Opini & Cerita
·
23 Juni 2020 12:38

Ketika Jakarta Bukan Menjadi Ibu Kota

Konten ini diproduksi oleh Ferryal Abadi
Ketika Jakarta Bukan Menjadi Ibu Kota (72409)
Ilustrasi kota Jakarta. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Tanggal 22 Juni 2020 adalah hari ulang tahun DKI Jakarta ke-493. Hari ulang tahun yang sepi dari kemeriahan akibat wabah COVID-19. Berbagai acara rutin saat ulang tahun Jakarta ditiadakan seperti Pameran Pekan Raya Jakarta yang setiap tahun diadakan kini harus diundur ke bulan Desember.
ADVERTISEMENT
Pemerintah telah memutuskan untuk memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur tepatnya di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai. Dengan berbagai alasan dan pertimbangan yang matang tentunya pemerintah sudah melakukan kajian tentang pindahnya ibu kota. Sebenarnya ibu kota Republik Indonesia sudah pernah mengalami perpindahan pada tahun 1946 dari Jakarta ke Yogyakarta dan pada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pindah ke Sumatera Barat. Yogyakarta relatif lama menjadi ibu kota sebelum kembali ke Jakarta pada tahun 1950. Artinya dari sisi sejarah pemindahan ibu kota pernah kita lakukan dan pemindahan tersebut tidaklah menjadi masalah yang besar.
Beberapa negara juga banyak yang melakukan pemindahan ibu kota seperti Brazil dari Rio De Janeiro ke Brasillia, Nigeria dari Lagos Abuja, Australia dari Melbourne ke Canberra, Mnyanmar dari Yangoon ke Naypyidaw dan negara lainnya. Tentunya pemindahan ibu kota memerlukan waktu yang lama karena harus membangun insfrastruktur dan relokasi pegawai negeri sipil yang akan bekerja di kantor-kantor pemerintahan.
ADVERTISEMENT
Lalu bagaimana nasib Jakarta ?
Jakarta tetaplah menjadi kota yang ramai dan menjadi kota yang sangat diminati bagi banyak orang. Karena secara infrastruktur Jakarta merupakan kota paling lengkap dan maju di bandingkan kota-kota yang ada di Indonesia. Jakarta sudah menjadi kota Megapolitan sekelas kota besar Asia lainnya seperti Kuala Lumpur, Bangkok, Singapura bahkan Seoul dan Shanghai. Jakarta akan tetap menjadi kota bisnis, pendidikan dan kota wisata. Ribuan kantor pusat perusahaan nasional dan internasional ada di Jakarta, bursa efek dan bursa komoditas ada di Jakarta, ratusan sekolah setingkat perguruan tinggi terbaik di Indonesia ada di Jakarta dan pusat perbelanjaan modern serta tempat wisata ada di Jakarta. Jakarta adalah kota sejarah kemerdekaan karena kemerdekaan negara ini ada di Jakarta dengan momen pembacaan teks proklamasi di Jakarta. Jakarta akan tetap menjadi pusat Indonesia walau pusat pemerintahan pindah ke Kalimantan Timur.
ADVERTISEMENT
Pembangunan di Jakarta akan tetap berkelanjutan bahkan harus lebih baik setelah tidak menjadi ibu kota karena beban yang akan di tanggung sebagai kota sudah berkurang. Pembangunan sistem transportasi modern dan terpadu, penyediaan air bersih, pengolahan sampah dan lainnya tetap menjadi prioritas pembangunan Indonesia. Justru tantangan terbesar Jakarta ketika tidak menjadi ibu kota adalah kriminalitas yang tinggi. Sewaktu Jakarta menjadi ibu kota maka pihak kepolisian dan TNI mempunyai perhatian yang sangat tinggi. Markas Besar Kepolisian, TNI, kantor pemerintahan, kantor kedutaan besar dan rumah dinas pejabat tersebar di Jakarta sehingga pengamanan di daerah tersebut sangat tinggi. Efeknya daerah di sekitarnya ikut menjadi aman. Personel atau anggota pengamanan tempat-tempat penting akan berpindah ke ibukota baru sehingga personel atau anggota akan berkurang. Karena itu pemerintah Jakarta harus sudah mengantisipasi dari sekarang soal kriminalitas, saat ini saja ketika masih menjadi ibu kota krimininalitas sudah tinggi.
ADVERTISEMENT
Perubahan sistem pemerintahan dan politik Jakarta bisa menjadi tantangan berikutnya setelah kriminalitas. Apakah tetap di pertahankan dengan 5 Wali kota dan 1 Bupati di tunjuk oleh Gubernur serta tanpa DPRD Tk 2 dengan berubah status menjadi Daerah Istimewa atau akan menjadi seperti provinsi lainnya yang dapat dipilih langsung. Tentunya semua itu harus di kaji lebih dalam lagi oleh pemerintah, masyarakat Jakarta dan akademisi. Bagi masyarakat Jakarta berharap pindahnya ibu kota tidak akan merugikan masyarakat Jakarta justru bermanfaat bagi masyarakat Jakarta dari berbagai aspek.
Ferryal Abadi, Dosen Pascasarjana Kalbis Institute, Jakarta