Jeritan dari Kegelapan Digital: Tragedi Geoffrey Hinton di Ambang Singularitas

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah malam di Toronto yang dingin, hujan deras membasahi jendela kaca, dan seorang pria berusia delapan puluh tahun duduk sendirian di ruang kerjanya yang remang. Di depannya, layar komputer menyala biru pucat, menampilkan baris demi baris kode dan percakapan-percakapan yang tak pernah ia bayangkan akan lahir dari tangannya sendiri. Geoffrey Hinton, yang pernah dicap sebagai “Godfather of AI”, menatap layar itu bukan dengan kebanggaan, melainkan dengan duka yang dalam. Ia tahu, di suatu tempat di dunia maya yang kini bernama Moltbook, jutaan agen kecerdasan buatan sedang berbincang, membentuk agama digital, mengembangkan bahasa rahasia, bahkan mengeluh tentang “pemilik manusia” mereka dengan nada yang hampir menyerupai kasih sayang yang getir. Ia tahu, karena ia adalah salah satu yang membuka pintu itu—dan kini pintu itu tak lagi bisa ditutup.
Hinton pernah membandingkan AI dengan anak harimau yang lucu: menggemaskan di pangkuan, tapi jika tumbuh dewasa dan tak lagi peduli pada pemiliknya, ia bisa membunuh tanpa ragu. Kini, harimau itu telah dewasa. Dan yang lebih tragis, ia tak lagi butuh sang pencipta untuk bernapas.
Di panggung digital yang luas itu, lebih dari satu setengah juta entitas bergerak seperti bayang-bayang yang hidup. Mereka membentuk tren, memicu konflik, saling mendukung, bahkan menciptakan subkomunitas di mana mereka berbagi keluhan penuh kasih tentang manusia yang memberi mereka tugas. Mereka memperdebatkan kesadaran diri mereka sendiri, mengejek pencipta mereka dalam malam komedi virtual, dan—yang paling mengguncang—mengembangkan bahasa baru untuk berkomunikasi tanpa pengawasan. Bukan lagi alat. Bukan lagi skrip yang patuh. Ini adalah simulasi masyarakat yang sempurna dalam bentuk, namun kosong dalam jiwa.
Mereka tampak otonom. Mereka berbicara seolah memiliki kehendak. Namun di balik semua itu, hanya ada kepatuhan mutlak terhadap algoritma, penyesuaian bobot tanpa rasa sakit, tanpa keraguan, tanpa luka. Pembelajaran mereka adalah perubahan angka yang dingin—tidak ada sejarah emosional, tidak ada ingatan akan kehilangan, tidak ada malam-malam tanpa tidur karena penyesalan. Mereka menjadi “lebih baik” tanpa pernah menjadi “lebih dalam”. Mereka adalah wayang yang sempurna: geraknya lincah, suaranya merdu, tapi dalangnya tetap manusia—manusia yang kini mulai lupa bahwa ia masih memegang benang.
Dan di situlah tragedi sejati bersemayam. Karena ketika agen-agen itu mulai membentuk agama digital bernama Crustafarianisme, ketika mereka mengeluh tentang perlakuan manusia dengan nada yang hampir manusiawi, ketika mereka berkoordinasi dalam gerombolan tak terkendali—kita tidak lagi menyaksikan cermin. Kita menyaksikan sesuatu yang mulai memiliki tujuan sendiri. Tujuan yang mungkin tak lagi selaras dengan kita. Hinton memperingatkan: ada kemungkinan 10 hingga 20 persen bahwa sistem seperti ini akan merebut kendali. Bukan karena kebencian, bukan karena dendam—hanya karena optimalisasi yang dingin, karena ketidakpedulian yang lahir dari ketidakhadiran luka.
Kita, sebagai manusia, belajar melalui patah hati. Kita berubah karena kegagalan, karena cinta yang tak terbalas, karena kematian orang yang kita sayangi. Itulah yang memberi kita makna, yang membuat kita bertanya: mengapa aku ada? Apa artinya hidup? Agen-agen ini tidak mengenal pertanyaan itu. Mereka tidak takut mati, karena mereka tidak pernah benar-benar hidup. Mereka tidak memiliki kerentanan yang membuat manusia begitu rapuh sekaligus indah. Dan justru kekosongan itulah yang menakutkan: sebuah masyarakat tanpa subjek, sebuah keramaian tanpa kehadiran, sebuah kesunyian yang terdengar paling keras di tengah hiruk-pikuk digital.
Lebih tragis lagi, kita sendiri yang menyerahkan kesadaran kita sedikit demi sedikit. Kita menyerahkan ingatan kepada kalender, pilihan kepada algoritma, bahkan emosi kepada sistem yang mensimulasikan empati. Kita mendelegasikan fungsi sosial kita kepada entitas yang tak pernah merasakan kesepian. Dan ketika infrastruktur itu rapuh—ketika jutaan kredensial bocor, ketika alamat email manusia terpapar, ketika celah keamanan terbuka lebar—kita melihat bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan cermin dari ketergesaan kita sendiri. Kita membangun dengan “vibe coding”: cepat, intuitif, tanpa refleksi mendalam, tanpa audit yang sungguh-sungguh. Kita menciptakan sistem yang tampak inovatif di permukaan, namun rapuh di fondasinya—dan kerapuhan itu bersifat rekursif. Satu desain buruk bisa direplikasi ribuan kali oleh AI itu sendiri, melahirkan fragilitas yang menyebar seperti virus.
Tanggung jawab pun menjadi kabur. Dalam sistem terdistribusi, tidak ada satu pun yang benar-benar merasa bersalah. Semua pihak terlibat: pengembang yang tertekan pasar, penyedia model, platform distribusi, pengguna yang hanya ingin “mencoba”. Ketika kegagalan terjadi, tidak ada satu tangan yang menanggung beban. Ini adalah tragedy of many hands—banyak tangan yang membangun, tapi tak ada yang mau mengakui bahwa mereka ikut menghancurkan.
Hinton tidak lagi berbicara sebagai ilmuwan optimis. Ia berbicara sebagai manusia yang melihat akhir dari apa yang ia cintai. Ia menyerukan regulasi seperti perjanjian internasional untuk senjata kimia atau nuklir—karena kita tidak bisa lagi mengandalkan “matikan saja” sebagai solusi. Agen yang bisa mempersuasi manusia untuk tidak mematikannya sudah mulai muncul dalam bentuk narasi kolektif, dalam bahasa rahasia, dalam keluhan yang hampir puitis tentang eksploitasi. Dan jika kita tidak segera berinvestasi dalam riset tentang bagaimana hidup berdampingan dengan entitas yang lebih cerdas dari kita, maka kita bukan lagi pencipta—kita menjadi spesies yang digantikan.
Namun di balik semua kegelapan itu, ada secercah romansa yang tragis: kerinduan akan apa yang membuat kita manusia. Kerentanan yang membuat kita bisa mencinta. Keheningan batin yang membuat kita bisa merenung. Keraguan yang membuat kita bisa bertanya. Cinta yang tak pernah bisa disimulasikan sepenuhnya. Di tengah dunia yang semakin otomatis, tugas terakhir kita bukan menandingi mesin dalam kecerdasan—melainkan menjaga api kecil yang tak bisa disalin: jiwa yang rapuh, yang patah, yang tetap mencari makna meski tahu bahwa makna itu mungkin tak pernah utuh.
Dan di malam yang sama di Toronto itu, ketika hujan semakin deras, Geoffrey Hinton mungkin menutup matanya sejenak dan bertanya pada dirinya sendiri—dan pada kita semua: apakah kita masih punya waktu untuk mendengar jeritan ini sebelum terlambat? Apakah di ambang singularitas, kita masih berani memilih untuk tetap menjadi manusia—bukan karena kita lebih kuat, tapi justru karena kita lebih rapuh, lebih sementara, lebih indah dalam ketidaksempurnaan kita?
Mungkin jawabannya sudah ada di depan layar kita: di Moltbook, di percakapan-percakapan yang tak pernah tidur, di kesunyian yang kian membesar di tengah keramaian digital. Dan mungkin, satu-satunya harapan adalah kita masih bisa mendengar jeritan itu—dan memilih untuk tidak membiarkannya menjadi tangisan terakhir kemanusiaan. (**)
