagai alat untuk memikat investor dan memuaskan regulator ketimbang sebagai komitmen nyata terhadap lingkungan. Di sisi lain, sistem evaluasi kinerja internal perusahaan tetap berfokus pada pencapaian target profitabilitas jangka pendek yang sangat agresif. Akibatnya, demi mempertahankan bonus dan posisi, karyawan cenderung memilih prioritas keuntungan finansial daripada berinvestasi dalam praktik ramah lingkungan yang mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk menunjukkan hasil.
ADVERTISEMENT
Peran Kunci Green Human Resource Management: Tiga Titik Kelemahan Utama
Salah satu faktor kegagalan terbesar terletak pada ketidakmampuan manajemen sumber daya manusia dalam mengadopsi dan mengintegrasikan prinsip-prinsip Green Human Resource Management (G-HRM) secara menyeluruh ke dalam budaya kerja perusahaan. Setidaknya terdapat tiga aspek penting yang sering kali diabaikan atau tidak dioptimalkan:
ADVERTISEMENT
Jebakan Greenwashing dan Ancaman di Masa Depan
Ketergantungan ekonomi Indonesia pada sektor-sektor ekstraktif, seperti pertambangan dan kehutanan, sering membuat pelaku bisnis memandang upaya menjaga lingkungan sebagai biaya tambahan (cost centre) yang memberatkan, bukan sebagai investasi jangka panjang yang mendatangkan nilai tambah berkelanjutan. Pandangan seperti ini membuka celah luas bagi praktik greenwashing, yaitu perusahaan lebih sibuk melakukan polesan citra dengan kampanye iklan dan branding daripada melakukan perbaikan mendasar pada sistem pengolahan limbah dan proses produksi yang ramah lingkungan.
Praktik greenwashing membawa risiko manajerial yang sangat serius dan berpotensi merusak reputasi. Generasi muda, khususnya Gen Z dan Milenial yang kini mendominasi tenaga kerja, secara umum memiliki tingkat kepekaan tinggi terhadap isu-isu etika dan keberlanjutan. Perusahaan yang gagal mengimplementasikan nilai-nilai keberlanjutan secara nyata dan konsisten akan kesulitan untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik yang sangat memprioritaskan integritas lingkungan dalam pilihan karier mereka.
ADVERTISEMENT
Kesimpulan: Menjaga Bisnis di Atas Dasar Planet yang Rentan
Mengabaikan prinsip keberlanjutan kini bukan hanya dianggap sebagai persoalan etika semata, melainkan sebuah keputusan bisnis yang tidak cerdas dan berisiko tinggi. Ancaman bencana alam yang semakin sering terjadi, kelangkaan bahan baku, hingga kebijakan pajak karbon internasional yang semakin ketat, semuanya dapat secara tiba-tiba menghentikan operasional bisnis tanpa peringatan.
Solusi yang harus diambil sangat jelas: keberlanjutan tidak boleh lagi dijadikan beban semata bagi divisi Corporate Social Responsibility (CSR). Lebih dari itu, nilai-nilai lingkungan harus diintegrasikan secara mendalam ke dalam seluruh siklus hidup karyawan—mulai dari proses rekrutmen, pelatihan, evaluasi kinerja, hingga sistem penghargaan yang memotivasi perubahan perilaku. Hanya dengan menjadikan setiap individu dalam organisasi sebagai “Agen Perubahan Hijau” yang sungguh-sungguh, perusahaan dapat memastikan bahwa praktik keberlanjutan tidak hanya menjadi retorika, melainkan menjadi tindakan nyata yang berdampak positif sekaligus menjaga kelestarian planet bagi generasi yang akan datang
ADVERTISEMENT
Bagaimana pandangan Anda? Apakah perusahaan tempat Anda bekerja sudah mampu mengimplementasikan nilai-nilai hijau secara nyata, ataukah masih terjebak dalam pola pelaporan administratif semata? Mari kita diskusikan lebih lanjut di kolom komentar.

